mahalnya beli DVD (2 keping)game The Sims Rp 70 ribu...
Ga jadi beli...mending duitnya buat ke salon ja...
Wuiii...padahal itu game keren abis....bisa dua hari dua malem maen gituan..hiks..hiks...
Disorientasi....disorientasi....disorientasi.....
Konsentrasiku terpecah ketika aku harus melakukan minimal 3 hal dalam satu waktu. Pertama, aku harus selesai membuat soal-soal untuk try out bulan ini, kedua, aku harus mencari biaya perawatan adikku di RS, dan ketiga, tiba tiba saja mas-ku membombardirku dengan berbagai pertanyaan yang sungguh memojokkanku dengan kata-kata, "Seharusnya!"
Seharusnya aku sudah pindah KTP Jakarta
Seharusnya aku sudah mengambil tes TOEFL dari dulu
Seharusnya aku ikut CPNS DKI kemarin
Seharusnya semuanya sudah harus kulakukan satu tahun yang lalu..........Bwaaaaaaaaaaaa......
Kuubah design fox-ku...berhubung sekarang musim dingin dan bawaannya lapeeerrrr melulu...jadi, design kali ini bikin nafsu makanku bertambah!!
NB: program setiap hari: Naikin berat badan!
ONCE upon a time, a lion, a fox, a donkey set off a day's hunting. The made an agreement to have an equal share of what was caught. After a time, they were able to kill a fat buck. The lion asked the donkey to divide the prize. The obliging donkey cut up the buck into three equal parts then invited the lion to take his choice.
This made the lion so furious and killed the donkey with his powerful blow. Then the lion told the fox to divide the meat. The fox was cunning. He put a side a big heap to the lion's share, and kept only a small piece for himself.
On seeing this, the lion looked very pleased and said " Master fox, this needs the most satisfactory divisor. Who taught you to be so clever?"
"The dead donkey as been my teacher," replied the fox, "From his foolish conduct I have learned to be wise."
(PRIMAGAMA, Paket Pengayaan Smart-1 Bahasa Inggris 9 SMP, page: 10 )
Jum'at 13 November 2009
Ibu mengabarkan adikku kena Demam Berdarah dan mengharuskan mondok di rumah sakit dan kami harus menyediakan sejumlah uang yang cukup banyak, kalau tidak nyawa adikku tak bisa tertolong
aku sedih banget...kucoba hubungi teman-teman di Jogja...
Sabtu 14 November 2009
Adikku semakin parah Trombositnya semakin menurun...Adikku yang lain juga sakit...Ibu bolak-balik rumah-rumah sakit demi mengurusi 2 adikku yang sakit...sekaligus mengurusi penyebaran DB, jangan sampai menyebar ke lingkungan perumahan.
Minggu 15 November 2009
Aku lupa.....yang kuingat aku tidak bisa transfer uang dan ke mana-mana...lupaa...
Senin 16 November 2009
Mengajukan pinjaman karyawan di kantor...Adikku kritis, butuh transfusi trombosit
Selasa 17 November 2009
Dana belum cair...tapi bisa juga transfer..
Rabu 18 November 2009
Alhamdulillah.. Adikku sembuh, boleh pulang.
Kamis 19 November 2009
Keadaan terkendali
Jum'at 20 November 2009
Berangkat ke Jogja naik Progo
bersambung.....mo ke salon dulu akh!
Aku tidak terlalu menyukai masa puberku. Akhir SD aku sudah mulai ngerasain gejalanya, tapi semakin merajalela sewaktu SMP. Semua serba membingungkan. Tubuhku berubah perlahan-lahan, dadaku yang mulai menggembung, menstruasi, kegelisahan-kegelisahan, marah-marah. Aku ngerasa terlalu muda untuk bisa melewatinya. Berat banget. Sekarang aku sudah besar, kataku pada dirisendiri dan kata keluargaku. Dan menjalani opini bagaimana gadis yang sudah besar menjalani hidupnya. Gadis puber ini menafsirkan berlebihan tentang prosesnya. Bingung ada yang namanya perasaan dan belajar bagaimana cara mengaksesnya. Dia membuat puisi. Kadang-kadang ditempel pada majalah dinding sekolahnya. Hai anak muda, andai perasaan itu seperti puisi, magis, liris dan ritmis, dia tidak membereskan apapa pada akhirnya.
Lebaran kemarin aku membereskan koper berisi kertas-kertas. Yang siapapun tidak kuperbolehkan membukanya. kuperbolehkan pun mereka gak ada yang mau. soale ada di gudang. ada beberapa catatan-catatan, juga banyak sekali surat. diantaranya tidak sempat kukirimkan. O my God. Bahkan kepada orang yang tidak kukenal. Dan yang paling banyak kepada mas haris dan mb naim dua kakakku. Mas haris tidak pernah sekalipun membalas surat-suratku karena aku tahu, dia tipikal laki-laki pada umumnya, yang tidak ekspresif soal perasaan. Sebagian besar laki-laki yang kukenal begitu juga. Paling dia akan nelpon kalau suratku udah nyampai, sebenarnya aku jengkel waktu itu kenapa dia gak pernah bales. Sekarang aku tahu, dia gak bisa nulis surat(hihihi miss him so). Tapi akhirnya aku terbiasa mengirim surat dan tidak dibales. Aku tetap menulis dan mengirim surat. Gak peduli. Ternyata aku senang melakukannya. Mba naim sih (dia menjengukku ke jogja lho) selalu membalas suratku dan membuat jengkel juga karena biasanya hanya pendek. Satu halaman. Dia bercerita tentang pesantren dan temen-teman kampusnya.
kabarku alhamdulillah baik, dik. Kamu gimana? Bapak ibu? Sekarang lagi sibuk-sibuknya mba naim kegiatan OPMI. Katanya mba badi mau nikah ya?
Blahblahblah....(mb naim bercerita tentang sekolahnya, kemudian memberi petuah-petuah agar bersabar dan banyak berdoa. halah halah *geleng-geleng*)
Jangan lupa belajar ya dik. Jangan lupa banyak mengaji dan shalat malam.
Salam buat bapak ibu ya dik atik.
Mba naim
Hahahah jadul gak sih gaya begitu? Aku ngakak-ngakak membacanya lagi. Aku melewati puberku dengan banyak sekali surat-surat. Kunooooo. Norakkk juga. Jaman dulu emang banyak yang norak lebay gitu deh. Malu kalau kuceritain di sini.
Aku juga berkorespondensi dengan teman-teman sekolah. Bahkan dengan teman sebangku. Aku sengaja menulis surat dan kumasukkan diam-diam dalam tasnya. Besoknya temanku membalas melakukan hal yang serupa(Dear Arin dan Rias kaifa hal? kangeeeen). Tema-tema surat kami juga jadul lho. Misalnya, kenapa pak Sobikan guru PPKN malahan selalu mengajari kita lagu-lagu berbahasa inggris di kelas(you are my sunshine. My only sunshine. You make me happy when say agree ......nanananana pokoke dia jadi lagu klasikku di kamar mandi). Dan cara menaruh kacamata besar banget itu, nangkring di tengah hidung. Sudah mau jatuh saja kacamatanya. Gak niat make, persis kayak pak Ogah. Gigi pak sobikan besar-besar, salah satu gigi depan atas udah ada yang tanggal. Kalau nyanyi, suaranya jadi membesar berlagak penyanyi opera.
Coba jaman dulu aku kenal cris abimanyu, aku akan teringat dengan cara menyanyi pak sobikan. Hahahaha pak sobikan pak sobikan.
Kami membicarakan hal hal yang muram bagi gadis-gadis muda. keluarga, kematian, tuhan, kesakitan, aturan sekolah, hal-hal yang dilebih-lebihkan dan membingungkan kami. yang menjengkelkanku adalah kenapa aku tidak punya kisah asmara sewaktu SMP. Opini identik puber-puber kan biasanya cinta-cintaan remaja gitu. Aku tidak menyimpan dengan baik topik tentang asmara. Bukan tidak ada tapi aku sama sekali enggak mau mengakuinya. Hah, begitulah aku waktu itu...astaga. Seringkali surat diakhiri motif saling meneguhkan, bahwa kami masih memiliki Tuhan yang maha kuasa. Tuhan pasti punya rencana, kata kami waktu itu, ceileeeh anak SMP sok tua. Begitulah kerjaanku, sok-sokan. (Padahal manusia sendirilah yang gemar menyusahkan diri dengan rencana-rencana. Tuhan mah suka-suka dia, malah jangan-jangan enggak ngerencanain apapa, impulsif dan enggak mikirin perasaan manusia. Dia mahapaksa, kun fayakun.)
Tulisan dalam lembar-lembar kertas surat yang banyak gambarnya. Biru dengan bias-bias gambar doraemon, lope-lope pink, tutti fruti atau anime-anime lucu. Mba naim juga suka membelikanku kertas surat Dagadu dari jogja. Aku senang. Kertas surat hahahaha sampai aku mengoleksinya. Menurutku itu salah satu benda yang keren.
Eh kemarin membaca surat dari Arin, temen sebangkuku. Kerjaan Arin suka banget goda-godain aku dengan pak hisbul. Terbayang-bayang sampe sekarang jadi ketawa ketawa sendiri. Hahaha pak hisbul
Mari kudongengi tentang masa-masa SMPku. Dan kenapa aku berurusan dengan pak hisbul.
Aku SMP di sekolah islam, stanawiyah negeri yaah kira-kira lima kilometer dari rumahku. Kami sering memplesetkan MTS: madrasah tengah sawah. Dalam pengertian harfiah, sekolahku emang di tengah sawah. Jika pagihari atau sorehari kamu berdiri di deket tiang paling belakang pojok barat musolanya, akan terlihat matahari terbenam dan terbit. Dalam bulatan oranye sempurna. (Tentu saja jika tidak mendung.) Luas banget matamu melihat tanah terbentang melewati sawah yang ditanami padi tiap tahun. Ujung tatapan, ada batas antara sawah dan langit seperti lukisan-lukisan massal yang biasa dijual di pinggir malioboro.
Sekolahku menetapkan aturan masuk jam setengah tujuh bagi murid-muridnya. Karena sedang membangun gedung lagi. Siswanya banyak banget, sebagian kelas musti bergantian masuk sore. Anak-anak yang telat akan dihukum mengahapalkan surat-surat pendek al quran dan masuk jam kedua. Apa hasilnya? Aku memilih hukuman ini daripada masuk jam setengah tujuh. Bukan bermaksud berlebihan, olala menghapal surat pendek tentu saja enggak susah bagiku. Kecilll. Hukuman apa itu. Atau kalau lagi bersemangat aku menggunakan trik kuno anak sekolah, menerobos gerbang belakang bersembunyi di musola. Nanti kalau ganti pelajaran aku akan masuk kelas. Berlagak kayak murid yang baru saja ijin ke kamar mandi. Harusnya aku malu ya.
Suatukali kasus telat-telat ini melewati batas. Sehingga aku harus dijemur ke tengah lapangan yang biasa digunakan upacara. Bersama-sama teman lain yang juga mengalami hukuman senasib. Dibiarin begitu aja. Panas-panasan. Menurutku hari itu misterius. Guru-guru yang menghukum kami, tanpa ngasih instruksi harus ngapain. Kami hanya disuruh berdiri di tengah lapangan. Tidak ada instruksi bubar jam berapa. Bel jam kedua telah lewat tidak ada guru yang memerintahkan kami agar bubar. Aku jadi bingung, walah ini maunya apa sih. Hukuman yang aneh. Karena di lapangan sangat panas aku ngiyup di bawah kanopi gedung laboratorium. Duduk di sana sambil kipas-kipas. Peristiwa ini adalah hukuman paling enggak jelas yang kuterima. Bel Jam ketiga lewat, tidak ada guru yang datang. Memberi instruksi apa kek. Nihil. Lahhh..apa maunya nih bapak guru. Aku segera berdiri dari tempat ngiyupku, berjalan menuju kelasku dengan cuek. Masuk kelas. Teman-teman yang lain juga ikut ngebubarin diri dari tengah lapangan yang panas gila itu. Misterius. Guru-guru enggak ada yang peduli. Jangan-jangan mereka sengaja begitu, semacam putus asa menertibkan kami.
Seharusnya kelasku jam pelajaran olahraga, tapi guru olahragaku pak hisbul watoni enggak ada praktik lapangan. Malah ngasih materi-materi olahraga di kelas. Pelajaran olahraga kan ada ujian tulisnya selain ujian praktek untuk mengantisipasi UAS sebentar lagi. Waktu itu pak hisbul ngasih materi tentang cabang-cabang atletik dan derajat gerakan memutar tolak peluru...
Tidak lupa aku mengucapkan salam, bilang maaf karena terlambat masuk kelas. Pak hisbul yang suka iseng itu mempersilahkan aku masuk. Tapi jangan senang dulu, dia tidak membolehkan aku duduk dikursiku. Dia menunjuk kursi pengawas sambil menyuruhku duduk di sana. Di tiap-tiap kelas ada kursi pengawas yang tinggi kalau duduk disana musti lewat tangga yang menempel gitu. Biasanya diletakkan depan kelas di pojokan sebelah kiri dekat pintu.
Maka, duduklah aku di sana. Dengan kaki-kakiku menggantung, kepalaku menjulang, mataku bisa ngeliat segala kelakuan teman-temanku di kelas. Sambil mengeluarkan buku catatan, melihat dengan posisi menyamping menyimak apa yang diterangkan Pak Hisbul di depan kelas. Sesekali mataku dan temen-temenku saling melempar isyarat ejek-ejekan. Pas pak hisbul membelakangi, aku melempar kertas ke temenku. Kebetulan yang kena Si sodiq. Isinya begini:
Hai rakyat jelata, jangan rame di kelas. Dengerin pak hisbul.......
Beberapa saat kemudian, temenku mbales melempar tapi jatuh di bawah kursi. Aku menggunakan trik menjatuhkan pulpen. Maksudnya, sambil mengambil pulpen plus surat lempar itu....
Baiklah, ratu telatan... tulis temenku, si sodiq.
Aku klecam-klecem sambil melempar tatapan pada temenku itu. Tidak lupa mengacungkan kepalan tanda kejengkelan. Batinku: ihhh kurangajar, sialan dia. Teman-temanku terkikik-kikik merasa menang banget. Mereka jadi ribut-ribut sedikit, sampai pak hisbul ketuk-ketuk meja sambil bilang; pssssttttttt!
Sejak saat itu, beberapa temenku sering memanggilku ratu telatan. Uuugh...
Beberapakali insiden terjadi, pulpen atau tasku jatuh, sepatuku copot. Akupun jadi bolak-balik naikturun dari kursi pengawas mengambil dan membenarkannya. Jadi heboh sendiri. Teman-temanku semakin enggak konsen. Kayaknya ada banyolan baru bagi mereka. Pak hisbul terkadang ikut-ikutan tertawa terutama saat sepatu di kakiku yang menggantung itu lepas, copot jatuh ke lantai. Lagi-lagi turun dari kursi pengawas. Membenarkan sepatu dan tali-talinya biar enggak jatuh lagi. Dia mengeluarkan joke-joke tentangku.
”wah ini yang di depan malah praktek olahraga sendiri...”
Entah apa penyebabnya, kemudian pak hisbul punya ide menjadikanku model praktek putaran tolak peluru. Gerakannya aku yang praktekin di depan kelas. Pak hisbul kasih instruksi. Cara memegang pelurunya, menaruh pada sudut benar dari posisi kepala, serta kapan momen yang tepat melesakkan tolakan. Karena peluru yang asli terbuat dari bulatan besi berat jadi akan berbahaya jika dilempar di dalam kelas. Pak hisbul menggunakan kertas yang diuntel-untel. Diremas-remas agar jadi bulatan menyerupai peluru yang asli dari besi.
Yak, prakteklah aku di kelas. Melempar bulatan kertas itu ke arah temen-temenku. Tanpa diduga dan dinyana. Temen-temenku rebutan bola kertas tolak peluruku kayak rebutan buket pengantin barat. Kacaw banget kelasku. Kami semua ketawa-tawa. Pak hisbul juga, sambil ketuk-ketuk meja; berteriak:
”udah-udah. Hayoooo coba diulangi lagi...”
Haduuw. Hari itu jadi bersejarah,
Pertama aku didaulat jadi ratu telatan oleh temen-temen.
Kedua, Arin temen sebangkuku jadi goda-godain aku dengan pak hisbul terus.
Ketiga, sejak hari itu aku sering dijadiin model tolak peluru oleh pak hisbul. Bahkan ketika simulasi besar sebelum ujian praktek olahraga di lapangan. Praktek untuk semua teman-teman di sekolah...
”Panggilan kepada A*****UL I**** dari kelas tiga Be. Untuk maju ke tengah lapangan....”
Suara mix halo halo menggema. Temen-temenku pada ribut padaku; heh panggilan tuh. Howalaaaah, nasib nasib. Ada ada saja pak hisbul nih. Sebel tolak peluru.
First, we're happy to announce that the team has identified and fixed the issue with the YouTube conduit; you can now find and add videos from YouTube to your library and posts. As always, thanks for your patience!
The other news we have today is about a new addition to the Six Apart family: TypePad Micro, a new free level of TypePad that is streamlined for microblogging. We see a new form of blogging emerging that lives between the quick status updates of Twitter and Facebook and the long-form posts of "classic" blogging; TypePad Micro is designed to meet that need. You can read more about TypePad Micro in Chris Alden's post on the Everything TypePad blog.
A lot of the new capabilities we've added to TypePad this year were actually inspired by some of the best things about Vox: favoriting, member profiles, a dashboard to follow other bloggers, and easy ways to post content from other social media sites. But the things that make Vox different from TypePad are still there: Vox has always been -- and still is -- the best place for "friends and family" blogging, where you're in control over who sees what. TypePad, on the other hand, is built for the blogger who wants, no, craves, attention.
Do you have a passion or interest you want to share with people beyond your Vox neighborhood? If so, we'd love it if you tried out TypePad Micro. Maybe you've always wanted to start that obsessive blog that's just about waffle restaurants. Or want a place to share videos of your favorite band (Jonas Brothers, anyone? Anyone? ...). TypePad Micro's great for those topic-specific blogs. Take it for a spin and let us know what you think.
On the Vox front, our designers are working on some cool new themes (coming soon!). We'd also love to hear your thoughts about where we should take Vox in the coming year. What are the key things you'd like to see for Vox? If you've had a chance to use TypePad this year, what are the features there that we should bring over to Vox? And, if you're thinking big thoughts, how could we connect the Vox and TypePad communities in order to bring together bloggers and their shared passions? Your feedback is really important to us, so please leave a comment here, or shoot me a message.
And again, thanks for your patience as we found and fixed the YouTube bug!
~ daisy
As many of you have noticed, the YouTube Conduit is not working. I am so sorry about this; I know how frustrating it is.
The team is looking into how to get this fixed and I will update you as soon as I hear something. In the meantime, not all is lost... There is a work-around for posting videos.
When you're in the Compose Screen, just click on "embed." Ignore the fact that it says "Widget" before everything because you can definitely use this to embed videos as well. You'll just need to input the embed code from the video, enter a title (if you want) and hit OK.
It might not show up perfectly in your compose screen, but when you hit "Save," your video should appear just the way you wanted it to.
Hopefully this will allow you to keep posting videos while we figure out what's happening on our end.
As always, thanks for your patience.
Metode ilmu social kualitatif paling klasik adalah jarak antara konsep nilai dan realitas sosial. Das sein dengan Das sollen. Ide awal dari metode ini berusaha meninggalkan gaya kuantitatif yang nomotetic. Atau metode positivis yang mengadopsi ilmu-ilmu alam dalam laboratorium. Tapi sebenarnya masih menggunakan pola metode ilmu alam. Maksudku, hitungan jarak antara das sollen dengan das sein itu mengandaikan pola pikir positivis yang masih menjejak.
Kok aku ngerasa tulisanku gak bisa dipahami to. Gimana ya ngejelasinnya....
Begini, misalnya
aku sebagai peneliti punya konsep struktur sosial yang dikemukakan Veblen mengenai leisure class. Kelas masyarakat ini membangun borjuasi di atas gaya hidup konsumtif dan buang-buang waktu. Ketertarikan mereka pada minat-minat tersier.
Konsep tersebut sebagai teori yang aku lemparkan pada realitas anak-anak muda terdidik perkotaan (ex Djogja) yang menyukai gaya hidup backpacking. Anak-anak muda ini nabung demi perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat baru. perjalanan backpacking ke asia tenggara misalnya, menghabiskan duit 2000 dolar Amerika.
Kemudian membangun sebuah rumusan seperti ini; bagaimana realitas anak muda terdidik perkotaan Djogja sebagai leisure class?
Nah itulah, eksplanasi(dalam metode berarti penjelasan sebuah realitas sosial berdasar argumen konseptual. Cara ini merupakan metode pelaporan klasik dalam riset kualitatif ilmu sosial) akan bermain. Aku sebagai peneliti mematok leisure class sebagai kerangka konseptualku. Aku akan bermain-main pada realitas seputar asumsi mengenai leisure class. Sejak awal imajinasi berkembang dalam asumsi tersebut. Semua isu akan secara otomatis berada pada jangkauan konsep-kopsep yang aku bayangkan. Isi risetku bisa ditebak. Penjelasan tentang anak muda perkotaan terdidik dalam kerangka konseptual leissure class itu tadi. Eksekusinya berarti mengafirmasi atau mengkritik konsep yang kubayangkan itu berdasar temuan-temuan realitas sosial yang kuteliti. Bahwasanya ekaplanasi berisi pemaparan jarak antara kerangka konseptual dan realitasnya. Dengan berbagai argumen eksplanatif, maka aku telah melakukan sebuah riset sosial. Thats it.
Pada kenyataannya semua penelitian sosial berkembang berdasar isu yang paling populis. Yang paling seksi bagi si peneliti. Realitas sosial jerjebak dalam bingkai-bingkai eksplanasi begitu. Dan aku tidak berarti naif bahwa masyarakat (aka realitas sosial) memiliki minat terhadap ilmu sosial. Yang ajaib bisa dengan sendirinya menerangkan posisinya dalam struktur sosial. Sedari awal posisiku sebagai peneliti telah membawa sekeranjang tabiat dan hasrat untuk menghakimi. Bukan disengaja, tapi secara instingtif kesadaran analitik telah berkembang penuh muatan.
Pengaturan isu dalam kerangka konsep sebuah penelitian kualitatif kayak yang kuceritakan di atas, jelas-jelas mengadopsi model metode kuantitatif(aka metode ilmu alam). Memasuki wilayah ilmiah berarti sebuah realitas sosial juga terdapat batasan-batasan. Dalam ilmu sosial di sebut teori itu tadi. Seringkali aku sebagai peneliti tidak cukup sabar mengikuti realitas sosial itu pergi dan berkemauan apa. Tapi kuundang mereka dalam keinginan-keinginanku. Biar lebih praktis kan. Aku hanya butuh eksplanasi. Kemudian menaikkan dagu gaya jumawa, merasa membereskan keingintahuanku akan realitas sosial. Padahal tidak ada pengetahuan baru yang benar-benar hadir. Aku hanya sibuuk dengan konsep-konsep(teori) itu tadi. Dasar aku memiliki karakter sok tahu, ditambah metodenya yang mendukung pula. Ealaaaah, udah kadung nggaya je.
*****
Aku membelok arah kembali ke belakang ketika berhadapan dengan definisi model deskripsi dan eksplanasi. Si Geertz yang diklaim weberian itu telah menjadi pengkhianat secara metodologis. Jika orang ato literatur yang kubaca menyatakan dia adalah weberian, aku akan memasang muka bingung. Atau waktu itu si weber juga bingung pas sedang merumuskan model verstehennya. Dia menyatakan model observasi dan eksplanasi dalam metodologi verstehen. dan Geertz? Thick description. Jelas-jelaS dia melarikan diri dari konsep eksplanasi. Di jaman serba bingung ini mari kita mengamankan diri saja. Halah geertz, geertz pake thick thick segala......hayooo apa itu maksudnya. (kalau bukan mengamankan diri.)