Tidak Hanya Sekedar + dan -
Banyak cara untuk melihat sesuatu. Banyak hal untuk menafsirkan fenomena. Namun tidak banyak yang mampu bertindak bijaksana dalam menyikapinya. Akhirnya, yang terjadi justru eksploitasi, dominasi dan manipulasi lainnya.
Kehadiran diri, sebagai manusia di tengah masyarkat, wajar jika selalu mengalami kebingungan. Kenyataan yang terangkum dalam peristiwa dan kejadian tidak pernah surut keberadaannya. Tidak hanya hal yang baik secara konstruktif, tapi juga yang dianggap menyimpang secara kultural. Kesemua ini, tentu akan terus bergulir seiring dengan persepsi yang muncul. Persepsi, tentu juga disertakan argumen yang sama gamblangnya Inilah yang akhirnya membuat otak kita kacau, jika tidak boleh disebut mengalami kebuntuan. Prinsip-prinsip “normatif” tergoyangkan begitu hebatnya, bahkan cukup mengombang-ambingkan keyakinan kita. Apakah akan bertahan dengan peranan sebagai individu tunggal, yang dengan bebas mengekspresikan kuasanya, ataukah, melangkah saja di titik aman, dengan mengamini segala struktur normatif. Terkotak-kotak pada kategoris biner-benar dan salah-selesai. Masalah orientasi seksua
l misalnya.
Fenomena yang ada semakin beragam. Heteroseksual, homosesual, lesbian, binan, maupun biseksual. Otak kita bekerja seringkali terjebak pada pilihan-pilihan untuk mengamini atau, sekadar menolaknya mentah-mentah. Ya atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk. Itulah kebiasaan cara berfikir yang hitam putih, terus-menerus tereproduksi untuk memahami realitas. Sementara, keberagaman, dalam bentuk apapun tidak pernah terpangkas pertumbuhannya. Justru, nampak semakin subur, berkembang melintasi struktur. Tidak jarang juga memiliki daya pikat. Apakah ini masuk menjadi bagian sebagai cara yang solutif, ataukah malah membingungkan? Keberagaman, tentu akan bermakna jikalau dipahami secara kritis.