Ujung-Ujung Makna
aku menemukanmu di sela-sela nafas yang hampir tesengal. Suaramu yang menyapa terdengar samar bahkan hampir menghilang seiring sunyi yang tidak mau berhenti memacu tubuhku untuk turut serta menggigil.
"Jangan menyerah", telingaku hanya berhasil menangkap kata-kata itu atau mungkin aku hanya membaca gerak mulutmu.
Aku berupaya untuk menyahut. Namun hal itu sia-sia. Sebab hanya angin yang berhasil keluar tanpa gemuruh atau resonansi getaran yang bisa membuatmu mengerti. Aku ingin mengatakan bahwa terlampau sulit untukku memilih menyerah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum kau jawab. Pertemuan demi pertemuan itu selalu memberikan alasan untukku lebih banyak bermunajat denganmu. Aku tidak bisa menyerah. Aku masih ingin mencicipi seluruh duri dan madu di taman belukar emas itu, bersamamu. Namun, semakin aku berusaha untuk berucap, tubuhku semakin merasakan kesakitan yang luar biasa Tanpa sadar dan sungguh tanpa kuinginkan air mataku ikut menitik.
"Sudah..sudah..", samar-samar aku berhasil mengejamu dari gerak mulutmu. Sepertinya, aku tidak mampu lagi merengkuhmu dengan keutuhan kelima indraku.
Aku melihat lekuk-lekuk wajahmu yang menegang. Mungkin kau juga merasa kesakitan karena ketidakmampuanku menjawabmu. Sementara sebetulnya, kau juga mendamba aku untuk segera bicara setelah seminggu mengalami koma. Terbaring di tempat terkutuk berbau kreolin bercampur aroma obat suntik dan mungkin berbaur dengan macam-macam larutan ganja, nikotin, dan seterusnya.
Kini, aku berhasil lagi membuka mata. Aku ingin menyampaikan banyak hal. Aku ingin bersorak dan menarik tanganmu untuk menari bersama. Merayakan keberhasilanku bernegosisasi dengan maut. Karena seperti biasa kamu pasti akan mengucapkan "Great!" untuk setiap pencapaian-pencapaianku. Tapi sepertinya saat itu tidak sekarang. Sebab aku masih harus melawan rasa lemah yang ada. Aku mesti mendobrak berontaku untuk bisa lebih sabar menunggu seluruh indraku berfungsi kembali atau mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu lagi.
Aku memilih diam tanpa gumam. Kau pun menangkap itu dan membimbingku untuk memilih cara yang lain saja. Mengeratkan genggaman dan saling memandang dengan senyum. Biarkan hati saja yang berkelana menemui ujung-ujung makna.