Posts (page 2)
Kemarin sore, adalah pertemuan yang menyenangkan sekaligus menegangkan bagi kita. Setelah sekian lama tidak bertemu, aku tidak menyangka, kalau kamu masih sekhawatir yang dulu terhadapku. Aku bahagia dengan sikap itu, meskipun tidak dapat dibantah jika aku pun merasa sedih. Sebab perdebatan yang terjadi setahun lalu, kini masih juga mewarna dalam kita. Kecemburuan, tak ingin kehilangan, rasa menggugat, hasrat untuk memeluk dalam malam yang panjang. Yah, begitulah rangkaian romansa yang selalu tak pernah selesai. Hingga pada akhirnya perdebatan itu sampai pada kalimat bergaris tebal “cinta kita tak bersarang”.
Ah, indah sepertinya ungkapan itu. Tapi aku tidak sepakat jika itu adalah mutlak definisi kebersamaan kita. Apakah benar kita tak akan bersarang pada suatu ketika nanti? Sementara kita tak cukup punya alasan untuk merasa lega jika tidak bersama pun bersua. Sedangkan aku tak mampu mendarat jika belum menemuimu sebagai sarangku. Padahal keniscayaanmu pun sulit untuk bermukim jika bukan aku yang menjadi sarangmu… ah, ya dan semoga…..
Dalam kedamaian malam, yang demi Tuhan membuatku merasa sepi, ibu datang sepertinya biasa. Masuk ke kamarku tanpa bosan menemuiku yang lagi-lagi sedang asik dengan laptop. Hampir tiap malam, ibu terancam aku cuekin gara-gara laptop ini. Tapi ibu selalu berusaha untuk paham dengan kebiasaan yang hamper jadi kebutuhan ini. saking ngertinya, kadang aku berpura-pura sibuk dengan laptop supaya ibu tidak menggangguku. Ah, jahat sekali tampaknya. Tidak mau diganggu ibu sendiri. Bisa ya, kehadiran ibu itu sebagai gangguan?
Mungkin tidak. Atau memang jelas tidak mungkin ibu itu mengganggu. Karena kedamaian ibu adalah keniscayaan dalam tiap detiknya. Ya, isitilah mengganngu sepertinya tidak tepat. Aku memang sering menghidari ibu saat dia masuk, menyapa dan ingin menanyakan banyak hal. Kalau sudah begini jelas, ibu sedang butuh teman bicara yang mampu memahami sekaigus menghibur penatnya. Maklumlah, ibu adalah seorang perempuan yang kelewat tangguh, jadi kadang justru menjadi rapuh. Namun pada saat-saat tertentu, aku tidak bisa memainkan peran sahabat yang baik bagi ibu. Karena masalah ini, persoalan itu, kekesalan pada si anu, dan seterusnya. Aku jadi takut kalau perbincangan tetap diteruskan dalam kondisi yang begini, ibu justru akan jadi pelampiasan emosiku. Ah, jangan.... Aku terlalu mencintainya hingga batas kedekatan yang sangat. Sehingga aku begitu takut membuatnya kecewa. Jadi lebih baik dengan berimajinasi dengan rasa pahamnya padaku.
Sekarang aku terpekur memandang monitor yang entah akan kuapakan. Karena tidak ada sebenarnya yang ingin aku lakukan. Bahkan setelah ibu pergi, memenuhi isaratku yang sedang ingin sendiri. Ah, ibu... aku sedang gelisah sebetulnya. Gelisah memikirkan dirimu dan cita-citaku. Sedikit bersebrangan agaknya. Aku selalu bertanya, apa aku sanggup meninggalkanmu di kota kecil ini. Sementara keinginanku berjelajah begitu meluap-luap. Sementara pula, tiap malam kamu selalu datang begini ke kamarku untuk mengadu. Siapa yang akan membantumu tidur terlelap tanpa beban, jika aku pergi..???? ah semoga segera ada masa yang bisa mendamaikan semua....
Dalam kemelut batin yang sulit didefinisikan oleh kata, mungkin ada baiknya jika merapat saja pada doa. Memanjang-manjangkan keluhan agar segera berujung pada kata “amin”, sepertinya tidak terlalu membosankan untuk dilakukan. Malah, terkadang ritual ini hadir sebagai sebuah konsep kekuatan lain yang memberikan jawaban lebih atas kegelisahan. Lagi-lagi, intepretasinya adalah, manusia tidak cukup mampu bertahan dalam keniscayaannya yang sendiri, indovidual atau soliter. Selalu mengandalkan sebuah kekuasaan di luar kediriannya seabagai imaji yang yang dapat mendorong bertahannya eksistensi pribadinya. Benarkah ini sebuah kekalahan awal atas keberadaan manusia yang rasional dan mandiri?
Seperti yang diungkapkan oleh Taylor, bahwa manusia memiliki kepercayaan yang tangguh atas segala hal yang ada di luar dirinya. Kehadiran benda-benda di sekitarnya selalu mengundang rasa ingin tahu manusia. Inilah yang mengkerangkai lahirnya animisme. Bukan karena eksistensi yang teracam atau daya kompetisi yang ingin dibuktikan, tapi manusia justru ingin menjadikan bakat pengetahuan yang dimiliki sebagai sumber kebermanfaatan. Dalam Fenomena-fenomena alam yang terbingkai dalam kejadian-kejadian seperti petir, gempa bumi, pohon-pohon yang tumbuh, hewan yang mengembik atau diinding yang bergema, manusia meyakini bahwa ada makna yang tersembunyi. Dengan derajat akal budi yang transformatif, manusia ingin menerjemahkan satu-persatu menjadi pengetahuan yang utuh. Mulai dari pertanyaan “mengapa” hingga “bagaimana”.
Demikian halya dengan doa. Manusia percaya akan ada kekuatan lain yang belum terjelasakan.
Melaui lafal-lafal yang kadang dilemahkan dengan istilah sinis “pembangun sugesti belaka”, doa menjadi sebuah rangkuman rahasia besar yang ingin didobrak manusia. Ketika, kesadaran atas perang logika dan batin kediriannya, menemui kebuntuan, manusia masih dengan akal budinya akan berlari menuju spirit “doa”. Berniat, berharap, berkonsetrasi, hingga akhirnya menemukan satu simpul penting yang berujung pada pengetahuan baru. Biasanya tahap terakhir, disebut sebagai “doa yang sudah terjawab’.
Manusia mengalami dialektika, demikian Hegel bertesis. Namun dalam doa , manusia tidak sedang berdialektika dengan materi yang sama. Manusia tidak sedang meghakimi kehendaknya denga patner yang memliki kawah rasionalitas yang setanding. Mungkin dengan zat yang lebih kerdil atau memang benar yang lebih kuat. Sampai di sini, ritual doa, seolah memunculkan sebuah persetujuan terhadap teori Adam Smith, dimana “invisible hand” adalah keniscayaan. Mungkin benar, tapi bisa juga adalah kesalahan, ketika kita menyerah pada keputusan tangan-tangan tidak tampak. Namun pada hakekatnay yang tak tampak bukan berarti tak bergerak.
Karena manusia memiliki akal budi atas kepercayaannya pada kekuatan lain di luar dirinya untuk membangun sebuah pertahanan akan sebuah keputusan hidup. Melalui doa, manusia memang seolah menyerah pada kekuatan gaib yang seakan-akan jauh dari nalar. Namun bukankah, kepercayaan tersebut adalah sesuatu yang bekerja dalam kendali akal budi, untuk menemukan pengetahuan baru? Ya, manusia sedang mencipta sesuatu melalui doa, dengan tanpa merendahkan diri sendiri, melainkan berkompromi dengan potensi kekuatan hati yang selalu ingin berbagi.
serak rasanya tenggorokan ini saat harus keluar rumah. serak menahan tangis atau kelelahan sesenggukan semalam?
yang pasti ku tahu aku merasa aneh dengan perasaanku yang timbul tenggelam tanpa bisa dikendailkan. pukul delapan
memutuskan untuk menarik kait motor dengan harapan bisa menghilang saat itu juga. sebab tidak ada kesibukan yang
sanggup aku selesaikan. "cancel semua"! kataku dengan tanpa ragu. sungguh semakin tidak karuan memang. tapi mau
bagaimana lagi, aku sedang tidak bisa diajak bicara apalagi berpikir. aku sedang ingin memulai babak baru tapi belum
menemukan lawan yang setanding.
maka kususuri saja jalanan sepanjang ring-road. berharap menemukan sesuatu, menemukan roda-roda mobil berkecepatan tinggi, dan BRAK!. aku lalu tergeletak, mati, sekedar pingsan atau yang paling buruk yakni cacat!
ah, aku mulai nglantur rupanya. maka kuhentikan mesin motorku dan mencoba mencerna peta jogja. hendak kemana aku?
lalu aku putuskan untuk pergi ke Empire. aku bisa sendirian sepuasnya disini tanpa perlu bertanggungjawab dengan yang
hadir disitu. ga kenal! sambil memandangi mendung dari dalam aku terus-terusan memutar-mutar krusor. seolah-olah ada yang bisa kulakukan dari laptop ini. tidak ada. ya memang tidak ada. aku hanya sedang ingin sendiri. memikirkan
bagaimana skenario Tuhan akan berlanjut?
Tidak ada rencana yang berlebihan sebenarnya malam itu, selain mengganti kacamata berlensa gelombang dengan kacamata yang bercetak normal. Tepatnya berada di daerah Ngasem, arah selatan dari Malioboro. Sejenak ngobrol dengan penjaga toko kacamata yang ganjen dan ya, lumayan menarik lah.. Karena kebetulan mood sedang tidak berada pada rasa tertekan, maka aku tanggapi saja mereka-mereka itu. Sampai obrolan garing itu terhenti pada pertanyaan “mbak rumahnya dimana?”. Walah, kalau sudah urusan geografis aku sudah males kompromi. Tar ndak urusannya tambah panjang… wek.. “Oke,
mas aku tak cabut sik, perkoro alamat rumah kita bicarakan saja nanti kalau mata saya tambah rabun..”. Hehehe, apa hubungannya ya? Yah, namanya juga obrolan garing jadi ya cari alasan yang garing pula..
Setelah itu sebenarnya sudah ingin pulang, tapi kok rasanya ada sesuatu yang lebih menarik daripada pulang ya? Maka Alun-Alun Kidul menjadi alternative. Memilih duduk di depan Gedung Kesenian dan memesan secangkir ronde. Tidak terlalu nikmat (rondenya maksudnya). Tapi berada di situ dengan kesendirian yang penuh seolah bisa sedikit menenangkan. Sambil sesekali khayalan terbang pada beberapa momen yang pernah di situ. Pertemuan, perbincangan, pertengkaran dan semuanya. Mungkin tidak akan mengerucut pada kerinduan, tapi sejarah. Ya, sejarah saja, yang habis dibaca dan dihafal.
Ups..! tiba-tiba aku sadar ternyata ada yang unik di tempat ini. Suara itu. Suara-suara sumbang tapi cukup menghibur. Para pengamen itu. Hanya ada satu gerombolan pengamen, sebab waktu itu memang habis hujan. Jadi tidak banyak yang bertahan. Aku jadi tertarik untuk mengajak mereka bernyanyi bersama. Awalnya mereka merasa ragu karena siapa tahu aku tidak mau mendengar mereka ngamen. Tapi setelah aku panggil, mereka lantas bilang “Oh, ternyata mbaknya mau ya?”. “Ya, ayo sini kita konser bareng malam ini..”
“Mau lagu apa mbak?”
“Emm, aku mau lagu……”
Mereka pun bernyanyi dengan nada-nada sumbangnya itu. Dalam hati aku tertawa. PD juga ya mereka? Demi seribu rupiah? Dua ribu? Atau hanya demi malam yang tidak sepi? Ah, aku memang naïf!
“Mau lagu apa lagi mbak?”, ah, ya, ternyata lagunya sudah selesai. Aku melamun rupanya tadi…
“Nama kalian siapa?” Aku ingin mereka berhenti menyanyikan lagu orang lain. Kami pun berkenalan. Aan, Iwan dan Edi. Dua dari mereka mengaku tidak memiliki rumah atau lebih tepatnya keluarga. Sebab ketiganya memiliki rumah kost di sekitar sini. Mereka sempat bertanya “ Kok sendirian mbak? Lagi patah hati ya, mbak?” hahahaha, hebat ya mereka. Rasa kesepian mereka karena tidak memiliki keluarga ternyata masih mampu menghadirkan kekuatan untuk menanyakan aku yang kesepian. Aku hanya tersenyum. Sebab dihadapan mereka aku tidak punya alasan untuk mengatakan kesepian. Aku memiliki semua yang ingin mereka miliki. Keluarga, orang tua, rumah, sekolah, motor bebek, wedang ronde, uang untuk membayar tukang ngamen, dan bahkan pacar. Aan kemudian bertanya lagi “Mbak ini mahasiswa atau sudah kerja?”. Aku jawab apa ya? Tiba-tiba saja dengan tenang aku menjawab, “Aku baru saja dinyatakan lulus seminggu yang lalu”, hahaha, lagi-lagi ini jawaban yang buruk kupikir. Mereka kemudian dengan sumringah mengatakan “Wah, senangnya, selamat ya mbak..”
Aku jadi menyesal dengan jawabanku tadi. Seharusnya aku merasa senang juga seperti apa yang mereka rasakan. Tapi mengapa aku sedih dan duduk ditempat ini. Konyolnya, aku justru ingin berbagi kesedihan dengan menyuruh mereka bernyanyi menghiburku. Padahal, dengan segala keterbatasan, mereka masih sanggup bernyanyi untuk menyenangkan orang-orang disini, termasuk aku. Sementara aku? Seharusnya aku lebih bisa berbagi bahagia dalam pencapaianku yang secara normative aku lebih beruntung daripada Aan, Iwan dan Edi.
Ah, aku seperti ingin memeluk dan membawa mereka pulang dan bernyanyi bersama-sama sampai pagi. Tapi mereka harus bekerja, demi sarapan besok pagi, uang kos bulan depan, dan nafas di tahun depan. Lantas aku? Ya, aku pulang saja, masa ikut mereka ngamen? Hehehe.. Tapi yang jelas, aku pulang dengan senyum dan ingin terus tersenyum sampai nanti.
Terima kasih Aan, Iwan dan Edi, kita pasti akan bertemu lagi dan bernyanyi bersama lagi dan lagi…..
aku suka banget lirik lagu Iwan Fals ini...
hm....
Begitu halus tutur katamu
Seolah lagu termerdu
Begitu indah bunga-bungamu, diatas karya sulang itu
Tampilkan kebajikan seorang ibu
Dengarlah detak jantung benihku yang kutanam di rahimu
Seakan pasrah menerima, semua warna yang kita punya. Segala rasa yang kita bina
Ku harap kesungguhanmu, kaitan jiwa, bagai sulam di karya itu.
Ku harap keikhlasanmu, sirami benih yang kutabur di tamanmu
Oh, jelas, rakit pagar semakin kuat, tak goyah, walau di musim unggas
Pintaku pada Tuhan mulia
Jauhkan sifat yang manja, bentuklah segala warna jiwannya
Diantara lingkup manusia.
Diarena yang bau busuknya luka
Bukakan mata pandang dunia, riwatan baja padang
Kalungkan tabah kala derita
Semoga kau tak tuli, tuhan dengarlah, pinta kami sebagai orang tuanya
Merebaknya kekerasan di kalangan remaja kembali menjadi fenomena menarik. Kasus yang banyak ditemui di kalangan SMA ini terjadi melalui beragam arena, mulai dari kegiatan ospek hingga interaksi komunitas yang akrab dengan sebutan “geng”. Dalam inisisai sekolah, para senior sering menampakan identitas mereka sebagai kelompok yang memiliki otoritas untuk menundukan karakter juniornya. Dengan mengatasnamakan “perploncoan” mereka memunculkan aksi membentak, pemberian beban tugas yang tidak masuk akal atau memaksa junior memakai atribut-atribut yang mempermalukan diri sendiri. Fenomena kekerasan juga dipicu oleh lahirnya geng-geng remaja SMA, misalnya penganiayaan geng Gazper yang beranggotakan siswa SMA 34 terhadap Muhammad Fadhil Harkaputra Sirath (15), siswa kelas X SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan.
Beberapa kegiatan ospek atau interaksi geng di sekolah yang jauh dari nilai-nilai humanitas inilah yang mengindikasikan bahwa anak-anak SMA yang masih tergolong remaja ternyata sudah berpotensi mereproduksi kekerasan. Mereka menggunakan istilah-istilah kekompakan untuk melanggengkan budaya komunitas dimana junior harus selalu taat terhadap seniornya. Sistem pengkaderan dengan kekerasan dilakukan sebagai media yang paling mudah untuk mendapatkan kepatuhan. Peristiwa-peristiwa kekerasan di sekolah hingga memakan korban tersebut tentu sangat memprihatinkan. Sebagai institusi pendidikan formal yang bertanggungjawab melahirkan kader-kader bangsa berkualitas, sekolah justru menjadi ajang melegalkan praktek kekerasan. Di bawah naungan sekolah tertentu geng-geng remaja berupaya menunjukan identitasnya agar dikenal dan diakui. Muncullah fanatisme kelompok. Geng semakin menegaskan bahwa kekerasan merupakan formula fragmentasi dan segregasi kelompok dalam komunitas sekolah. Akibatnya, terjadilah disintergrasi sosial berupa aksi tawuran, pemukulan pada anggota yang dianggap tidak setia kawan dan sebagainya. Tetapi saat ada korban, kita kebingungan menentukan pihak yang harus bertanggungjawab. Hukuman hanya terbatas pemberian sanksi kepada siswa pelaku yang menganiaya korban. Namun akar permasalahan tidak pernah diatasi, sehingga reproduksi kekerasan masih mungkin terjadi.
Ada dua faktor mengapa reproduksi kekerasan dalam insitusi sekolah tersebut masih berlangsung. Pertama, terjadinya pergerseran sistem pendidikan Indonesia yang cenderung mengarah jadi industri, dengan logika dan orientasi untung-rugi. Sistem manajemen sekolah hanya mengejar target ekonomi dengan standard keberhasilan pendidikan menggunakan ukuran-ukuran formal yang bertumpu pada nilai akademik, rating sekolah dan fasilitas fisik berbasis teknologi. Penerapan kurikulum dan proses belajar dipatok dengan output menyesuaikan kebutuhan pasar dan ambisi pengelola sekolah, dimana semua itu menjadi beban-beban yang harus ditanggung oleh siswa. Akhirnya tenaga dan waktu yang dimiliki sekolah dialokasikan hanya untuk memacu kemampuan kognitif siswa. Dengan ukuran dan target tersebut, fungsi-fungsi normatif pendidikan sebagai arena pembelajaran dan penyadaran siswa cenderung terabaikan. Termasuk memudarnya fungsi pendidikan sebagai entitas budaya. Sekolah sebagai institusi yang semestinya menanamkan nilai-nilai moral seperti rasa toleransi, kebersamaan dan musyawarah kian memudar, berganti menjadi ajang kompetisi individualistis.
Kedua, perubahan sosial yang ada di masyarakat dimana telah terjadi pergeseran nilai atau orientasi, serta format relasi. Hal ini tampak pada merasuknya teknologi yang mendorong masyarakat cenderung berpikir instan dan pragmatis, dimana secara struktural mempengaruhi pola interaksi seseorang, termasuk remaja SMA. Visualisasi media sebagai pentas realitas dan ekpresi identitas bahkan terjerembab sebagai instrumen pengganda kultur kekerasan. Media yang terlalu banyak menampilkan tayangan-tayangan kekerasan dijadikan inspirasi bagi remaja untuk mendapatkan citranya sebagai yang “tak terkalahkan”.
Dalam konteks problem itulah, dunia pendidikan perlu merumuskan ulang orientasi pendidikannya agar dapat keluar dari logika industri atau kapitalisasi. Sebagai wahana membangun peradaban sebuah bangsa, pendidikan dan isntitusi sekolah perlu terus mengembangkan nilai-nilai kebersamaan yang beradab. Pendidikan mestinya tidak dibangun secara eksklusif, tetapi senantiasa disangga dalam tiga pilar yang saling berkait, yakni sekolah, keluarga dan masyarakat. Penyangga itu terintegrasi dan saling menopang sehingga mampu menumbuhkan kesadaran anak didik yang anti kekerasan.
Selamat ulang tahun kedamaian....
Ya.. ya..ya
Kita ulangi kembali perenungan itu untuk sekali lagi menguji kemampuan kita mengingat. Ya, mengingat tentang segala yang berhasil kita lalui selama kaki berpijak pada bumi. Mencoba mengeja kembali jejak-jejak nafas yang entah telah sampai dimana.....
Dan bersamaan dengan itu, lagi-lagi aku ingin hadir, menyambut, menyusup hingga larut di dalamnya, bersamamu. Untuk ikut merayakan, bermunajat sebagai penebus dosa, termasuk rengekan untuk terus disempurnakan masa depannya....
Sekali lagi, selamat ulang tahun kedamaian...
Bersama rasa percaya, bersama keteduhan, bersama semesta dan seluruh kepastiannya, semoga kita selalu sanggup untuk bergandengan tangan dan bersedia untuk selalu bertegur sapa dalam ketulusan cinta....
Menyebut keperawanan sebagai sesuatu yang tersembunyi agaknya berlebihan. Tapi menggembar-gemborkannya sebagai durasi yang dapat dipercepat, rasanya juga kurang bijaksana. Mungkin bagi sebagian besar orang (dalam konteks formalnya) keperawanan yang disimbolkan pada “selaput dara” adalah sesuatu yang agung, berharga, hingga sakral. Saking sakralnya, dalam sebuah artikel, sampe ada warning kalo jangan asal mengumbar keperawanan (selaput dara:baca). Dan, yah, seperti kata agnes monica kenapa kita selalu meributkan perawan ga perawan, kenapa ga mencoba mempertanyakan juga tentang keperjakaan? Sebuah alibi yang menarik memang. Bahwa terlalu menjemukan mengukur perempuan dari segi selaput dara yang mungkin belum pernah dilihat wujudnya seperti apa oleh perempuan itu sendiri.
Selaput dara yang robek berarti udah bukan gadis lagi alias ga perawan yang sama dengan tidak suci lagi. Maka dekatlah perempuan tersebut dengan “gagal menjaga kehormatan”, “murahan”, atau “tidak pantas dapat perjaka”. Ealah iki meneh, perjaka ki opo? Kehormatan sang perjaka juga ada dimana, yo mbuh….
Penolakan atas embel-embel tersebut memang sudah dijelaskan melalui beberapa analisis oleh feminis pendahulu kita. Yang dalam konteks kekinian dapat dicontohkan pada kasus perkosaaan. Pemaksaan atas masuknya penis ke dalam liang vagina, kemungkinan besar akan merobek selaput mahkota tersebut. Jika sudah demikian, apakah adil perempuan yang sudah dianiaya tersebut masih dilekatkan dengan stigma-stigma menyakitkan tersebut? Namun, lagi-lagi pembelaan ini masih saja dibantah dengan ungkapan “salah sendiri jadi perempuan ga bisa jaga diri, malas jaga aurat, ya gitu jadi sasaran empuk para pemerkosa”. Dan perdebatan ini akan mengerucut pada pembelaan yang sinis “kasian sekali laki-laki, jaga iman saja ga bisa. Lemah. Gampang tergoda. Jaga birahi dung mas! Kalau dari sononya emang udah seksi, apa ya harus dihukum dengan diperkosa? Diperawani? Sekalian saja, mohon pada Tuhan, jangan ciptakan perempuan cantik, daripada memunculkan penjahat-penjahat kelamin seperti itu?” siapa yang terhormat sekarang? Pemerkosa atau korban perkosaan?
Singkatnya sajalah, menilai keperawanan hanya pada selaput dara ternyata memang tidak cukup. Terlalu mudah untuk dipatahkan fatwa tersebut. Terlalu menyudutkan perempuan. Karena perempuan menjadi semakin sulit menentukan posisi politiknya. “ nduk, jangan berhubungan seksual sebelum menikah, ndak hamil” . Perintah tersebut juga merupakan anjuran untuk menjaga selaput dara. Ditahan betul, sebab kalo sampai robek, nanti cairan sang jantan dapat mudah memikat gumpalan betinamu, dan hamil. Masa ada janin, ga ada suami? Hamil diluar nikah, bagi perempuan ternyata ikut andil dalam menciptakan batas-batas kehormatan perempuan. Nambah lagi tugas perempuan, ga boleh sobek “perawannya”, ga boleh hamil di luar nikah. Padahal, dalam beberapa kasus, hubungan seksual melalui petting (bahkan masih berlapis celana dalam) dapat menyebabkan kehamilan. Nah, jika keperawanan tetap dapat dijaga karena cuma sebatas petting, tapi tetap hamil, trus gimana? Tetap dianggap bisa menjaga kehormatan perempuan tersebut kah? Jadi, bisa menjaga kehormatan itu kalo selaput daranya ga robek atau kalau ga hamil di luar nikah? sepertinya ini pilihan yang sulit
Keperwanan akhirnya akan mewujud bersama kehendak itu sendiri. Namun bukan untuk sesumbar, sebab kehormatan tetaplah kehormatan. Sebuah pengakuan atas identitas yang dilekatkan, diinternalisasi, dirasakan, dan dipancarkan melalui suatu keputusan. Perempuan pada akhirnya memiliki kebebasan untuk memaknai keperawannya terletak di bagian mana—mungkin di hidungnya, matanya, payudaranya, atau jempol kakinya. Sehingga perempuan memiliki otoritas yang mutlak untuk menyebut dirinya masih perawan atau tidak, layak dihormati atau tidak. Sebab semua itu, asli miliknya bukan pelabelan pihak manapun. Perempuan berhak menunjukkan keperempuannya melalui media apapun, dalam visualisasi yang bebas. Pun terkait dengan keperawanan itu sendiri—yang mewujud sebagai suatu keutuhan bukan tercuil hanya pada selaput dara—yang tampak terlalu lemah untuk dikoyak dalam sekali sentuhan (paksa). Satu kesatuan itulah yang dinamakan ketulusan, kesediaan yang tanpa kesakitan--yang menjalar di sepanjang tubuh—aurat, tidak sekedar selaput dara atau hamil di luar nikah. Melainkan seluruh bagian tubuh yang bersedia dengan tulus menari, berekspresi, bicara bahkan marah. Namun tubuh tetap membutuhkan ruang untuk sejenak diam dan menuntut. Ada hak yang mesti dipenuhi oleh tubuh, hak untuk tidak disakiti, hak untuk diamankan, hak untuk membuat keputusan atas kesenangannya, hak untuk bebas berkarya dan berguna. Maka, keperawanan pun sepatutnya adalah menyatu dalam setiap detail yang termiliki. Pikiran, jiwa, daging, nafas, darah hingga sel-sel. Kesemua itulah yang mesti dijaga, dari segala macam bentuk kesendirian, ancaman, pelecehan, rasa sakit, tidak nyaman. Meski intepretasi dari semua rasa adalah pilihan, namun perempuan tetaplah perempuan yang dalam kondisi objektifnya memang lebih rentan—dekat dengan resiko (minimal secara hormonal). Untuk itulah dengan menghormati ketulusan, maka kita semua sebenarnya sedang berupaya menjaga kehormatan itu sendiri, tanpa harus terlalu disibukan dengan ukuran-ukuran yang rumit. Maka dengan demikian selama penjagaan, ketulusan itu ada, maka selama itulah keperawanan itu akan selalu menjelma, keperjakaan akan senantiasa bermukim--tak pernah terganti.
--hasil perdebatan dengan seorang laki-lakiku saat dalam paham yang berbeda. Sebuah tanggung jawab kadang memang suatu yang berat untuk diakui! mungkin suatu saat dengan senyum kita bisa menghadirkan ketulusan yang sesungguhnya itu, bung---
mengggertak nurani..
ya nurani ku terbakar dengan satu persatu kenyataan
menyakitkan katanya kenyataan itu..hhhhhhhhhhh..