Tidak Ada Alasan
Sudah sejak lama sebetulnya merasakan kegelisahan atas apa yang dilihat, dirasakan, mungkin juga dilakukan. Beberapa kali menengok blog teman (mungkin terlalu sering, jadi tidak menulis di blog sendiri), cukup membuatku terusik. Dua kali tema perselingkuhan ditulis berikut analisis yang sangat lembut sehigga mampu menusuk hingga ke rusuk. Pertama, dia menuliskan tentang alasan perempuan bersedia menjadi patner berselingkuh laki-laki beristri. Disebutkan, bahwa perempuan cenderung menikmati sebuah rasa atau sensasi. Emosi yang dipermainkan menjadi sebuah candu yang selalu dinanti sekaligus dibenci. Berdalih dengan rasa cinta, kesabaran, dan mungkin juga pengorbanan perempuan-perempuan tersebut membangun istananya untuk bersembunyi agar tetap mampu bertahan untuk setia ‘digombali’. Namun jika ditinggal, dia akan meraung-raung minta keadilan. Sekilas tampak begitu menggemaskan dan menyedihkan. Lagi-lagi bias gender yang sudah berabd umurnya tetap dapat dijadikan kambing hitam. Perempuan cenderung mengalami subordinasi yang dimanfaatkan, baik dari segi ekonomi, mental, politik, dan seterusnya.
Kedua, dalam blog itu berkisah mengenai motif para suami untuk berselingkuh. Diawali dengan penjelasan teoritis bahwa laki-laki adalah seonggok bayi yang tidak pernah dewasa. Sehingga kesehariannya hanyalah bermain-main. Kecenderungan ini juga dilandasi atau didukung oleh budaya patriarkhi yang selalu memanjakan laki-laki daripada perempuan. Sehingga kedewasaan yang dibuktikan melalui ketahanan-ketahanan mengahadapi cobaan hidup selalu mampu dilewati dengan lebih baik oleh perempuan daripada laki-laki. Maka bisa jadi ketika laki-laki tertekan karena tidak sanggup memenuhi standar sebagai figur nomer satu dalam keluarga, dirinya juga tidak tahan terhadap godaan untuk melarikan diri dari beban-beban tersebut dengan berselingkuh. Seperti halnya anak-anak, merasa bosan dengan mainannya, maka dirinya akan beralih sejenak pada mainan yang lainnya tanpa berpikir masing-masing harus benar-benar diselesaikan. Jenuh dengan keseharian istrinya maka beralih sejenak pada perempuan baru.
Menarik memang. Sebab jika dikaitkan dengan yang pertama, sekilas tampak terjadi paradoks. Perempuan bersedia di-selingkuh-i karena dia sungguh menikmati ketidakstabilan adrenalin yang mungkin mengasikkan. Tapi, di cerita yang kedua, disebutkan bahwa perempuan sebetulnya lebih mampu menanggung resiko jika dibandingan laki-laki karena daya tahannya menghadapi dinamika hidup. Hanya saja (seperti yang juga sempat diceritakan) tak jarang perempuan yang menjadi patner berselingkuh akhirnya juga ‘termehek-mehek’ ketika dirinya sadar bahwa tak juga cukup beralasan untuk diperjuangkan. Dengan kata lain, laki-laki memilih kembali ke wilayah amannya, yakni istrinya daripada kepada selingkuhannya. Alasannya bisa bervariasi, bisa karena takut kehilangan status PNS-nya, kehormatan keluarga besar, ekonomi yang pas-pasan, atau yang lebih melankolis adalah alasan anak. Sementara perempuan-perempuan subjek perselingkuhan tadi, hanya diam sambil tidak berhenti menggurutu atau menangis. Tidak jelas memang. Namun seharusnya, jika perempuan dikatakan memiliki kemampuan menghitung resiko dengan lebih cermat daripada laki-laki, tak seharusnya dirinya seolah-olah merasa juga korban dari pilihan sikap yang beresiko. Sebab pilihan untuk menjalani hubungan dengan suami orang tentu telah disadari bahwa dirinya akan membentur berbagai macam bentuk struktur sosial yang sudah teratur dalam ritmenya sendiri, baik itu dalam bentukan budaya maupun secara hukum. Seperti di Indonesia perempuan akan cenderung menjadi pihak yang salah dan kalah. Masyarakat lebih sering akan menyebutnya ‘pengganggu rumah tangga orang’. Sementara hukum akan tetap mengganggap wajar laki-laki berselingkuh, sebab asasnya memang laki-laki dilegalkan berpoligami. Jadi tidak ada ruang bagi perempuan untuk memperjuangkan ketidakadilan dalam perselingkuhan.
Berlandaskan pertimbangan-pertimbangan yang cukup mudah tersebut, perempuan yang ditasbihkan sebagai makhluk dewasa pasti akan mengkomunikasikan logika-logika yang bernilai resiko tersebut pada pasangan selingkuhannya. Setidaknya, jika pasangannya mengetahui nilai-nilai resiko yang sedang dipikirkan, hal ini dapat dijadikan sebagai bagian dari upaya mengurangi resiko. Misalnya, ketika perempuan mengatakan tentang keinginannya untuk dinikahi (karena merasa sudah berkorban dan cinta setengah mati), kemungkinan ketahuan istrinya, teman kantor, atau malah bos sendiri dan seterusnya.
Sementara laki-laki, jika dikaitkan dengan teori mars dan venus, mereka disebutkan sebagai kelompok jenis kelamin yang lebih banyak mengandalkan rasionalnya daripada perempuan yang cenderung mengangungkan irama emosinya,. Artinya, jika rasioanal itu benar dimainkan, maka segala bentuk permainan yang akan membentur struktur dan kultur yang terlihat, terdengar, terasakan, dan tersentuh tersebut, dapat dipikirkan sebelumnya maupun sesudahnya. Laki-laki dengan daya rasionalnya, seharunya juga mampu menangkap dengan baik., logika-logika resiko yang disampaikan. Setidaknya dirinya akan mulai berpikir tentang apa yang akan dilakukanya jika, istrinya mengetahui dan meminta perceraian, bagaimana reaksi keluarga besar jika dirinya terpergok berselingkuh, bagaimana nasib dan pemenuhan hak anaknya jika orangtuanya tak lagi harmonis, bagaimana dirinya mendamaikan kultur orang-orang disekitarnya jika dirinya memilih menikahi selingkuhannya, bagaimana menghadapi cemooh orang, dan seterusnya. Dialog-dialog semacam itu, tentu akan menjadi bagian yang bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki pengalaman dalam berpikir sebagai langkah terpendek, jika nurani sedang mengalami ketumpulan. Sehingga, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama dapat tumbuh menjadi manusia yang dewasa, tidak gegabah, dan hanya mengejar kenikmantan semata.
Akhirnya (atau terlalu singkat untuk mengatakan akhir?). sulit untuk menemukan alasan apapun, baik laki-laki maupun perempuan untuk melakukan perselingkuhan. Sebab seluruh keseimbangan baik secara individu dan sosial yang minimal mampu dijelaskan dengan rasional, logis dan sistematis saja akan terganggu bahkan hancur tak bersisa. Jika sudah demikian, apa lagi yang mampu dijadikan mesiu untuk meraih kebaikan sebagai hakekat manusia dalam berelasi?
Terima Kasih Sigi, atas catatan-catatannya, yang membuatku berharap semoga kamu menjadi bagianku yang baik hingga terbaik...