Mbak Ana mampu Bangkit!
Perempuan itu kembali datang kerumah. Ya, seperti biasanya, dia akan mengambil bagian dari pekerjaan yang telah disepakati. Meskipun tidak setiap hari, tapi kehadirannya dua atau tiga hari sekali cukup membantu kami untuk bisa menikmati suasana rumah yang bersih dan rapi. Seperti biasa, dia menaikki tangga untuk berada di meja kerja di lantai dua rumah kami. Termasuk orang yang pendiam, dia hanya menyapa dengan senyum saat berpapasan denganku yang sedang menuruni tangga.
”Hai mbak Ana”, sapaku pada perempuan cantik berdarah Lampung ini.
Setelah itu, aku kembali ke kamar dan menyanding beberapa novel yang terbeli tapi belum sempat terbaca. Mbak Ana pasti sedang asik membuat baju-baju menjadi licin, terlipat rapi, menyempurnakan kebersihannya. 1 jam, 2 jam, ah ya, tepat di durasi jam yang ke 3, terdengar langkah Mbak Ana menuruni tangga dan membawa setumpuk baju yang siap di tata di lemari. Kami menyukai ketulusannya bekerja. Tampak dari lipatan baju yang selalu dia susun sesuai dengan garis jahitan. Oleh karena itulah, kami sangat menghargainya. Memberikan jam kerja yang dia suka, boleh memilih pagi atau saat siang menjelang sore. Dia bisa datang kerumah, mengambil porsi kerjanya tanpa mengganggu kepentingannya yang lain juga tanpa mengusik waktu istirahatnya saat lelah.
Setiap kali selesai menyelesaikan pekerjaan, biasanya dia langsung berpamitan untuk pulang. ”iya, terima kasih ya mbak” begitu biasanya aku mengiyakan pamitnya. Tapi sore ini tidak begitu. Dia diminta ibu untuk membantu menyiapkan acara arisan yang akan diadakan besok. Aku pun tak ketinggalan didaulat untuk membersihkan beberapa alat makan. ”Pfff, waktu membaca novel menjadi tertunda lagi”, keluhku dalam hati. Tapi tak apalah, karena aku selalu mencintai kebersamaan dengan ibuku, entah apapun itu bentuknya. Maka terjadilah kerja bakti beberapa perempuan sore itu.
”Suamimu tidak pulang lagi, Na?” ibu mengawali pembicaraan. Seketika aku memperkirakan bahwa ini akan menjadi perbincangan yang menarik, jadi kuputuskan untuk mencuri dengar.
”Iya bu, ga pulang lagi. Biasa, menemui perempuan itu lagi”, begitu tenang Mbak Ana menjawabnya. Aku masih menyimak.
”Ya sudahlah, Na ga usah dipedulikan. Diamkan saja daripada ribut-ribut, ntar suamimu malah jadi senang karena merasa diperebutkan”. Loh..loh ibuku kok jadi menyuruh diam. Ada kata-kata ”diperebutkan” pula. Jadi ada persaingan. Siapa yang bersaing? Tungggu, tadi mbak Ana juga menyebutkan tentang ”perempuan lain” yang menyebabkan suaminya tidak pulang. Kalau misalnya, perempuan itu istri sah alias ada poligami yang disepakati bersama, maka tidak seharusnya mbak Ana risau dan ketenangannya menjawab dapat memperlihatkan hal itu. Tapi ibuku justru mengungkapkan resistensinya. Apakah perempuan lain yang dimaksud, dalam kacamata ibuku adalah bagian dari perselingkuhan? Ah....
”Aku pernah bilang kok bu, kalau memang mas Joko ingin terus-terusan sama perempuan itu, ya ceraikan saja aku,” Oh, jadi benar, ada perselingkuhan disini. Mas Joko suami mbak Ana ternyata tidak pulang karena tidur dirumah perempuan lain itu. Seketika aku mengumpat dalam hati!
”Nah, lalu apa kata suamimu?” lanjut ibuku.
”Ya, dia bilang dengan entengnya kalau ga mau bu. Alasannya karena ga mau memilih dan suka dua-duanya,” nada mbak Ana tampak meninggi. Huh, keserakahan cenderung menimbulkan kepedihan bagi perempuan. Aku sedih dan marah.
”Heh, kurangajar betul suamimu itu ya! Lalu bagaimana, Na?” aku masih diam mendengarkan dan adrenalin ibuku sudah mulai terkoyak.
”Ya mbuhlah, bu. Aku juga tidak tahu. Dilajutkan ribut juga ga memberikan aku keuntungan apa-apa. Toh, dia ga menafkahi pun, aku dan anakku juga ga kekuarangan, ” ih, apa se maunya laki-laki ini. Berpisah tidak mau, bertanggungjawab sebagai bagian dari komitmen yang pernah diikrarkan pun enggan. Kupikir ini bisa disebut dengan kekerasan!
”Ya dah, tinggal pergi saja suamimu itu. Tidak usah diajak bicara lagi. Diurus aja perceraianmu,” ibuku mulai berubah pikiran. Tidak menyuruh mbak Ana diam tapi memprovokasi mbak Ana untuk menggugat.
Masih setia menjadi pendengar, kepalaku mulai bergerak menyusun strategi. Menurutku mbak Ana adalah korban dan harus didampingi untuk memperjuangkan hak nya sebagai istri dan perempuan. Maka kalau diminta membantu aku akan memulai dengan mengarahkan mbak Ana (korban) untuk bersama-sama memetakan masalah mulai dari bagaimana hubungannya dengan suaminya, kemunculan perempuan lain, kondisi psikologis yang terjadi hingga wacana Undang-undang sebagai basis untuk mengadvokasi kasus ini. Lalu mengklarifkasi beberapa temuan masalah seperti penolakan suami untuk bercerai, tidak memberi nafkah, dan beberapa ketidakadilan yang dialami. Dilanjutkan dengan ekplorasi detail yang bisa dijadikan solusi lalu membuat beberapa alternatif keputusan. Tentu saja keputsan untuk bercerai! Pilihan akan merujuk mengenai beberapa langkah yang diinginkan agar perceraian merupakan pilihan yang rasional dan memudahkan.
”Ah ya bu. Saya sekarang senang bisa membelikan buku-buku dan baju baru buat Vika. Mas Joko biar mengurus dirinya sendiri. Sekarang saya mau bekerja untuk Vika. Dia kemaren dapat juara kelas lagi dan saya mau dia seperti itu selalu, ” ungkapan mbak Ana seperti tidak selaras dengan pernyataan ibuku. Hal ini sedetik menghentikan urutan-urutan logika yang kususun untuk membebaskannya tadi. Aku terhentak, karena sepertinya ada yang keliru dari analisaku. Aku curiga kalau aku salah kalau ternyata perceraian bukanlah hal utama yang diinginkannya saat ini.
Mbak Ana tidak menyepakati gagasan maupun menolak gagasan ibuku untuk bercerai. Awalnya memang keinginan itu pernah diberitakan. Namun kemudian hal itu bergerser. Dia lebih menginginkan untuk menjadi mandiri dan bekerja agar kehidupan dengan anaknya bahagia berkecukupan. Dia ingin menjadi ibu yang sempurna. Ada ataupun tidak ada suaminya, itu tidak menjadi soal baginya. Sebab kehadiran suaminya tidak juga memberikan jawaban atas pilihan cita-cita keperempuanannya sebagai ibu. Mungkin dia telah melakukan penelusuran atas semua ini.
Tanpa suami yang menafkahi lahir dan batin, dia mampu menjadi mandiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya. Tanpa ”patuh” menjaga peran tunggalnya sebagai perempuan domestik, mbak Ana justru menemukan keunggulannya sebagai ibu yang mengasihi sekaligus mencukupi secara materiil. Tanpa harus mengeluhkan suaminya yang memeluk perempuan lain, dia justru mencapai makna cinta yang sesungguhnya dengan mendampingi putrinya yang berprestasi. Maka, tanpa memandang formalitas pernikahan sebagai perdebatan yang biasanya dipentaskan di pengadilan agama, dia pun sudah sanggup menyusun strategi untuk memperjuangkan haknya. Mbak Ana seperti telah menemukan jalan untuk meraih identitasnya sendiri. Tanpa harus mengukur dengan segala macam tetek-bengek pasal yang dimuat dalam Undang-undang. Bahwa perempuan itu adalah ibu rumah tangga dan suami adalah pencari nafkah. Jika tidak membentuk formulasi ini, maka tidak ideal dan perempuan layak untuk meratapi nasib.
Mbak Ana mampu bangkit! Bersedia berdamai dengan situasi hingga membentuk pola hidupnya yang berdaya. Mungkin benar apa yang pernah disampaikan oleh seorang teman, bahwa memilih itu bukan karena rasa takut tapi karena memiliki suatu tujuan yang besar. Pilihan mbak Ana untuk kerja keras daripada bercerai secepatnya bahkan tidak akan bercerai (dalam artian formal) sepertinya memang bukan karena rasa takut atau kekhawatiran atas apapun yang melingkarinya. Namun lebih karena sadar akan tujuan besar yang didefinisikan oleh dia sendiri. Kebahagiaan
sebagai perempuan telah lahir dari imajinasi dan nuraninya sendiri sebagai subjek. Tanpa perlu ada ukuran-ukuran lain yang mengintervensi untuk dibandingkan. Termasuk intepretasiku tentang ”korban” yang sempat bersarang dalam rasionalitasku tadi. Ah, aku tersenyum sekarang....
Comments
Perempuan yang sangat kuat. Bertahan di tengah ketidakberdayaan.