Hidup dalam sebuah ruang yang penuh dengan struktur dan pemaknaan budaya, menciptakan dinamika yang menarik. Hal ini tampak pada bentuk perbedaan cara pandang, berbagai perwujudan nilai, ragam arah perubahan, bahkan konflik. Seperti yang terjadi dalam lingkungan dimana saya berinteraksi. Saya, adalah perempuan yang dibesarkan dalam masyarakat dengan paham teologi yang cukup kuat, meski saya tidak se-taat mereka. Dalam masyarakat ini, perempuan di konstruksikan sebagai sebuah aset, karena perannya sebagai sumber reproduksi. Prespektif seperti inilah, yang membuat budaya mempertahankan keutuhan perempuan, terus tertanam dan diwariskan. Keutuhan yang dimaksud di sini, ada pada nilai ke”perawan”an. Perempuan yang “baik”, hanya yang selaput daranyanya (mukosa) dirobek oleh alat kelamin suami yang sah menikahinya, secara agama. Nah, untuk membentengi perempuan agar selalu mengingat tradisi itu, maka perempuan hendaknya tidak berhubungan seksual sebelum menikah. Inilah yang disebut sebagai culture , sesuatu yang mengikat dimana secara khusus membentuk struktur relasi sosial, praktek sosial serta sistem-sistem simbolik dan mengikat secara kohesif atau kelompok identitas.
Sementara itu, konsep kebudayaan adalah sebuah konsep yang terus berkembang mengikuti perubahan sosial yang melingkupi seluruh aktivitas manusia. Hal ini berkaitan dengan pergeseran makna “perawan”. Seiring bergulirnya waktu, tradisi tersebut di atas ditanggapi modernisasi, dengan mengatakan bahwa “perawan”, bukan lagi unsur yang mutlak dalam memaknai perempuan yang “baik”. Tradisi mempersembahkan selaput dara pada “malam pertama” dianggap sebagai restu terhadap kuasa patriarkhi. Toh, tidak ada aturan untuk menjaga “keperjakaan”. Lagi pula perempuan yang tidak “perawan” “sebelum waktunya”, apapun sebabnya, tetap akan menerima stigma normatif. Perempuan, akhirnya membangun kesadaran, bahwa tubuhnya bebas menentukan objek interaksinya, termasuk memutuskan dengan siapa akan berhubungan seksual, baik masih “perawan” atau tidak. Dari sinilah kita melihat hubungan yang amat erat antara kebudayaan, sistem makna, dan implikasinya dalam sistem sosial. Oleh karena budaya memiliki kaitan yang erat dengan dimensi sosial dan kemanusiaan, maka pemaknaan budaya disini bukan lagi dimaknai sebagai suatu “artefak” melainkan juga merupakan suatu proses dan di dalamnya mampu menjelaskan arah perubahan sosial.
Konsep mengenai kebudayaan juga dimunculkan pada setting ruang dan waktu yang kemudian melahirkan pemaknaan yang berbeda mengenai esensi dan peran kebudayaan itu. Pemaknaan “perawan” yang liberal tersebut ditanggapi dengan rasionalitas yang memang selama ini belum muncul secara kritis. Budaya bebas tersebut dipahami sebagai budaya yang tidak menyertakan pertimbangan resiko.. Sebab penularan HIV/AIDS, IMS (Infeksi Menular Seksual), PMS (Penyakit Menular Seksual), diasumsikan sebagai implikasi kongkrit dari sek bebas (free seks). Tidak hanya berdampak pada idealisme normatif, yang terdiri dari benar atau salah saja.. Masyarakat, dimana saya termasuk di dalamnya, akhirnya menyepakati bahwa menjaga “ke”perawan”an” dan “keperjakaan” merupakan dua hal yang sama penting. Budaya semacam ini, dijadikan sebagai cerminan dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat (public health). Sehingga, secara kultural, pengendalian diri atas “aurat”-tubuh, menjadi tanggung jawab bersama, baik perempuan maupun laki-laki Sehingga interaksi yang dihadirkan dalam masayarakat adalah budaya yang diskursif dan transformatif bukan dominatif. Apabila penjelasan-penjelasan yang disajikan tersebut di atas, terus dipahami sebagai rasionalitas tindakan, maka makna budaya akan sampai pada suatu kesimpulan lesikal. Bahwa kata budaya, berakar pada dua kata yakni “budi dan daya”, dimana budi menunjukkan pada nalar (rasio) dan daya (bentuk).☺
Talking about sex and sexuality are the different case. People tend sex is a biology activity or used to mention a gender label. However, sexuality has more complex meaning, relates with how to express the feeling to the others through actions, such as touch, kiss, hug, coitus or the softer action like body language, dress code, and conversation performance.
Shortly, every society plays the strong role to shape sexual value and action, also in forming or hampering the development and expression of member sexual. For example, in the east country, especially Indonesia, conducts intercourse before married is a sin, but in west country, that is a common habit.
In the west culture, sexuality is a biological necessity that is not only restricted on normative dogma. Yet, it is also to consider the empirical experience that grows in the social interaction. As Yos’s story, Indonesian member who works in Amsterdam, that sex do not have to be conducted in marriage, like some stories of his colleagues in Amsterdam that have a daughter :
First colleague : I will be a grandmother. My daughter is 20 years old in pregnant condition. According to the plan, she doesn’t want to get married.
Second colleague : I was surprise this morning. Apparently, my daughter whose 16 years old had slept with her boyfriend, last night without informed me before.
Third colleague : my daughter whose 18 years old is still virgin and she never allows her boyfriend to come to our home (http://www.bebekrewel.com/holland-safe-koki).
Base on those, we can assume that the meaning of sexuality engages all sorts of dimension that link each other to form a comprehensive units. First, biology dimension, it is a dimension that relates with anatomy and functional of reproduction organ, included how to take care of the healthy and use it optimally. Second sociocultural dimension. It is a dimension seeing how sexuality appears in relation among the people, how someone adapts with role demand in the social environment, and how to socialize the sexuality function and role in the human life (Iwan Purnawan, S.Kep, Ns, 2006 : 2-4).
In the west culture, when children have been mature enough, they will be released by their parents to be independent. The ending of parents’ responsibility is equal with a new form of individual responsibility that has experienced a degradation period. Children are given a freedom to choose their life style. The process of true self-identity whether in production chema or reproduction is automatically handled by themselves. Start from determining he school, house, job until family are the personal decision that are done consciously. So, the cultural segregation happens when the freedom is mentioned as a part of life style that is focused on some aspects of independence, self confidence, relation efficiency and relation effectivity. Thus, in their sexual activity. The example is the tradition of the cultural circumcision. Even though, it still becomes a controversy in USA, but almost 80%, the neonates of men are circumcised by the hygienic reason or religious symbol and specific ethnic identity. It is also to women, in the some countries, circumcision for women is a physic symbol of their maturity, the social control symbol of their sexual happiness and reproduction. Whereas, the adolescents’ life in UK are independent, lack of family and religious influence, free to choose anything, liberal and moderate enough.
Based on the west culture reality, the focuses of sex are especially on sex education and safe sex. The ethic dimension that is used is a personal responsibility for a comfort, safety, and healthy. The norm restriction of sexual problem almost does not exist. Even though, based on the law, sex is allowed to be done in 18 years old, but not in the fact. According to the survey, adolescents have conducted the sex trial between 14 until 16 years old. So, most of them have done once, even the girl, that she can receive some contraception pills from doctor.
Sexuality also refers to the interactive design that is managed by sets of cultural equipments. It means that someone can not understand the sexual shape that is chosen suddenly, yet it internalizes from the socialization tie which is done before. A child tend to conduct everything that is ever thought by parents. The knowledge will be continued to the next generation and so on. In this context , Berger calls it as a system referred to the arrangement as a requirement in social life. Human is an instrument of objective social reality creation that is through externalization process as it influences to the internalization process. Externalization then expands the social rule institutionalization so that the structure is the continuous process. , not as an ending that has been complete. The other way, objective reality that is shaped by externalization will form the society again. As third element, it is internalization or individual socialization into objective social world. These three elements, such as internalization, externalization and objectification move each other, dialectically (Poloma, 2004: 302-303).
This is related with third dimension, , psychology dimension, sexuality consists of action that is learned since the beginning through the monitoring of parents’ behavior. Therefore, parents have significant influence for the children sexuality. It is often that the individual point of view as sexual human relates with the parents performance of their body within its action.
It is also linked with last dimension, ethic and religion dimension, sexuality engages with ethic and religion realization standard. If the created sexuality decision passes beyond the individual ethic border, it will emerge the internal conflicts, such as, feeling guilty, sinful, etc. The behavior spectrum about sexuality has distance, start from traditional perception (sex only in marriage) until the behavior that allows according to the person who chooses it.
In other word, sexuality is influenced by cultural norm and rule that determine whether the action can be accepted or not based on the original culture. So, globally, the various cultures cause the numerous variabilities in the sexuality norm that appear the big value and conviction spectrum. For example, the action that is permitted during in date, something that is considered to be pungent, sexuality action type, the rules that forbid sexual action or the norms that can determine someone whether it is possible to be married or not.
In the view of east culture, sex is a representation of central internal dimension. As in Java’s culture, sex is not only biological interaction but also a spiritual purpose. So, the summit of the dogma and sex interpretation are to know the humanity history and perfectible human life. Sex, lastly, refers to internal process in finding the meaning of long road to become a human until carry the self as a human (Suwardi Endraswara, 2006: 255). Firstly, there is a realization of feeling which a human in the men’s and women’s feeling. The feeling is so magnificent that every life road must be pure. The holy journey which is also pure causes us to have the ability to pass various prestige of life.
Therefore, for east culture, most of them admit that sexuality has a sacred value that must be proctected. The sexual activity is often interpreted as a meeting between different sex that are male and female to accept the reproduction process biologically. It will be an agreement, if it is done through marriage institution. So, the interpretation of sexuality tends to be embedded with term like ”taboo” that means it is not a good action to be said or to be expressed clearly. As Yos’ utterance below :
My parent is also understand, if I am a conventional person type. I can’t kiss my wife exaggeratedly that can be shown to many people. I will feel uncomfortable and uneasy when we take a bath together. To do sunbath is just a several period (http://www.bebekrewel.com, opcit)
Base on those analysis es, actually, west culture and east culture have the same perception that sexual is an important part of human civilization. It means, they will take care the sexual activity to be avoided from the risks. However, both of them also have the different behavior and process to interpret the plus values of sexual that is followed by the method of risk preventative.
West culture focuses on liberalism that sexual is an expression form even a subjective right that is chosen consciously. So, they prefer sex education and safe sex as efforts to press the risks, such as, socialization of contraception use to avoid the sexual infectious disease or to prevent unwanted pregnancy.
Whereas, in east culture, people claim the sexual on the sacred value as an effort to protect the sexual actors from the risks. They internalize the presses of culture to drive someone to do not assume that sexual is a common habit. Since, if sexual is done with everyone or in every time, it will appear a jealously, feeling guilty, feeling sinful, unclear status even disease. So, there are special qualifications to be followed, such as, the norms of right sexual expression, term of taboo or understanding of marriage to reach sexual legacy as the top feeling that is pure and meaningful.
aku menemukanmu di sela-sela nafas yang hampir tesengal. Suaramu yang menyapa terdengar samar bahkan hampir menghilang seiring sunyi yang tidak mau berhenti memacu tubuhku untuk turut serta menggigil.
"Jangan menyerah", telingaku hanya berhasil menangkap kata-kata itu atau mungkin aku hanya membaca gerak mulutmu.
Aku berupaya untuk menyahut. Namun hal itu sia-sia. Sebab hanya angin yang berhasil keluar tanpa gemuruh atau resonansi getaran yang bisa membuatmu mengerti. Aku ingin mengatakan bahwa terlampau sulit untukku memilih menyerah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum kau jawab. Pertemuan demi pertemuan itu selalu memberikan alasan untukku lebih banyak bermunajat denganmu. Aku tidak bisa menyerah. Aku masih ingin mencicipi seluruh duri dan madu di taman belukar emas itu, bersamamu. Namun, semakin aku berusaha untuk berucap, tubuhku semakin merasakan kesakitan yang luar biasa Tanpa sadar dan sungguh tanpa kuinginkan air mataku ikut menitik.
"Sudah..sudah..", samar-samar aku berhasil mengejamu dari gerak mulutmu. Sepertinya, aku tidak mampu lagi merengkuhmu dengan keutuhan kelima indraku.
Aku melihat lekuk-lekuk wajahmu yang menegang. Mungkin kau juga merasa kesakitan karena ketidakmampuanku menjawabmu. Sementara sebetulnya, kau juga mendamba aku untuk segera bicara setelah seminggu mengalami koma. Terbaring di tempat terkutuk berbau kreolin bercampur aroma obat suntik dan mungkin berbaur dengan macam-macam larutan ganja, nikotin, dan seterusnya.
Kini, aku berhasil lagi membuka mata. Aku ingin menyampaikan banyak hal. Aku ingin bersorak dan menarik tanganmu untuk menari bersama. Merayakan keberhasilanku bernegosisasi dengan maut. Karena seperti biasa kamu pasti akan mengucapkan "Great!" untuk setiap pencapaian-pencapaianku. Tapi sepertinya saat itu tidak sekarang. Sebab aku masih harus melawan rasa lemah yang ada. Aku mesti mendobrak berontaku untuk bisa lebih sabar menunggu seluruh indraku berfungsi kembali atau mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu lagi.
Aku memilih diam tanpa gumam. Kau pun menangkap itu dan membimbingku untuk memilih cara yang lain saja. Mengeratkan genggaman dan saling memandang dengan senyum. Biarkan hati saja yang berkelana menemui ujung-ujung makna.
Kenapa harus Jawa?
pertanyaan yang tiba-tiba muncul di lebaran kali ini. Karena saat pertemuan keluarga besar kemaren, tiba-tiba saja satu persatu mendatangiku dan mengatakan untuk mencari jodoh orang jawa saja. Ah, baiklah mungkin secara adat, budaya dan karakter aku bisa memahaminya mengapa mereka sampai keukeuh bicara seperti itu. Tapi apakah benar serepot itu? Berikut adalah diskusi atau lebih tepatnya wawancaraku dengan seorang wartawan..(mana ya??? ra dong), cuma kayanya liputannya pernah dimuat di citizen journalism-nya metro tv deh..
Desintha Dwi Asriani: mas
Desintha Dwi Asriani: aku mau nanya
Desintha Dwi Asriani: pernah denger ga, kalau orang jawa itu jangan sampai menikah dengan orang luar jawa?
Desintha Dwi Asriani: kenapa to alasannya?
sulistyawan jogja: gak
sulistyawan jogja: paling takut gak bisa bahasa jawa
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: hihihih
Desintha Dwi Asriani: sialan
sulistyawan jogja: lah ada po orang luar jawa tu?
sulistyawan jogja: wong luar jawa isine wong jawa kabeh
Desintha Dwi Asriani: ya maksudku tetep ada kan kebiasaan yang berbeda
Desintha Dwi Asriani: antara orang jawa dengan orang sumatra misalnya
sulistyawan jogja: orang sumatra sing endi?
sulistyawan jogja: orang sumatra sing trans yo tetetp ae kebiasane jawa
sulistyawan jogja: bahasane jawa
Desintha Dwi Asriani: ya, padang atau lampung misalnya
Desintha Dwi Asriani: yang sterotypenya orang sumatra itu keras
sulistyawan jogja: eiits...
Desintha Dwi Asriani: sementara orang jawa itu halus katanya
sulistyawan jogja: jangan salah lho..
sulistyawan jogja: orang lampung tuh isine wong jawa
sulistyawan jogja: bahasane jawa
Desintha Dwi Asriani: ya orang padang misalnya
Desintha Dwi Asriani: ya, lampung emang ga jelas daerahnya, semua campur disana
Desintha Dwi Asriani: kalau padang atau minang gimana?
sulistyawan jogja: jogja juga
sulistyawan jogja: emang kenapa tanya gtuan ?
Desintha Dwi Asriani: nanya aja
Desintha Dwi Asriani: kemaren pas lebaran
Desintha Dwi Asriani: keluargaku pada nasehatin aku gitu
Desintha Dwi Asriani: kalau cari jodoh jangan sama orang luar jawa
Desintha Dwi Asriani: yang jawa aja
sulistyawan jogja: emang pacar kamu orang mana?
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: yee malah nanya pacar
sulistyawan jogja: lho...kan itu yang mendasri nasehat
sulistyawan jogja: dari keluarga kamu
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: karena kamu akrab-nya si si poltak aja
sulistyawan jogja: maka ya keluarga takut
sulistyawan jogja: kamu jadi orang batak
sulistyawan jogja: kan orang batak gak bisa pesen baju lebaran
Desintha Dwi Asriani: maksudnya?
Desintha Dwi Asriani:
sulistyawan jogja: bisanya LEBAR-an
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: ga dong
Desintha Dwi Asriani: maksudnya gimana?
sulistyawan jogja: orang batak gak bisa pesen baju Lebaran..
sulistyawan jogja: bisanya pesen baju Lebar-an (kegedhean-)
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: huuuuuuuu
Desintha Dwi Asriani: dasar
sulistyawan jogja: wong pesennya yang lebar lebar
Desintha Dwi Asriani: serius ki
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: lah yao serius..
sulistyawan jogja: pacarmu cah mbatak po?
Desintha Dwi Asriani: eh kenapa si mas
Desintha Dwi Asriani: apa sebetulnya orang jawa itu punya sistem kasta,
Desintha Dwi Asriani: tapi ga terpublikasi layaknya batak dan bali?
sulistyawan jogja: he..he...
sulistyawan jogja: iki takone arep ngeyel po mergo ra ngerti?
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: nek mung arep ngeyel yo wis ngeyee ae
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: aku ga tau bener
Desintha Dwi Asriani: sumpah
Desintha Dwi Asriani: kenapa si mas?
sulistyawan jogja: oke gini
sulistyawan jogja: kamu sama ortu kamu bicara pakai bahasa jawa ngoko atau krama?
Desintha Dwi Asriani: ngoko
sulistyawan jogja: sama nenek?
sulistyawan jogja: sama tetangga?
Desintha Dwi Asriani: nenek dan tetangga ya kromo
sulistyawan jogja: pernah bertanya kenapa?
sulistyawan jogja: kok kamu menjalaninya juga?
Desintha Dwi Asriani: ya kan kulturnya gitu
Desintha Dwi Asriani: yang muda menghormati yang tua
sulistyawan jogja: yup
sulistyawan jogja: disitu kesimpulannya
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: wis faham?
Desintha Dwi Asriani: enggak
sulistyawan jogja: weleh...
Desintha Dwi Asriani: trus kenapa ga jawa mas?
Desintha Dwi Asriani: aku belum nyantol ki?
Desintha Dwi Asriani: hubungannya apa sama yang bukan jawa?
sulistyawan jogja: gini...
Desintha Dwi Asriani: emang yang bukan jawa itu ga hormat ya?
sulistyawan jogja: iki malah dadi pelajaran sosiologi
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: bahasa adalah bagian dari sebuah kultur budaya
Desintha Dwi Asriani: iya
Desintha Dwi Asriani: lalu
sulistyawan jogja: di jawa, sopan santun adalah bagian dari kultur yang maish dipegag teguh
Desintha Dwi Asriani: lalu
sulistyawan jogja: sebagai manifestasi harga diri seseorang
sulistyawan jogja: orang muda menghargai yang tua
sulistyawan jogja: lewat bahasa jromo
Desintha Dwi Asriani: trus
sulistyawan jogja: kondisi ini tiak mesti ada di beberapa suku diluar jawa
sulistyawan jogja: karena kultur mereka tiak menggangp penting
Desintha Dwi Asriani: lalu?
sulistyawan jogja: kultur jawa adalah kultur yang paling kompleks
sulistyawan jogja: jadi...banyak aturan yang harus ditaati
sulistyawan jogja: ttapi kaya filosofi
sulistyawan jogja: nh...
sulistyawan jogja: anyak hal yang ada dalam kultur jawa tetapi tidak ada di kultur orang luar jawa
Desintha Dwi Asriani: ummm
Desintha Dwi Asriani: trus
sulistyawan jogja: nah..
sulistyawan jogja: perkawinan antar kultur...
sulistyawan jogja: dikhawatirkan
sulistyawan jogja: akan adanya perbenturan
sulistyawan jogja: antar masing-masing
sulistyawan jogja: indiveidu
Desintha Dwi Asriani: sama dengan batak juga?
Desintha Dwi Asriani: mereka juga ada ordo2 tertentu bukan?
sulistyawan jogja: mungkin sama
Desintha Dwi Asriani: padang juga ada?
sulistyawan jogja: tetapi kan beda siffatnya dengan jawa
Desintha Dwi Asriani: iya si
sulistyawan jogja: setahuku orang batak tak mengenal perbedaan bahasa antar orang tua dengan orang muda
sulistyawan jogja: nah..
sulistyawan jogja: perjodohan...atau lebih khusus perkawinan
sulistyawan jogja: bukan sekedar persatuan dua indiviedu/pesonil
sulistyawan jogja: tetapi juga keluarga
sulistyawan jogja: kerabat
sulistyawan jogja: famili
sulistyawan jogja: jadi.......
sulistyawan jogja: butuh rasa toleransi luar biasa
sulistyawan jogja: antar famili dalam memahami perbedaan kultur
Desintha Dwi Asriani: ummm
sulistyawan jogja: orang sumatra mialnya
sulistyawan jogja: ada salah satu suku
sulistyawan jogja: yang mensaratkan agar sebelum jadi pengantin
sulistyawan jogja: sang calon, harus tinggal serumah dulu dengan calon pria
sulistyawan jogja: istilahnya... membaur
sulistyawan jogja: tetapi itu menjadi tidak biasa di jawa
sulistyawan jogja: padahal kebiasaan begini tak bisa disatukan
sulistyawan jogja: trus gimana?
sulistyawan jogja: susah to?
sulistyawan jogja: orang jawa khae=watir... saat membaur, ternyata cewek dikerjain
sulistyawan jogja: trus ditinggal
sulistyawan jogja: gak jadi diperistri
sulistyawan jogja: susah to?
Desintha Dwi Asriani: iya
sulistyawan jogja: nah....
sulistyawan jogja: timbang repot..
sulistyawan jogja: kakehan pikiran nantinya..
sulistyawan jogja: tya wis
sulistyawan jogja: golek ae
sulistyawan jogja: wong jawa
Desintha Dwi Asriani: eh mas
Desintha Dwi Asriani: tapi kenapa ya, mereka alasannya orang jawa itu halus dan yang bukan jawa itu kasar?
Desintha Dwi Asriani: apa perbedaan kultur itu berpengaruh juga pada karakter?
sulistyawan jogja: kebalik
Desintha Dwi Asriani: bukankah masing2 memiliki kompleksitas aturannya sendiri?
sulistyawan jogja: karakter itu yang membentuk kultur
sulistyawan jogja: kultur kan kebiaaan
sulistyawan jogja: kultur kan kebiasaan
Desintha Dwi Asriani: umm jadi karkater pesisir dan agraris itu yang membedakan dalam membentuk kebiasaan?
Desintha Dwi Asriani: tapi
Desintha Dwi Asriani: bisa aja kan, orang sumatra bilang orang jawa itu kasar?
Desintha Dwi Asriani: bukankah itu relatif?
sulistyawan jogja: nggak dong..
sulistyawan jogja: gampange le mikir gini
sulistyawan jogja: d sumatra...
sulistyawan jogja: atau tempay luar jawa..kalimantan misale
sulistyawan jogja: kondisi ekonomis dan geografis mereka tak seberuntung seperti di jawa
sulistyawan jogja: mereka harus berjuang agar mereka bisa bertahan hidup
sulistyawan jogja: yang deket hutan harus berburu
sulistyawan jogja: yang deket laut harus melawean ombak ganas
sulistyawan jogja: beda dengan orang jawa yang sangat agraris
sulistyawan jogja: hampir semuanya mereka dimanjakan alam
sulistyawan jogja: ini relatif membuat mereka bisa lebih sabar
sulistyawan jogja: karena tak terbiasa menjadi petarung
Desintha Dwi Asriani: iya si
sulistyawan jogja: nah..
sulistyawan jogja: karakter seorang petarung, perantau atau petualang
sulistyawan jogja: adalah karakter yang sangat keras
sulistyawan jogja: karena hanya dengan cara itu emreka hidup
Desintha Dwi Asriani: jadi sebetulnya yang perlu didamaikan itu budayanya atau pemahaman karakternya mas?
sulistyawan jogja: lho...
sulistyawan jogja: kok damai...
sulistyawan jogja: emangnya musuhan?
Desintha Dwi Asriani: maksudku
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: kalau misalnya kedua suku (jawa dan bukan jawa) itu disatukan
Desintha Dwi Asriani: misalnya itu mungkin
sulistyawan jogja: he..he...
Desintha Dwi Asriani: apa yang perlu didamaikan, karakternya atau budanya
Desintha Dwi Asriani: apa yang dikhawatirkan
Desintha Dwi Asriani: oleh orang jawa
Desintha Dwi Asriani: mereka khawatir tidak bisa didamaikan yang mananya?
sulistyawan jogja: gini lho..
sulistyawan jogja: kultur/kebiasaan kan bukan suatu hal yang salah
sulistyawan jogja: misalnya: kamu terbiasa makan dengan tangan kanan
sulistyawan jogja: sementara temenmu terbiasa makan dengan tangan kiri
sulistyawan jogja: apakah harus didamaikan ?
sulistyawan jogja: kan semua merasa mempunyai kenyamanan masing2
Desintha Dwi Asriani: bukan
Desintha Dwi Asriani: maksudku
Desintha Dwi Asriani: sebetulnya apa yang dikhawatirkan orang jawa?
Desintha Dwi Asriani: budanya atau karkater bawaan yang ga bisa disesuaikan?
sulistyawan jogja: ya kesulitan memahami karakter yang telah menjadi kultur
Desintha Dwi Asriani: suli menerima kebiasaan?
sulistyawan jogja: kultur/ budaya khan hubungannya tak lagi personal
Desintha Dwi Asriani: iya
sulistyawan jogja: misale : orang batak yang terbiasa bicara keras
sulistyawan jogja: sementara orang jawa terbiuasa biasa pelan
sulistyawan jogja: perlu ada toleransi budaya to?
sulistyawan jogja: lantas siapa yang harus mengalah ?
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: iya
sulistyawan jogja: orang jawa bicara aja perlu dua bahasa
sulistyawan jogja: kromod an ngoko
sulistyawan jogja: orang batak gak perlu
sulistyawan jogja: dia harus mampu bicara dua bahasa jika berkomuniasi dengan orang jawa
sulistyawan jogja: jika tidak.. khan jadi kurang ajar
sulistyawan jogja: masak ya saa embahne dia bilang...gundulmu mbah..
sulistyawan jogja: waaaaaaaaa
sulistyawan jogja: bisa perang bubat tuh
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: hahahahahaha
sulistyawan jogja: gitu lho...
Desintha Dwi Asriani: eh mas
Desintha Dwi Asriani: tapi kan kadang itu yang dipikirin para orang tua?
Desintha Dwi Asriani: kenapa gitu mereka berpikir sejauh itu
sulistyawan jogja: lho....
Desintha Dwi Asriani: bukankah meskipun perkawinan itu mengawinkan kluarga
Desintha Dwi Asriani: tapi tetep saja kan ukuran2 kenyamanan yang dua orang yang ngejalanin?
sulistyawan jogja: kenyamanan yang mana?
sulistyawan jogja: kamu nyaman juga kalau suamimu..nggundul2ke embah kamu gitu ?
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: ya misalnya kalau sama orang batak
Desintha Dwi Asriani: kan da tau kalau batak ngomong kasar itu ga memulu berarti kasar bagi mereka
Desintha Dwi Asriani: berarti kan ya fine2 aja to
Desintha Dwi Asriani: bisa dipahami kan
sulistyawan jogja: fine dalam ukuran kita
sulistyawan jogja: belu tentu dalam pemahaan orang tua
sulistyawan jogja: wis.. pikirane dibalik
sulistyawan jogja: kalau kita jadi orang tua
Desintha Dwi Asriani: nah tapi kan yang ngejalani bukan orang tua mas
Desintha Dwi Asriani: egois ya mikir gitu?
sulistyawan jogja: yup
sulistyawan jogja: wis.. pikirane dibalik
sulistyawan jogja: kalau kita jadi orang tua
sulistyawan jogja: tiba2
sulistyawan jogja: kita punya anak yang seperti yang berbuat gtitu sama orang tua
sulistyawan jogja: kita
sulistyawan jogja: tiba2 kita digundul2ke sama menantu kita
Desintha Dwi Asriani: hihihihihihi
sulistyawan jogja: gimana perasaan kamu?
Desintha Dwi Asriani: iya si
Desintha Dwi Asriani: terus gimana dunk mas?
Desintha Dwi Asriani: cari yang jawa aja gitu/
sulistyawan jogja: lah ya gak gimana2
sulistyawan jogja: sebaiknya
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: nek ra pengen repot
sulistyawan jogja: gitu lho..
Desintha Dwi Asriani: masa si serepot itu?
Desintha Dwi Asriani: apa bakal separah itu?
sulistyawan jogja: yo dicobaja dulu
sulistyawan jogja: kira repot gak?
Desintha Dwi Asriani: dicoba gimana?
sulistyawan jogja: ya pacaran sama orang batak
sulistyawan jogja: atau orang apalah gtu
Desintha Dwi Asriani: umm mas
sulistyawan jogja: kira2 repot gak gtu lho..
sulistyawan jogja: emang orang jawa gak ada yang cakep po? sampai harus milih orang luar jawa
Desintha Dwi Asriani: hahahaha
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: setahuku...
sulistyawan jogja: orang luar jawa yang cakep cuma orang timor leste keturunan portugis
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: selebihnya mending orang jawa
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: apanya yang mending?
sulistyawan jogja: tapi itu aku lho...
sulistyawan jogja: ya segalanya
Desintha Dwi Asriani: ya kalau perempuannya si emang mending jawa banget
Desintha Dwi Asriani: kalau lakinya?
sulistyawan jogja: sama juga
Desintha Dwi Asriani: hahaha
sulistyawan jogja: lha ya gak tahu nek kamu seleranya orang irian, atau maluku yang kritig2 gtu
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: hahhahaha
Desintha Dwi Asriani: eh tapi mas
sulistyawan jogja: kau survei aja deh
Desintha Dwi Asriani: apakah setiap orang jawa itu pasti memiliki pemhaman jawa?
sulistyawan jogja: nggak
Desintha Dwi Asriani: lalu?
sulistyawan jogja: tergantung dimana mereka tinggal
sulistyawan jogja: tetapi...ada satu hal.. yang akan membuat mereka gampang memahami
Desintha Dwi Asriani: apa/.
sulistyawan jogja: kulyur jkawa
sulistyawan jogja: ikatan darah
Desintha Dwi Asriani: maksudnya?
sulistyawan jogja: ikatan darah akan mampu membangkitkan pemahaman kejawaan seseorang
Desintha Dwi Asriani: ikatan darah itu yang seperti apa
sulistyawan jogja: meski sebelumnya mereka kurang jawa
sulistyawan jogja: ya...kesadaran bahwa orang itu keturunan adari orang jawa
sulistyawan jogja: jadi saat diberikan pemahanam kejawaan
sulistyawan jogja: karakter yang mengalir dalam setiap tetes darah itu yang akan bereaksi
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: kan garus darah gak biasa diralat
sulistyawan jogja:
Desintha Dwi Asriani: oh gitu ya
sulistyawan jogja: yup
Desintha Dwi Asriani: umm
Desintha Dwi Asriani: tapi apakah kebiasaan itu ga bisa dipelajari mas?
Desintha Dwi Asriani: serepot itulah mempelajari kebiasaan pasangan kita yang beda kultur?
sulistyawan jogja: kita secara indiveidu mungkin gak terlalu sulit
sulistyawan jogja: tetapi masyarakat ?
sulistyawan jogja: apakah sama juga dengan kita?
Desintha Dwi Asriani: oh tuhan
Desintha Dwi Asriani: begitu kah
sulistyawan jogja: lah kamu nikah mau hidup sendiri atau bermayarakat juga?
Desintha Dwi Asriani: iya
sulistyawan jogja: bisa kah kita terima ketika tiba2 suami kita bicara kasar sama lurah kita, rw kita
sulistyawan jogja: rt kita?
Desintha Dwi Asriani: aku lupa, ini indonesia
sulistyawan jogja: makanya...
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: karena ketidak tahuan suami kita...
sulistyawan jogja: tiba2 suami /istri kita bilang....wehhh. pak lurah,,ngopo petahilan neng kono...
sulistyawan jogja:
sulistyawan jogja: piye rasa kita?
Desintha Dwi Asriani: iya
Desintha Dwi Asriani: aku paham sekarang
Desintha Dwi Asriani: makasi ya
sulistyawan jogja: jadi...
sulistyawan jogja: biarlah suku berkembang atas dasat suku mereka
sulistyawan jogja: kita erkembang dengan suku kita
sulistyawan jogja: yang penting..
sulistyawan jogja: antar suku saling jaga toleransi
sulistyawan jogja: kerukunan
sulistyawan jogja: untuk tidak saling mengganggu
sulistyawan jogja: dan keterbastasan komunikasi itu
Desintha Dwi Asriani: iya
sulistyawan jogja: kemudian dijembatani dengan bahasa indonesia
sulistyawan jogja: gtu
sulistyawan jogja: mulane..
Desintha Dwi Asriani: kayak sumpah pemuda ye
sulistyawan jogja: kalau kamu suatu saat menikah
sulistyawan jogja: tetep ajarkan kultur jawa
sulistyawan jogja: dalam keluarga
Desintha Dwi Asriani: iya lah
Desintha Dwi Asriani: pasti itu
sulistyawan jogja: karena memang itu jaya dengan filosofi
sulistyawan jogja: kalau orang tua harus kita panggil dengan bahasa jawa kromo
sulistyawan jogja: rasanya bukan tidak demokratis
sulistyawan jogja: karena kita memang berutang jasa
sulistyawan jogja: yang tak terbalas
sulistyawan jogja: yang tak mungkin dapat terbalas
sulistyawan jogja: bahasa jawa kita pakai sebagai bahasa penghormat
sulistyawan jogja: selaku anak muda
sulistyawan jogja: toh.. itu juga yang akan diberikan anak kita
sulistyawan jogja: jika kita tua nantinya
sulistyawan jogja: gitu lho...
Desintha Dwi Asriani: oke deh
Desintha Dwi Asriani: makasi ya..
.
Sudah sejak lama sebetulnya merasakan kegelisahan atas apa yang dilihat, dirasakan, mungkin juga dilakukan. Beberapa kali menengok blog teman (mungkin terlalu sering, jadi tidak menulis di blog sendiri), cukup membuatku terusik. Dua kali tema perselingkuhan ditulis berikut analisis yang sangat lembut sehigga mampu menusuk hingga ke rusuk. Pertama, dia menuliskan tentang alasan perempuan bersedia menjadi patner berselingkuh laki-laki beristri. Disebutkan, bahwa perempuan cenderung menikmati sebuah rasa atau sensasi. Emosi yang dipermainkan menjadi sebuah candu yang selalu dinanti sekaligus dibenci. Berdalih dengan rasa cinta, kesabaran, dan mungkin juga pengorbanan perempuan-perempuan tersebut membangun istananya untuk bersembunyi agar tetap mampu bertahan untuk setia ‘digombali’. Namun jika ditinggal, dia akan meraung-raung minta keadilan. Sekilas tampak begitu menggemaskan dan menyedihkan. Lagi-lagi bias gender yang sudah berabd umurnya tetap dapat dijadikan kambing hitam. Perempuan cenderung mengalami subordinasi yang dimanfaatkan, baik dari segi ekonomi, mental, politik, dan seterusnya.
Kedua, dalam blog itu berkisah mengenai motif para suami untuk berselingkuh. Diawali dengan penjelasan teoritis bahwa laki-laki adalah seonggok bayi yang tidak pernah dewasa. Sehingga kesehariannya hanyalah bermain-main. Kecenderungan ini juga dilandasi atau didukung oleh budaya patriarkhi yang selalu memanjakan laki-laki daripada perempuan. Sehingga kedewasaan yang dibuktikan melalui ketahanan-ketahanan mengahadapi cobaan hidup selalu mampu dilewati dengan lebih baik oleh perempuan daripada laki-laki. Maka bisa jadi ketika laki-laki tertekan karena tidak sanggup memenuhi standar sebagai figur nomer satu dalam keluarga, dirinya juga tidak tahan terhadap godaan untuk melarikan diri dari beban-beban tersebut dengan berselingkuh. Seperti halnya anak-anak, merasa bosan dengan mainannya, maka dirinya akan beralih sejenak pada mainan yang lainnya tanpa berpikir masing-masing harus benar-benar diselesaikan. Jenuh dengan keseharian istrinya maka beralih sejenak pada perempuan baru.
Menarik memang. Sebab jika dikaitkan dengan yang pertama, sekilas tampak terjadi paradoks. Perempuan bersedia di-selingkuh-i karena dia sungguh menikmati ketidakstabilan adrenalin yang mungkin mengasikkan. Tapi, di cerita yang kedua, disebutkan bahwa perempuan sebetulnya lebih mampu menanggung resiko jika dibandingan laki-laki karena daya tahannya menghadapi dinamika hidup. Hanya saja (seperti yang juga sempat diceritakan) tak jarang perempuan yang menjadi patner berselingkuh akhirnya juga ‘termehek-mehek’ ketika dirinya sadar bahwa tak juga cukup beralasan untuk diperjuangkan. Dengan kata lain, laki-laki memilih kembali ke wilayah amannya, yakni istrinya daripada kepada selingkuhannya. Alasannya bisa bervariasi, bisa karena takut kehilangan status PNS-nya, kehormatan keluarga besar, ekonomi yang pas-pasan, atau yang lebih melankolis adalah alasan anak. Sementara perempuan-perempuan subjek perselingkuhan tadi, hanya diam sambil tidak berhenti menggurutu atau menangis. Tidak jelas memang. Namun seharusnya, jika perempuan dikatakan memiliki kemampuan menghitung resiko dengan lebih cermat daripada laki-laki, tak seharusnya dirinya seolah-olah merasa juga korban dari pilihan sikap yang beresiko. Sebab pilihan untuk menjalani hubungan dengan suami orang tentu telah disadari bahwa dirinya akan membentur berbagai macam bentuk struktur sosial yang sudah teratur dalam ritmenya sendiri, baik itu dalam bentukan budaya maupun secara hukum. Seperti di Indonesia perempuan akan cenderung menjadi pihak yang salah dan kalah. Masyarakat lebih sering akan menyebutnya ‘pengganggu rumah tangga orang’. Sementara hukum akan tetap mengganggap wajar laki-laki berselingkuh, sebab asasnya memang laki-laki dilegalkan berpoligami. Jadi tidak ada ruang bagi perempuan untuk memperjuangkan ketidakadilan dalam perselingkuhan.
Berlandaskan pertimbangan-pertimbangan yang cukup mudah tersebut, perempuan yang ditasbihkan sebagai makhluk dewasa pasti akan mengkomunikasikan logika-logika yang bernilai resiko tersebut pada pasangan selingkuhannya. Setidaknya, jika pasangannya mengetahui nilai-nilai resiko yang sedang dipikirkan, hal ini dapat dijadikan sebagai bagian dari upaya mengurangi resiko. Misalnya, ketika perempuan mengatakan tentang keinginannya untuk dinikahi (karena merasa sudah berkorban dan cinta setengah mati), kemungkinan ketahuan istrinya, teman kantor, atau malah bos sendiri dan seterusnya.
Sementara laki-laki, jika dikaitkan dengan teori mars dan venus, mereka disebutkan sebagai kelompok jenis kelamin yang lebih banyak mengandalkan rasionalnya daripada perempuan yang cenderung mengangungkan irama emosinya,. Artinya, jika rasioanal itu benar dimainkan, maka segala bentuk permainan yang akan membentur struktur dan kultur yang terlihat, terdengar, terasakan, dan tersentuh tersebut, dapat dipikirkan sebelumnya maupun sesudahnya. Laki-laki dengan daya rasionalnya, seharunya juga mampu menangkap dengan baik., logika-logika resiko yang disampaikan. Setidaknya dirinya akan mulai berpikir tentang apa yang akan dilakukanya jika, istrinya mengetahui dan meminta perceraian, bagaimana reaksi keluarga besar jika dirinya terpergok berselingkuh, bagaimana nasib dan pemenuhan hak anaknya jika orangtuanya tak lagi harmonis, bagaimana dirinya mendamaikan kultur orang-orang disekitarnya jika dirinya memilih menikahi selingkuhannya, bagaimana menghadapi cemooh orang, dan seterusnya. Dialog-dialog semacam itu, tentu akan menjadi bagian yang bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki pengalaman dalam berpikir sebagai langkah terpendek, jika nurani sedang mengalami ketumpulan. Sehingga, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat tumbuh menjadi manusia yang dewasa, tidak gegabah, dan hanya mengejar kenikmantan semata.
Akhirnya (atau terlalu singkat untuk mengatakan akhir?). sulit untuk menemukan alasan apapun, baik laki-laki maupun perempuan untuk melakukan perselingkuhan. Sebab seluruh keseimbangan baik secara individu dan sosial yang minimal mampu dijelaskan dengan rasional, logis dan sistematis saja akan terganggu bahkan hancur tak bersisa. Jika sudah demikian, apa lagi yang mampu dijadikan mesiu untuk meraih kebaikan sebagai hakekat manusia dalam berelasi?
Terima Kasih Sigi, atas catatan-catatannya, yang membuatku berharap semoga kamu menjadi bagianku yang baik hingga terbaik...
Banyak cara untuk melihat sesuatu. Banyak hal untuk menafsirkan fenomena. Namun tidak banyak yang mampu bertindak bijaksana dalam menyikapinya. Akhirnya, yang terjadi justru eksploitasi, dominasi dan manipulasi lainnya.
Kehadiran diri, sebagai manusia di tengah masyarkat, wajar jika selalu mengalami kebingungan. Kenyataan yang terangkum dalam peristiwa dan kejadian tidak pernah surut keberadaannya. Tidak hanya hal yang baik secara konstruktif, tapi juga yang dianggap menyimpang secara kultural. Kesemua ini, tentu akan terus bergulir seiring dengan persepsi yang muncul. Persepsi, tentu juga disertakan argumen yang sama gamblangnya Inilah yang akhirnya membuat otak kita kacau, jika tidak boleh disebut mengalami kebuntuan. Prinsip-prinsip “normatif” tergoyangkan begitu hebatnya, bahkan cukup mengombang-ambingkan keyakinan kita. Apakah akan bertahan dengan peranan sebagai individu tunggal, yang dengan bebas mengekspresikan kuasanya, ataukah, melangkah saja di titik aman, dengan mengamini segala struktur normatif. Terkotak-kotak pada kategoris biner-benar dan salah-selesai. Masalah orientasi seksua
l misalnya.
Fenomena yang ada semakin beragam. Heteroseksual, homosesual, lesbian, binan, maupun biseksual. Otak kita bekerja seringkali terjebak pada pilihan-pilihan untuk mengamini atau, sekadar menolaknya mentah-mentah. Ya atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk. Itulah kebiasaan cara berfikir yang hitam putih, terus-menerus tereproduksi untuk memahami realitas. Sementara, keberagaman, dalam bentuk apapun tidak pernah terpangkas pertumbuhannya. Justru, nampak semakin subur, berkembang melintasi struktur. Tidak jarang juga memiliki daya pikat. Apakah ini masuk menjadi bagian sebagai cara yang solutif, ataukah malah membingungkan? Keberagaman, tentu akan bermakna jikalau dipahami secara kritis.
Perempuan itu kembali datang kerumah. Ya, seperti biasanya, dia akan mengambil bagian dari pekerjaan yang telah disepakati. Meskipun tidak setiap hari, tapi kehadirannya dua atau tiga hari sekali cukup membantu kami untuk bisa menikmati suasana rumah yang bersih dan rapi. Seperti biasa, dia menaikki tangga untuk berada di meja kerja di lantai dua rumah kami. Termasuk orang yang pendiam, dia hanya menyapa dengan senyum saat berpapasan denganku yang sedang menuruni tangga.
”Hai mbak Ana”, sapaku pada perempuan cantik berdarah Lampung ini.
Setelah itu, aku kembali ke kamar dan menyanding beberapa novel yang terbeli tapi belum sempat terbaca. Mbak Ana pasti sedang asik membuat baju-baju menjadi licin, terlipat rapi, menyempurnakan kebersihannya. 1 jam, 2 jam, ah ya, tepat di durasi jam yang ke 3, terdengar langkah Mbak Ana menuruni tangga dan membawa setumpuk baju yang siap di tata di lemari. Kami menyukai ketulusannya bekerja. Tampak dari lipatan baju yang selalu dia susun sesuai dengan garis jahitan. Oleh karena itulah, kami sangat menghargainya. Memberikan jam kerja yang dia suka, boleh memilih pagi atau saat siang menjelang sore. Dia bisa datang kerumah, mengambil porsi kerjanya tanpa mengganggu kepentingannya yang lain juga tanpa mengusik waktu istirahatnya saat lelah.
Setiap kali selesai menyelesaikan pekerjaan, biasanya dia langsung berpamitan untuk pulang. ”iya, terima kasih ya mbak” begitu biasanya aku mengiyakan pamitnya. Tapi sore ini tidak begitu. Dia diminta ibu untuk membantu menyiapkan acara arisan yang akan diadakan besok. Aku pun tak ketinggalan didaulat untuk membersihkan beberapa alat makan. ”Pfff, waktu membaca novel menjadi tertunda lagi”, keluhku dalam hati. Tapi tak apalah, karena aku selalu mencintai kebersamaan dengan ibuku, entah apapun itu bentuknya. Maka terjadilah kerja bakti beberapa perempuan sore itu.
”Suamimu tidak pulang lagi, Na?” ibu mengawali pembicaraan. Seketika aku memperkirakan bahwa ini akan menjadi perbincangan yang menarik, jadi kuputuskan untuk mencuri dengar.
”Iya bu, ga pulang lagi. Biasa, menemui perempuan itu lagi”, begitu tenang Mbak Ana menjawabnya. Aku masih menyimak.
”Ya sudahlah, Na ga usah dipedulikan. Diamkan saja daripada ribut-ribut, ntar suamimu malah jadi senang karena merasa diperebutkan”. Loh..loh ibuku kok jadi menyuruh diam. Ada kata-kata ”diperebutkan” pula. Jadi ada persaingan. Siapa yang bersaing? Tungggu, tadi mbak Ana juga menyebutkan tentang ”perempuan lain” yang menyebabkan suaminya tidak pulang. Kalau misalnya, perempuan itu istri sah alias ada poligami yang disepakati bersama, maka tidak seharusnya mbak Ana risau dan ketenangannya menjawab dapat memperlihatkan hal itu. Tapi ibuku justru mengungkapkan resistensinya. Apakah perempuan lain yang dimaksud, dalam kacamata ibuku adalah bagian dari perselingkuhan? Ah....
”Aku pernah bilang kok bu, kalau memang mas Joko ingin terus-terusan sama perempuan itu, ya ceraikan saja aku,” Oh, jadi benar, ada perselingkuhan disini. Mas Joko suami mbak Ana ternyata tidak pulang karena tidur dirumah perempuan lain itu. Seketika aku mengumpat dalam hati!
”Nah, lalu apa kata suamimu?” lanjut ibuku.
”Ya, dia bilang dengan entengnya kalau ga mau bu. Alasannya karena ga mau memilih dan suka dua-duanya,” nada mbak Ana tampak meninggi. Huh, keserakahan cenderung menimbulkan kepedihan bagi perempuan. Aku sedih dan marah.
”Heh, kurangajar betul suamimu itu ya! Lalu bagaimana, Na?” aku masih diam mendengarkan dan adrenalin ibuku sudah mulai terkoyak.
”Ya mbuhlah, bu. Aku juga tidak tahu. Dilajutkan ribut juga ga memberikan aku keuntungan apa-apa. Toh, dia ga menafkahi pun, aku dan anakku juga ga kekuarangan, ” ih, apa se maunya laki-laki ini. Berpisah tidak mau, bertanggungjawab sebagai bagian dari komitmen yang pernah diikrarkan pun enggan. Kupikir ini bisa disebut dengan kekerasan!
”Ya dah, tinggal pergi saja suamimu itu. Tidak usah diajak bicara lagi. Diurus aja perceraianmu,” ibuku mulai berubah pikiran. Tidak menyuruh mbak Ana diam tapi memprovokasi mbak Ana untuk menggugat.
Masih setia menjadi pendengar, kepalaku mulai bergerak menyusun strategi. Menurutku mbak Ana adalah korban dan harus didampingi untuk memperjuangkan hak nya sebagai istri dan perempuan. Maka kalau diminta membantu aku akan memulai dengan mengarahkan mbak Ana (korban) untuk bersama-sama memetakan masalah mulai dari bagaimana hubungannya dengan suaminya, kemunculan perempuan lain, kondisi psikologis yang terjadi hingga wacana Undang-undang sebagai basis untuk mengadvokasi kasus ini. Lalu mengklarifkasi beberapa temuan masalah seperti penolakan suami untuk bercerai, tidak memberi nafkah, dan beberapa ketidakadilan yang dialami. Dilanjutkan dengan ekplorasi detail yang bisa dijadikan solusi lalu membuat beberapa alternatif keputusan. Tentu saja keputsan untuk bercerai! Pilihan akan merujuk mengenai beberapa langkah yang diinginkan agar perceraian merupakan pilihan yang rasional dan memudahkan.
”Ah ya bu. Saya sekarang senang bisa membelikan buku-buku dan baju baru buat Vika. Mas Joko biar mengurus dirinya sendiri. Sekarang saya mau bekerja untuk Vika. Dia kemaren dapat juara kelas lagi dan saya mau dia seperti itu selalu, ” ungkapan mbak Ana seperti tidak selaras dengan pernyataan ibuku. Hal ini sedetik menghentikan urutan-urutan logika yang kususun untuk membebaskannya tadi. Aku terhentak, karena sepertinya ada yang keliru dari analisaku. Aku curiga kalau aku salah kalau ternyata perceraian bukanlah hal utama yang diinginkannya saat ini.
Mbak Ana tidak menyepakati gagasan maupun menolak gagasan ibuku untuk bercerai. Awalnya memang keinginan itu pernah diberitakan. Namun kemudian hal itu bergerser. Dia lebih menginginkan untuk menjadi mandiri dan bekerja agar kehidupan dengan anaknya bahagia berkecukupan. Dia ingin menjadi ibu yang sempurna. Ada ataupun tidak ada suaminya, itu tidak menjadi soal baginya. Sebab kehadiran suaminya tidak juga memberikan jawaban atas pilihan cita-cita keperempuanannya sebagai ibu. Mungkin dia telah melakukan penelusuran atas semua ini.
Tanpa suami yang menafkahi lahir dan batin, dia mampu menjadi mandiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya. Tanpa ”patuh” menjaga peran tunggalnya sebagai perempuan domestik, mbak Ana justru menemukan keunggulannya sebagai ibu yang mengasihi sekaligus mencukupi secara materiil. Tanpa harus mengeluhkan suaminya yang memeluk perempuan lain, dia justru mencapai makna cinta yang sesungguhnya dengan mendampingi putrinya yang berprestasi. Maka, tanpa memandang formalitas pernikahan sebagai perdebatan yang biasanya dipentaskan di pengadilan agama, dia pun sudah sanggup menyusun strategi untuk memperjuangkan haknya. Mbak Ana seperti telah menemukan jalan untuk meraih identitasnya sendiri. Tanpa harus mengukur dengan segala macam tetek-bengek pasal yang dimuat dalam Undang-undang. Bahwa perempuan itu adalah ibu rumah tangga dan suami adalah pencari nafkah. Jika tidak membentuk formulasi ini, maka tidak ideal dan perempuan layak untuk meratapi nasib.
Mbak Ana mampu bangkit! Bersedia berdamai dengan situasi hingga membentuk pola hidupnya yang berdaya. Mungkin benar apa yang pernah disampaikan oleh seorang teman, bahwa memilih itu bukan karena rasa takut tapi karena memiliki suatu tujuan yang besar. Pilihan mbak Ana untuk kerja keras daripada bercerai secepatnya bahkan tidak akan bercerai (dalam artian formal) sepertinya memang bukan karena rasa takut atau kekhawatiran atas apapun yang melingkarinya. Namun lebih karena sadar akan tujuan besar yang didefinisikan oleh dia sendiri. Kebahagiaan
sebagai perempuan telah lahir dari imajinasi dan nuraninya sendiri sebagai subjek. Tanpa perlu ada ukuran-ukuran lain yang mengintervensi untuk dibandingkan. Termasuk intepretasiku tentang ”korban” yang sempat bersarang dalam rasionalitasku tadi. Ah, aku tersenyum sekarang....
on Kenapa Harus Jawa???