Merebaknya kekerasan di kalangan remaja kembali menjadi fenomena menarik. Kasus yang banyak ditemui di kalangan SMA ini terjadi melalui beragam arena, mulai dari kegiatan ospek hingga interaksi komunitas yang akrab dengan sebutan “geng”. Dalam inisisai sekolah, para senior sering menampakan identitas mereka sebagai kelompok yang memiliki otoritas untuk menundukan karakter juniornya. Dengan mengatasnamakan “perploncoan” mereka memunculkan aksi membentak, pemberian beban tugas yang tidak masuk akal atau memaksa junior memakai atribut-atribut yang mempermalukan diri sendiri. Fenomena kekerasan juga dipicu oleh lahirnya geng-geng remaja SMA, misalnya penganiayaan geng Gazper yang beranggotakan siswa SMA 34 terhadap Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Beberapa kegiatan ospek atau interaksi geng di sekolah yang jauh dari nilai-nilai humanitas inilah yang mengindikasikan bahwa anak-anak SMA yang masih tergolong remaja ternyata sudah berpotensi mereproduksi kekerasan. Mereka menggunakan istilah-istilah kekompakan untuk melanggengkan budaya komunitas dimana junior harus selalu taat terhadap seniornya. Sistem pengkaderan dengan kekerasan dilakukan sebagai media yang paling mudah untuk mendapatkan kepatuhan. Peristiwa-peristiwa kekerasan di sekolah hingga memakan korban tersebut tentu sangat memprihatinkan. Sebagai institusi pendidikan formal yang bertanggungjawab melahirkan kader-kader bangsa berkualitas, sekolah justru menjadi ajang melegalkan praktek kekerasan. Di bawah naungan sekolah tertentu geng-geng remaja berupaya menunjukan identitasnya agar dikenal dan diakui. Muncullah fanatisme kelompok. Geng semakin menegaskan bahwa kekerasan merupakan formula fragmentasi dan segregasi kelompok dalam komunitas sekolah. Akibatnya, terjadilah disintergrasi sosial berupa aksi tawuran, pemukulan pada anggota yang dianggap tidak setia kawan dan sebagainya. Tetapi saat ada korban, kita kebingungan menentukan pihak yang harus bertanggungjawab. Hukuman hanya terbatas pemberian sanksi kepada siswa pelaku yang menganiaya korban. Namun akar permasalahan tidak pernah diatasi, sehingga reproduksi kekerasan masih mungkin terjadi.
Ada dua faktor mengapa reproduksi kekerasan dalam insitusi sekolah tersebut masih berlangsung. Pertama, terjadinya pergerseran sistem pendidikan Indonesia yang cenderung mengarah jadi industri, dengan logika dan orientasi untung-rugi. Sistem manajemen sekolah hanya mengejar target ekonomi dengan standard keberhasilan pendidikan menggunakan ukuran-ukuran formal yang bertumpu pada nilai akademik, rating sekolah dan fasilitas fisik berbasis teknologi. Penerapan kurikulum dan proses belajar dipatok dengan output menyesuaikan kebutuhan pasar dan ambisi pengelola sekolah, dimana semua itu menjadi beban-beban yang harus ditanggung oleh siswa. Akhirnya tenaga dan waktu yang dimiliki sekolah dialokasikan hanya untuk memacu kemampuan kognitif siswa. Dengan ukuran dan target tersebut, fungsi-fungsi normatif pendidikan sebagai arena pembelajaran dan penyadaran siswa cenderung terabaikan. Termasuk memudarnya fungsi pendidikan sebagai entitas budaya. Sekolah sebagai institusi yang semestinya menanamkan nilai-nilai moral seperti rasa toleransi, kebersamaan dan musyawarah kian memudar, berganti menjadi ajang kompetisi individualistis.
Kedua, perubahan sosial yang ada di masyarakat dimana telah terjadi pergeseran nilai atau orientasi, serta format relasi. Hal ini tampak pada merasuknya teknologi yang mendorong masyarakat cenderung berpikir instan dan pragmatis, dimana secara struktural mempengaruhi pola interaksi seseorang, termasuk remaja SMA. Visualisasi media sebagai pentas realitas dan ekpresi identitas bahkan terjerembab sebagai instrumen pengganda kultur kekerasan. Media yang terlalu banyak menampilkan tayangan-tayangan kekerasan dijadikan inspirasi bagi remaja untuk mendapatkan citranya sebagai yang “tak terkalahkan”.
Dalam konteks problem itulah, dunia pendidikan perlu merumuskan ulang orientasi pendidikannya agar dapat keluar dari logika industri atau kapitalisasi. Sebagai wahana membangun peradaban sebuah bangsa, pendidikan dan isntitusi sekolah perlu terus mengembangkan nilai-nilai kebersamaan yang beradab. Pendidikan mestinya tidak dibangun secara eksklusif, tetapi senantiasa disangga dalam tiga pilar yang saling berkait, yakni sekolah, keluarga dan masyarakat. Penyangga itu terintegrasi dan saling menopang sehingga mampu menumbuhkan kesadaran anak didik yang anti kekerasan.
Selamat ulang tahun kedamaian....
Ya.. ya..ya
Kita ulangi kembali perenungan itu untuk sekali lagi menguji kemampuan kita mengingat. Ya, mengingat tentang segala yang berhasil kita lalui selama kaki berpijak pada bumi. Mencoba mengeja kembali jejak-jejak nafas yang entah telah sampai dimana.....
Dan bersamaan dengan itu, lagi-lagi aku ingin hadir, menyambut, menyusup hingga larut di dalamnya, bersamamu. Untuk ikut merayakan, bermunajat sebagai penebus dosa, termasuk rengekan untuk terus disempurnakan masa depannya....
Sekali lagi, selamat ulang tahun kedamaian...
Bersama rasa percaya, bersama keteduhan, bersama semesta dan seluruh kepastiannya, semoga kita selalu sanggup untuk bergandengan tangan dan bersedia untuk selalu bertegur sapa dalam ketulusan cinta....
Menyebut keperawanan sebagai sesuatu yang tersembunyi agaknya berlebihan. Tapi menggembar-gemborkannya sebagai durasi yang dapat dipercepat, rasanya juga kurang bijaksana. Mungkin bagi sebagian besar orang (dalam konteks formalnya) keperawanan yang disimbolkan pada “selaput dara” adalah sesuatu yang agung, berharga, hingga sakral. Saking sakralnya, dalam sebuah artikel, sampe ada warning kalo jangan asal mengumbar keperawanan (selaput dara:baca). Dan, yah, seperti kata agnes monica kenapa kita selalu meributkan perawan ga perawan, kenapa ga mencoba mempertanyakan juga tentang keperjakaan? Sebuah alibi yang menarik memang. Bahwa terlalu menjemukan mengukur perempuan dari segi selaput dara yang mungkin belum pernah dilihat wujudnya seperti apa oleh perempuan itu sendiri.
Selaput dara yang robek berarti udah bukan gadis lagi alias ga perawan yang sama dengan tidak suci lagi. Maka dekatlah perempuan tersebut dengan “gagal menjaga kehormatan”, “murahan”, atau “tidak pantas dapat perjaka”. Ealah iki meneh, perjaka ki opo? Kehormatan sang perjaka juga ada dimana, yo mbuh….
Penolakan atas embel-embel tersebut memang sudah dijelaskan melalui beberapa analisis oleh feminis pendahulu kita. Yang dalam konteks kekinian dapat dicontohkan pada kasus perkosaaan. Pemaksaan atas masuknya penis ke dalam liang vagina, kemungkinan besar akan merobek selaput mahkota tersebut. Jika sudah demikian, apakah adil perempuan yang sudah dianiaya tersebut masih dilekatkan dengan stigma-stigma menyakitkan tersebut? Namun, lagi-lagi pembelaan ini masih saja dibantah dengan ungkapan “salah sendiri jadi perempuan ga bisa jaga diri, malas jaga aurat, ya gitu jadi sasaran empuk para pemerkosa”. Dan perdebatan ini akan mengerucut pada pembelaan yang sinis “kasian sekali laki-laki, jaga iman saja ga bisa. Lemah. Gampang tergoda. Jaga birahi dung mas! Kalau dari sononya emang udah seksi, apa ya harus dihukum dengan diperkosa? Diperawani? Sekalian saja, mohon pada Tuhan, jangan ciptakan perempuan cantik, daripada memunculkan penjahat-penjahat kelamin seperti itu?” siapa yang terhormat sekarang? Pemerkosa atau korban perkosaan?
Singkatnya sajalah, menilai keperawanan hanya pada selaput dara ternyata memang tidak cukup. Terlalu mudah untuk dipatahkan fatwa tersebut. Terlalu menyudutkan perempuan. Karena perempuan menjadi semakin sulit menentukan posisi politiknya. “ nduk, jangan berhubungan seksual sebelum menikah, ndak hamil” . Perintah tersebut juga merupakan anjuran untuk menjaga selaput dara. Ditahan betul, sebab kalo sampai robek, nanti cairan sang jantan dapat mudah memikat gumpalan betinamu, dan hamil. Masa ada janin, ga ada suami? Hamil diluar nikah, bagi perempuan ternyata ikut andil dalam menciptakan batas-batas kehormatan perempuan. Nambah lagi tugas perempuan, ga boleh sobek “perawannya”, ga boleh hamil di luar nikah. Padahal, dalam beberapa kasus, hubungan seksual melalui petting (bahkan masih berlapis celana dalam) dapat menyebabkan kehamilan. Nah, jika keperawanan tetap dapat dijaga karena cuma sebatas petting, tapi tetap hamil, trus gimana? Tetap dianggap bisa menjaga kehormatan perempuan tersebut kah? Jadi, bisa menjaga kehormatan itu kalo selaput daranya ga robek atau kalau ga hamil di luar nikah? sepertinya ini pilihan yang sulit
Keperwanan akhirnya akan mewujud bersama kehendak itu sendiri. Namun bukan untuk sesumbar, sebab kehormatan tetaplah kehormatan. Sebuah pengakuan atas identitas yang dilekatkan, diinternalisasi, dirasakan, dan dipancarkan melalui suatu keputusan. Perempuan pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memaknai keperawannya terletak di bagian mana—mungkin di hidungnya, matanya, payudaranya, atau jempol kakinya. Sehingga perempuan memiliki otoritas yang mutlak untuk menyebut dirinya masih perawan atau tidak, layak dihormati atau tidak. Sebab semua itu, asli miliknya bukan pelabelan pihak manapun. Perempuan berhak menunjukkan keperempuannya melalui media apapun, dalam visualisasi yang bebas. Pun terkait dengan keperawanan itu sendiri—yang mewujud sebagai suatu keutuhan bukan tercuil hanya pada selaput dara—yang tampak terlalu lemah untuk dikoyak dalam sekali sentuhan (paksa). Satu kesatuan itulah yang dinamakan ketulusan, kesediaan yang tanpa kesakitan--yang menjalar di sepanjang tubuh—aurat, tidak sekedar selaput dara atau hamil di luar nikah. Melainkan seluruh bagian tubuh yang bersedia dengan tulus menari, berekspresi, bicara bahkan marah. Namun tubuh tetap membutuhkan ruang untuk sejenak diam dan menuntut. Ada hak yang mesti dipenuhi oleh tubuh, hak untuk tidak disakiti, hak untuk diamankan, hak untuk membuat keputusan atas kesenangannya, hak untuk bebas berkarya dan berguna. Maka, keperawanan pun sepatutnya adalah menyatu dalam setiap detail yang termiliki. Pikiran, jiwa, daging, nafas, darah hingga sel-sel. Kesemua itulah yang mesti dijaga, dari segala macam bentuk kesendirian, ancaman, pelecehan, rasa sakit, tidak nyaman. Meski intepretasi dari semua rasa adalah pilihan, namun perempuan tetaplah perempuan yang dalam kondisi objektifnya memang lebih rentan—dekat dengan resiko (minimal secara hormonal). Untuk itulah dengan menghormati ketulusan, maka kita semua sebenarnya sedang berupaya menjaga kehormatan itu sendiri, tanpa harus terlalu disibukan dengan ukuran-ukuran yang rumit. Maka dengan demikian selama penjagaan, ketulusan itu ada, maka selama itulah keperawanan itu akan selalu menjelma, keperjakaan akan senantiasa bermukim--tak pernah terganti.
--hasil perdebatan dengan seorang laki-lakiku saat dalam paham yang berbeda. Sebuah tanggung jawab kadang memang suatu yang berat untuk diakui! mungkin suatu saat dengan senyum kita bisa menghadirkan ketulusan yang sesungguhnya itu, bung---
mengggertak nurani..
ya nurani ku terbakar dengan satu persatu kenyataan
menyakitkan katanya kenyataan itu..hhhhhhhhhhh..
Entahlah,
kenapa aku merasa sangat kesakitan seperti ini. Aku hampir menjadi malas
berpikir atau merasionalisasi atau apalah namanya, gara-gara saking sakit hatinya.
Aku merasa semakin diperlakuan dengan tidak adil, meski aku juga tidak pernah
bisa menolak untuk tidak berhenti mengerti keadaannya. Tapi kenapa harus aku
yang selalu mengerti dia, kesibukannya, keluarganya, dan seluruh
sifat-sifatnya. Bahkan segala yang tidak dia suka dan suka aku patut
menghafalnya, termasuk keterbatasannya memahami mauku, karena dia sibuk. Tapi apa
mesti begitu mencintai itu? Melulu berkorban? Padahal, kemaren itu aku
benar-benar sakit dan butuh perhatiannya. Aku bukan dia, yang selalu bisa
menikmati kesakitan itu sendiri. Aku desi, desi, dan desi, yang ingin
diperhatikan, ingin ditemani saat sakit. kenapa mencintai kalo harus selalu merasa bersalah..kenapa mencintai kalo harus merasa sakit hati, kenapa mencintai kalo harus selalu merasa tidak adil, kenapa mencintai kalo akhirnya hanya mempersulit diri.......
PERNIKAHAN...
What should I call it?
The “danger” area?
Or eden park?
“ Akhirnya aku akan menikah bulan depan”, wajah dahlia begitu sumringah. Tanpa henti dia terus bercerita tentang rencana pernikahannya yang konon akan mendatangkan 1000 undangan itu.
“ Nanti kamu jadi saksi pernikahanku ya”, pintanya padaku kemudian.
“ Kamu sendiri kapan nyusul aku?” aku yang tadinya merasakan aura bahagianya, mendadak gugup mendengar pertanyaan gilanya.
“Memangnya kamu mau kemana?” aku jawab sekenanya. Mungkin karena saking bahagianya dia tidak menghiraukan kebingunganku. Dengan tetap bersikap baik, dia menganggapku sedang bercanda.
Tiga puluh hari kemudian upacara yang dinantikan dahlia datang juga.
“Saya terima nikahnya dahlia binti........dengan mas kawin..............TUNAI!” langit dan bumi menyaksikan sumpah sakral itu. Laki-laki tampan yang dikenalnya selama dua bulan itu dengan fasih mengucap ijab qabul di hadapan Tuhan. Seluruh umat yang hadir di situ tertusuk-tusuk hatinya karena rasa haru yang berlebih, termasuk aku. Wajah dahlia pun tidak henti-hentinya tersenyum sumringah. Sungguh indah, pikirku.
Tiga bulan kemudian aku bertemu dengan dahlia. “hei, bagaimana pernikahanmu, bahagia kah?” tanyaku
“Ya, aku sangat menikmatinya. Menikahlah kamu agar bisa merasakan kebahagiaan yang hebat ini.” Dahiku berkerut mendengar spontanitasnya.
Satu tahun kemudian aku kembali bertemu dahlia di pasar tradisional. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbincang tentang banyak hal.
“Kau bahagia, dahlia?” aku kembali menanyakan itu, karena wajahnya tampak pucat.
“hmmm...bahagia. lagian anak kami sudah berumur 4 bulan.” Dia tampak tidak begitu bersemangat.
Satu setengah tahun berikutnya....
“Kamu bahagia dahlia?”
“Ya gitulah..bahagia aja,”tanpa ekspresi yang berarti
Dua tahun setelahnya...
“Kamu bahagia dahlia?”
“Mungkin.”
Dua setengah tahun....
“Kamu bahagia dahlia”
Dia hanya mengangguk lemah, sambil terus menyuapi dua anaknya. Aku yang sedang bertamu di sana lelah sendiri melihat dahlia yang terus berlari kesana-kemari. Ada saja yang dikerjakannya.
Tiga tahun ya aku yakin itu tiga tahun sesudahnya...
“Kamu bahagia dahlia?”
Kali ini dia menangis......
Bahagia ternyata tidak selamanya menjadi sesuatu yang tersentuh. Dia terlalu sering berubah-ubah wujud sehingga menjadikannya sulit didefinisikan. Bagaimana jika nantinya merasa bahagia itu sama halnya dengan merasa bersalah? Sebuah rasa yang hanya berhenti pada rasa tanpa ada kenyataan yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Bagaimana jika ternyata justru ini yang akan ditemui dalam pernikahan? Mungkinkah bahagia dalam pernikahan itu hanya akan menjadi sesuatu yang imajiner, absurd, abstrak, absent, nihil! Sebuah romantika yang aneh!
Ibuku, bapakku, simbahku, ibu temanku, budhe temanku, kakak temanku bahkan temanku sendiri adalah manusia-manusia malang yang terjebak pada romantika perkawinan yang sah itu. Berbagai alasan sebelumnya, terus menggugat mereka agar segera menikah. Mumpung ada yang ganteng, sulit dapat yang lebih cantik, usia sudah cukup, agar mendokrak status keluarga, dan sebagainya. Tapi anehnya pernikahan yang membuat adegan pergumulan itu tak lagi haram, sulit sekali menemukan cinta sebagai modal dasarnya. Apakah cinta sedemikian asingnya, sehingga mereka merasa malu untuk mengkoarkannya lebih keras? Apakah cinta terlalu agung dan mengada-ada sehingga mereka lebih memilih mewariskan pepatah witing tresno jalaran soko kulino? Lantas bagaimana dengan kasus pemukulan terhadap istri oleh suami yang terlalu posesif? Dimana keadilan ketika perkosaan dalam rumah tangga tidak dianggap sebagai tindak kejahatan? Mengapa ada pernikahan jika perselingkuhan juga sudah menjadi rahasia umum? Apa yang dimaksud suami-istri, ketika suami tidak pernah mendapatkan kelembuatan seorang perempuan yang dinikahinya?
Akhirnya, harus berapa kali lagi aku menangis melihat ibuku dibunuh berkali-kali oleh laki-laki yang mengaku bapakku? Bagaimana kalo nantinya aku terpenjara dalam pikiran negatif? laki-lakiku selingkuh misalnya? ealah...wong edan...
Hampir separo malamku kulintaskan sebuah peristiwa pernikahan yang lebih banyak kulihat sebagai sebuah tragedi. Bagaimana institusi itu selalu dijadikan ukuran atas kestabilan hidup seseorang. Memiliki uang banyak, jabatan tinggi, wajah menawan akan gagal mendapat apresiasi jika belum terdaftar di KUA. Seolah-olah pernikaham adalah satu-satunya justifikasi atas kemapanan. Maka munculah istilah-istilah perawan tua, joko lapuk, pemuda keblinger dan seterusnya. Sebuah stereotype yang tidak adil menurutku. Toh, pernikahan juga tidak dapat dijadikan tolak ukur yang mampu menjawab kegelisahan anak manusia atas cinta dan ketulusan.
Seorang bocah perempuan dengan wajah kian polos tapi ceria menggendong sebuah boneka. Dia membayangkan untuk menjadi ibu mungkin juga istri yang bahagia suatu saat nanti. Namun tibai-tiba saja, boneka itu dia buang. Saat ibunya bertanya kenapa membuang boneka manis itu, dia berujar “aku bosan main boneka, abis bonekanya nangis terus”. Sang ibu pun tersenyum kecut, seraya berkata lirih “seandainya saja pernikahan bisa seperti itu”.
Pernikahan akhirnya, aku kembali menjadi bingung, kenapa orang2 sampai begitu relanya terjebak dalam pernikahan? kenapa menikah kalo tidak ada cinta? bukankah menikah itu ibadah? bukankah ibadah itu keindahan dan kenyamanan?lantas kenapa harus dirumit-rumitkan dengan embel2 prestise, dibuntuti dengan rasa jenuh, dibisingi dengan teriakan pertengkaran, disandra dengan perselingkuhan, bahkan dipenjarakan oleh keterpaksaan.....
ah, terlalu banyak kenaifan ternyata, bahkan mungkin aku sendiri sedang naif menuliskan ini....aku jadi ingin membuktikan, bahwa menikah itu ada sebuah kesederhanaan bukan pelarian, bukan omong kosong....hm....ada yang bisa membantuku membuktikannya?
Begitulah aku mengapresiasi kehebatan yang selalu kukagumi. Please, jangan bilang kalau ada yang lebih canggih dalam memujamu daripada aku.
Aku memang sudah mengenalmu hingga bertemu dan memelukmu. Kau telah banyak memuntahkan gagasan cemerlangmu , dengan lantang dan bergaya bak “Antonio Banderas” saat menentang yang dirasa tidak pantas (but it wasn’t make you as imitate as the DESPERADO. Don’t! ).
Itulah kamu. Mata yang selalu mempunyai sorot menantang. Selalu bisa menghadirkan energi yang ekstra bagi perempuan yang dicintainya ini. Di sisi yang lain, kau juga memilikki senyum yang manis menggetarkan tapi meneduhkan pengabdianku. Kamu itu ada, kekasihku. Di sini, di setiap relung yang mengendapkan telapak kakiku pada tanah. Makanya jangan diam, teruslah menggugat ‘tokoh-tokoh’ neoliberal itu dengan kalimat-kalimatmu yang satir. Senantiasalah berteriak agar ‘penguasa-penguasa’ itu bisa sembuh dari ‘tulli’ nya, sehingga mampu mendengar tangis pilu ketidakadilan. Berkobarlah selalu dengan kesederhanaanmu untuk merengkuh setiap keyakinan ideologis yang berpihak itu. Aku di sini, di sampingmu—selalu hadir untuk menyakini dan menguatkanmu. Percayalah
Membicarakanmu hingga memperdebatkan persoalan “kita” tampaknya terlalu sulit bagiku untuk tidak mengawalinya dengan menceritakan perjumpaan kita. Suatu pertemuan aneh yang terlalu kebetulan untuk dikatakan kebetulan. Hanya melalui sebuah sapaan yang tidak begitu manis, aku dan kamu bisa mewujud menjadi “kita”. Waktu itu tepatnya siang itu, suara formalmu menengadahkan pandanganku yang terlampau kecil untuk kau gapai. Kau pasti mengingat moment itu dengan lebih baik daripada aku. Apa yang kaupikirkan dan apa yang kurasakan memang tidak terlalu istimewa untuk dipertanyakan kembali. Toh, hanya akan memunculkan “cerita-cerita basi” yang bermuara pada imajinasi. Sebab peristiwa dan keseharian (waktu) kadang megubah makna sebuah teks. Awal persuaan itu mungkin tidak meninggalkan desir apapun bahkan setitik pun tidak terlintas. Tapi bagaimana jika rasa itu ingin kita klarifikasi sekarang? Mungkin kita akan menuturkan sejumput justifikasi yang romantis sampai ironis. Sebab keseharian kita telah banyak memungut serangkaian peristiwa yang bisa dinobatkan sebagai alasan dan pembenaran. Bukankah begitu, sayangku? Semua ini bukan untuk membuatmu menyakini keraguanku atas rasa yang bermukim dalam hatiku saat ini atau sebelumnya. Aku hanya mencoba meneguhkan diri bahwa sesuatu yang tidak ada tu tidak selalu buruk. Tapi ya begitulah adanya, justru maknanya ada dalam ketiadaannya itu. Seperti Nietzsche yang meyakini bahwa berlama-lama berkutat pada yang ”ada” tanpa mencari-cari yang ”tidak ada” hanya akan menimbulkan nihilsme yang ceroboh. Aku rasa kita sering membahas hal ini dalam diam yang terpisah ruang dan waktu sekalipun.
Kekasih ya kekasihku.....
Mencintaimu mungkin suatu bagian rasa yang misterius. Apakah ”begini” ini bisa dikatakan bahwa aku benar-benar mencintamu? Atau apakah sebenarnya cinta itu? Suatu ”artefak” buatan manusia yang konstruktif? Suatu bangunan pengetahuan baru dalam relasi anak manusia yang kata Foucault akan menciptakan sebuah sistem kekuasaan? Atau seperti yang dibilang Socrates bahwa cinta tidak lebih sebuah pengalaman atas penerimaan bukan pencarian. Sehingga akan membuatnya terpelintir pada dimensi mekanis yang dangkal? Penindasan yang hegemonik, misalnya? Atau mengamini saja konsep cinta sang Gibran? Bahwa cinta tak lebih dari isarat-isarat bersayap yang akan memeluk dan mengguncangkan diri, entah dengan belati entah dengan belaian. Sehingga menjadikannya tak lebih dari sebongkah rasa yang pasrah? Ah, ini terlalu rumit. Cukup. Sudah. Aku bosan mencoba memahaminya. Aku tidak mau membahasnya lebih jauh. Yang jelas ”begini” yang kumaksud adalah suatu warna dalam kesadaranku yang bisa kugradasikan dalam alam bawah sadarmu, begitu pula sebaliknya. Ada sentuhan yang tak terasa, ada bayangan yang bisa digenggam. Keduanya bersama-sama mewujud sebagai suplemen yang membanjiri tubuh hingga ke sel. Membuat ”nya” semakin bergairah untuk bernafas, bermunajad, dan berkarya.
Kekasih yang sering membuatku berucap ”entah”.....
Hingga detik ini, banyak hal yang sudah kita ceritakan meski belum pernah benar-benar membuatku mengerti siapa kamu dan belum pernah benar-benar membuatmu bersedia memahami bagaimana aku. Bahkan saat aku menuliskan ini pun aku sedang dalam kebingungan yang ”terengah-engah”. Aku sedang mencoba menerka-nerka dirimu yang kurasakan jauh (semoga hanya berhenti pada rasa): Pesan-pesan singkat (sms) yang lama dari balasan yang cepat, telfon yang terlalu lama kau biarkan berdering tanpa dijawab. Semua itu adalah pertanyaan. Semua itu mungkin akan menjadi gugatan suatu saat nanti. Ada apa dengamu? Memangnya siapa yang ada dibelakangmu sampai dirimu menjadi begitu dekil di hadapan teknologi? Mengapa juga dengan diriku? Kerinduan macam apa yang sebenarnya sedang begejolak di darahku sehingga membuatku serapuh ini? Kegelisahan yang buruk ini terjadi setiap malam. Dimana akhirnya aku lebih baik memaklumi bahwa kau sedang berada dalam perjamuan kudus normatif yang angkuh. Di situ ada sekumpulan mata yang siap menatapmu sebagai ”terdakwa” jika kedapatan tingkah yang janggal (saat melakukan komunikasi yang akrab denganku, misalnya). Awalnya aku berpikir bahwa ”ketololan” ini tidak akan terjadi saat kau berada di kota yang bukan kotaku. Tapi siang ini pemahaman itu sedikit bergeser. Entah kesibukan apa yang sedang menyedot seluruh kesadaranmu sekarang hingga melumpuhkan sebagian kreatifitasmu untuk sejenak menyapaku dalam fantasi cinta? Bagaimana juga rutinitas metropolitan itu mampu menggiringmu menjadi seorang autis yang terlampau antusias? Sampai kau sedikit lupa bahwa ada ”kehangatan” yang mesti kau selamatkan setiap saat, agar ”dirinya” tidak masuk dalam mesin pendingin dan membeku. Inikah ketidakadilan? Dua ruang-waktu yang berbeda tetapi tidak begitu memberikan posisi yang berbeda untukku. Tidak begitu membuatku merasa lebih beruntung. Atau ini lebih layak untuk dikatakan ”tantangan”?
Nope.....Tidak....Jangan.....
Ketidakseimbangan itu sejenak tak bisa kuterima positif melalui bahasa apapun. Tidak juga berdasar pada penguatan-penguatanmu yang lebih banyak terdengar teoritik. Jika sudah begini, berlarik-larik ”i love u” justru semakin meretas percayaku. Ingin rasanya aku berucap seperti Kaka ”Slank”, I HATE YOU!. I was in a little bit! The bored asshole! Aku berteriak memprotes semua rasa perih yang sama sekali tidak ingin aku nikmati ini, mas! Aku ingin menggunakan kemampuan radikalku untuk menjadi ”penjaga” dirimu seutuhnya. Sekarang! Tanpa menunggu segala tetek bengek yang brengsek itu!
Namun ”kegilaan” itu selalu muncul bersamaan dengan cahaya putih yang berkedip-kedip di kamarku. Cahaya yang kini kuyakini sebagai wahyu. Cahaya itu terlalu sering muncul--membuatku menggigil ketakutan. Cahaya itu merasuki relungku dan membimbing rasionalitasku untuk sejenak berdandan. Bisa ditebak bahwa cahaya itu terlalu kuat untuk tidak membuatku menyerahkan diri. Di sinilah aku mulai kembali menemui apa itu arti memahami, apa arti kedekatan, apa itu mencintai, apa itu ketulusan, apa itu perlawanan, dan sampai dimana batas memaklumi? Tak perlu kuceritakan bagaimana semua itu akhirnya bisa menguras air mataku dan membuatku lebih tenang. Tak perlu kuikhtisarkan bagaimana semua itu akhirnya bisa membuatku lebih ikhlas untuk kembali menyatakan bahwa benar ”aku mencintai Mr. Mata”? Karena deskripsi yang terlalu panjang hanya akan menyiratkan lebih banyak kebohongan dan kesombongan. Bukankah ini adalah persoalan olah rasa? Dimana ”kesederhaan” adalah cita-cita tunggalnya. Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa bertemu dalam suasana yang memberi kesempatan dengan lebih lama sehingga kesederhaan itu bisa terejawantahkan. Sebab kata seorang teman, kesederhanaan yang seperti ini adalah wujud dari kebijaksanaan. Mudah-mudahan kelak kita sampai di situ secara bersama-sama! Bukan lagi prosesku. Bukan lagi perjalananmu. Tapi paduan cita-cita cinta kita!
Akhirnya aku sampai pada suatu persinggahan, dimana aku bisa mengatakan bahwa mencintaimu, Mr. Mataku adalah suatu pencapaian sekaligus proses yang indah. Aku bisa bermain-main dalam keberadaan dan ketiadaan, kepastian dan ketidakpastian yang mengerucut pada suatu gambaran rasa yang bermakna. Aku bisa menjadikan diriku perih-berbunga, timbul-tenggelam yang menjadikanku pulang kembali pada genggaman tanganmu, menapak bumi, dan terus melesat meraih semangat itu. Bahkan aku bisa melampaui realitas yang tidak biner seperti itu. Kamu tahu, mencintaimu juga sampai membuatku bisa membayangkan bahwa kelak dalam kemandirian aku tetap akan sanggup bertahan dalam perahu yang sedang terombang ambing gelombang tsunami sekalipun! Singkatnya, bersamamu Aku bisa melampaui hal-hal yang tidak biasa.
***
Mr. Mata ku...
Mr. Mataku....?
Mr. MataKU!!!!!!!!!
Kotak hijau ini tidak hanya terlalu mewah untuk mengantar sebuah mawar putih dan setangkap roti untukmu melainkan juga terlampau sederhana untuk menggambarkan ketulusan hatiku, kesegaran semangatmu!
Seperti kehangatan kotak ini, semoga tetap akan ada penjagaan itu, kesetiaan itu, dan kehadiran dalam arti yang sebenarnya itu. Semoga aku dan kamu yang terangkai teduh dalam mata-hati dapat bersabar mengemban tugas : ”bisa mengerjakan hal-hal yang tidak biasa
” ini. Tanpa sampai menjadi ”terbiasa” untuk terlampau ”luar biasa”. Bukankah kita sepakat untuk terangkai dalam biasa saja-- sederhana saja--bijaksana saja?
Sekali lagi, ini tidak lebih hebat dari selebaran surat kabar dengan headline-headline ”panas” yang membuatmu lebih ”garang” menghadapi pagi. Ini hanyalah ”sebuah catatan kesekian” yang akan membuatmu semakin yakin, betapa beruntungnya dicintai, betapa nikmatnya berbagi. Je t’ aime beaucoup! Ra kapserkfiy! Ichliebiedich!
perempuan ”cantik” dari negri hunianmu
yang tidak pernah berhenti bangga memilikkimu !
-desintha dwi asriani-
little angel has woken up..
that's the time to open the spirit to face the every chance, love, and questions