<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
    xmlns:at="http://www.sixapart.com/ns/at"
    xmlns:icbm="http://postneo.com/icbm"
    xmlns:rvw="http://purl.org/NET/RVW/0.2/"
    xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss">
    <channel>
        <title>sinthanology</title>
        <link>http://puan.vox.com/library/posts/page/1/</link>
        <description>Our orange will fill the air...</description>
        <language>en</language>
        <generator>Vox</generator>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Dec 2008 18:40:35 -0800</lastBuildDate>
        <copyright>Copyright 2008</copyright>
        <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>  
 
        <item>
            <title>Jilbab Perempuan Berjilbab</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/jilbab-perempuan-berjilbab.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/jilbab-perempuan-berjilbab.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/jilbab-perempuan-berjilbab.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Fri, 05 Dec 2008 18:40:35 -0800</pubDate>         
            
            <description>    

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Hidup dalam sebuah ruang yang penuh dengan struktur dan
pemaknaan budaya, menciptakan dinamika yang menarik. Hal ini tampak pada bentuk
perbedaan cara pandang, berbagai perwujudan nilai, ragam arah perubahan, bahkan
konflik. Seperti yang terjadi dalam lingkungan dimana saya berinteraksi. Saya, adalah
perempuan yang dibesarkan dalam masyarakat dengan paham teologi yang cukup kuat,
meski saya tidak se-taat mereka. Dalam masyarakat ini, perempuan di
konstruksikan sebagai sebuah aset, karena perannya sebagai sumber reproduksi.
Prespektif seperti inilah, yang membuat budaya mempertahankan keutuhan
perempuan, terus tertanam dan diwariskan. Keutuhan yang dimaksud di sini, ada
pada nilai ke”perawan”an. Perempuan yang “baik”, hanya yang selaput daranyanya &lt;em style=&quot;&quot;&gt;(mukosa)&lt;/em&gt; dirobek oleh alat kelamin suami
yang sah menikahinya, secara agama. Nah, untuk membentengi perempuan agar
selalu mengingat tradisi itu, maka perempuan hendaknya tidak berhubungan
seksual sebelum menikah. Inilah yang disebut sebagai &lt;em style=&quot;&quot;&gt;culture &lt;/em&gt;, sesuatu yang mengikat dimana secara khusus membentuk
struktur relasi sosial, praktek sosial serta sistem-sistem simbolik dan
mengikat secara kohesif atau kelompok identitas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Sementara itu, konsep kebudayaan adalah sebuah konsep yang
terus berkembang mengikuti perubahan sosial yang melingkupi seluruh aktivitas
manusia. Hal ini berkaitan dengan pergeseran makna &lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;“perawan”&lt;em style=&quot;&quot;&gt;. &lt;/em&gt;Seiring bergulirnya waktu, tradisi tersebut di atas ditanggapi
modernisasi, dengan mengatakan bahwa “perawan”, bukan lagi unsur yang mutlak
dalam memaknai perempuan yang “baik”. Tradisi mempersembahkan selaput dara pada
“malam pertama” dianggap sebagai restu terhadap kuasa patriarkhi. Toh, tidak
ada aturan untuk menjaga “keperjakaan”&lt;em style=&quot;&quot;&gt;.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Lagi pula perempuan yang tidak
“perawan” “sebelum waktunya”, apapun sebabnya, tetap akan menerima stigma
normatif. Perempuan, akhirnya membangun kesadaran, bahwa tubuhnya bebas
menentukan objek interaksinya, termasuk memutuskan dengan siapa akan
berhubungan seksual, baik masih “perawan” atau tidak. Dari sinilah kita melihat
hubungan yang amat erat antara kebudayaan, sistem makna, dan implikasinya dalam
sistem sosial. Oleh karena budaya memiliki kaitan yang erat dengan dimensi sosial
dan kemanusiaan, maka pemaknaan budaya disini bukan lagi dimaknai sebagai suatu
“artefak” melainkan juga merupakan suatu proses dan di dalamnya mampu
menjelaskan arah perubahan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Konsep mengenai kebudayaan juga dimunculkan pada setting
ruang dan waktu yang kemudian melahirkan pemaknaan yang berbeda mengenai esensi
dan peran kebudayaan itu.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;Pemaknaan “perawan”
yang liberal tersebut ditanggapi dengan rasionalitas yang memang selama ini belum
muncul secara kritis. Budaya bebas tersebut dipahami sebagai budaya yang tidak
menyertakan pertimbangan resiko.. Sebab penularan HIV/AIDS, IMS (Infeksi
Menular Seksual), PMS (Penyakit Menular Seksual), diasumsikan sebagai implikasi
kongkrit dari sek bebas &lt;em style=&quot;&quot;&gt;(free seks). &lt;/em&gt;Tidak
hanya berdampak pada idealisme normatif, yang terdiri dari benar atau salah
saja.. Masyarakat, dimana saya termasuk di dalamnya,&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;akhirnya menyepakati bahwa menjaga “ke”perawan”an”
dan “keperjakaan” merupakan dua hal yang sama penting. Budaya semacam ini,
dijadikan sebagai cerminan dalam mewujudkan &lt;/span&gt;
    
    
    
&lt;/p&gt;
    
    
    
&lt;div at:enclosure=&quot;asset&quot; at:xid=&quot;6a00cd973afd264cd501098152f7e9000d&quot; at:format=&quot;medium&quot; at:align=&quot;right&quot;
    class=&quot;enclosure enclosure-right enclosure-medium photo-enclosure&quot; 
     style=&quot;text-align: center; float: right;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;enclosure-inner&quot;
    
        style=&quot;padding: 9px; border: 1px solid; width: px; margin: 0 0 20px 20px;&quot;
    &gt;
    &lt;div class=&quot;enclosure-list&quot;&gt;
        &lt;div class=&quot;enclosure-item photo-asset last&quot;&gt;
    
            &lt;div class=&quot;enclosure-image&quot;&gt;
        
                &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd501098152f7e9000d.html&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://a1.vox.com/6a00cd973afd264cd501098152f7e9000d-200pi&quot; alt=&quot;Juwish&quot; title=&quot;Juwish&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
        
            &lt;/div&gt;
            &lt;div class=&quot;enclosure-meta&quot;&gt;
                &lt;div class=&quot;enclosure-asset-name&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd501098152f7e9000d.html&quot; title=&quot;Juwish&quot;&gt;Juwish&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
            &lt;/div&gt;
    
        &lt;/div&gt;
    &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;!-- end enclosure --&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;kesehatan masyarakat &lt;em style=&quot;&quot;&gt;(public health).&lt;/em&gt; Sehingga, secara kultural,
pengendalian diri atas “aurat”-tubuh, menjadi tanggung jawab bersama, baik
perempuan maupun laki-laki Sehingga interaksi yang dihadirkan dalam masayarakat
adalah budaya yang diskursif dan transformatif bukan dominatif.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;Apabila penjelasan-penjelasan yang disajikan
tersebut di atas, terus dipahami sebagai rasionalitas tindakan, maka makna
budaya akan sampai pada suatu kesimpulan lesikal. Bahwa kata budaya, berakar
pada dua kata yakni “budi dan daya”, dimana budi menunjukkan pada nalar (rasio)
dan daya (bentuk).&lt;/span&gt;☺&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

     &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/jilbab-perempuan-berjilbab.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd50109d071375a000e?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>    
        </item> 
 
        <item>
            <title>CULTURE UNDERSTANDING OF SEXUAL ACTIVITY</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/culture-understanding-of-sexual-activity.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/culture-understanding-of-sexual-activity.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/culture-understanding-of-sexual-activity.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Thu, 06 Nov 2008 04:03:01 -0800</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;Talking
about sex and sexuality are the different case. People tend sex is a
biology activity or used to mention a gender label. However, sexuality
has more complex meaning, relates with how to express the feeling to
the others through actions, such as touch, kiss, hug, coitus or the
softer action like body language, dress code, and conversation
performance.&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Shortly,
every society plays the strong role to shape sexual value and action,
also in forming or hampering the development and expression of member
sexual. For example, in the east country, especially Indonesia,
conducts intercourse before married is a sin, but in west country, that
is a common habit. &lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;In the west culture, sexuality is a biological necessity that is not only restricted on normative dogma. &lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Yet,
it is also to consider the empirical experience that grows in the
social interaction. As Yos’s story, Indonesian member who works in
Amsterdam, that sex do not have to be conducted in marriage, like some
stories of his colleagues in Amsterdam that have a daughter :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;First colleague&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt; : I will be a grandmother. My daughter is 20 years old in pregnant condition. According to&lt;span&gt; &lt;/span&gt;the plan, she doesn’t want to get married. &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Second colleague&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt; &lt;span&gt; &lt;/span&gt;:
I was surprise this morning. Apparently, my daughter whose 16 years old
had slept with her boyfriend, last night without informed me before.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Third colleague&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;: my daughter whose 18 years old is still virgin and she never allows her boyfriend to come to our home (&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;http://www.bebekrewel.com/holland-safe-koki).&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;Base
on those, we can assume that the meaning of sexuality engages all sorts
of dimension that link each other to form a comprehensive units. &lt;em&gt;First, &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;biology
dimension, it is a dimension that relates with anatomy and functional
of reproduction organ, included how to take care of the healthy and use
it optimally. &lt;em&gt;Second&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;sociocultural
dimension. It is a dimension seeing how sexuality appears in relation
among the people, how someone adapts with role demand in the social
environment, and how to socialize the sexuality function and role in
the human life (&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN&quot;&gt;Iwan Purnawan, S.Kep, Ns, 2006 : 2-4).&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;In the west culture, when children have been mature enough, they will be released by their parents to be independent. &lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;The
ending of parents’ responsibility is equal with a new form of
individual responsibility that has experienced a degradation period.
Children are given a freedom to choose their life style. The process of
true self-identity whether in production chema or reproduction is
automatically handled by themselves. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN&quot;&gt;Start from
determining he school, house, job until family are the personal
decision that are done consciously. So, the cultural segregation
happens when the freedom is mentioned as a part of life style that is
focused on some aspects&lt;span&gt; &lt;/span&gt;of independence, self confidence,
relation efficiency and relation effectivity. Thus, in their sexual
activity. The example is the tradition of the cultural circumcision.
Even though, it still becomes a controversy in USA, but almost 80%, the
neonates of men are circumcised by the&lt;span&gt; &lt;/span&gt;hygienic reason or religious symbol and specific ethnic identity.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;It
is also to women, in the some countries, circumcision for women is a
physic symbol of their maturity, the social control symbol of their
sexual happiness and reproduction. Whereas, the adolescents’ life in UK
are independent, lack of family and religious influence, free to choose
anything, liberal and moderate enough.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Based
on the west culture reality, the focuses of sex are especially on sex
education and safe sex. The ethic dimension that is used is a personal
responsibility for a comfort, safety, and healthy. The norm restriction
of sexual problem almost does not exist. Even though, based on the law,
sex is allowed to be done in 18 years old, but not in the fact.
According to the survey, adolescents have conducted the sex trial
between 14 until 16 years old. So, most of them have done once, even
the girl, that she can receive some contraception pills from doctor.&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Sexuality
also refers to the interactive design that is managed by sets of
cultural equipments. It means that someone can not understand the
sexual shape that is chosen suddenly, yet it internalizes from the
socialization tie which&lt;span&gt; &lt;/span&gt;is done before. A child tend to conduct everything that is ever thought by parents.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;The
knowledge will be continued to the next generation and so on. In this
context , Berger calls it as a system referred to the arrangement as a
requirement in social life. Human is &lt;/span&gt;an&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;
instrument of objective social reality creation that is through
externalization process as it influences to the internalization
process. Externalization then expands the social rule
institutionalization so that the structure is the continuous process. ,
not as an ending that has been complete. The other way, objective
reality that is shaped by externalization will form the society again.
As third element, it is internalization or individual socialization
into objective social world. These three elements, such as
internalization, externalization and objectification move each other,
dialectically (Poloma, 2004: 302-303). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;This is related with &lt;em&gt;third dimension, , &lt;/em&gt;psychology
dimension, sexuality consists of action that is learned since the
beginning through the monitoring of parents’ behavior. Therefore,
parents have significant influence for the children sexuality. It is
often that the individual point of view as sexual human relates with
the parents performance of&lt;span&gt; &lt;/span&gt;their body within its action. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;It is also linked with &lt;em&gt;last dimension, &lt;/em&gt;ethic
and religion dimension, sexuality engages with ethic and religion
realization standard. If the created sexuality decision passes beyond
the individual ethic border, it will emerge the internal conflicts,
such as, feeling guilty, sinful, etc. The behavior spectrum about
sexuality has distance, start from traditional perception (sex only in
marriage) until the behavior that allows according to the person who
chooses it. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;In&lt;span&gt; &lt;/span&gt;other
word, sexuality is influenced by cultural norm and rule that determine
whether the action can be accepted or not based on the original
culture. So, globally,&lt;span&gt; &lt;/span&gt;the various cultures cause the
numerous variabilities in the sexuality norm that appear the big value
and conviction spectrum. For example, the action that is permitted
during in date, something that is considered to be pungent, sexuality
action type, the rules that forbid sexual action or the norms that can
determine someone whether it is possible to be married or not. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;In
the view of east culture, sex is a representation of central internal
dimension. As in Java’s culture, sex is not only biological interaction
but also a spiritual purpose. So, the summit of the dogma and sex
interpretation are to know the humanity history and perfectible human
life. Sex, lastly, refers to internal process in finding the meaning of
long road to become a human until carry the self as a human (&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;Suwardi Endraswara, 2006: 255).&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;
Firstly, there is a realization of feeling which a human in the men’s
and women’s feeling. The feeling is so magnificent that every life road
must be pure. The holy journey which is also pure causes us to have the
ability to pass&lt;span&gt; &lt;/span&gt;various prestige of life. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Therefore,
for east culture, most of them admit that sexuality has a sacred value
that must be proctected. The sexual activity is often interpreted as a
meeting between different sex that are male and female to accept the
reproduction process biologically. It will be an agreement, if it is
done through marriage institution. So, the interpretation of sexuality
tends to be embedded with term like ”taboo” that means it is not a good
action to be said or to be expressed clearly. As Yos’ utterance below :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;My
parent is also understand, if I am a conventional person type. I can’t
kiss my wife exaggeratedly that can be shown to many people. I will
feel uncomfortable and uneasy when we take a bath&lt;span&gt; &lt;/span&gt;together. To do sunbath is just a several period (&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://www.bebekrewel.com/&quot;&gt;http://www.bebekrewel.com&lt;/a&gt;, opcit)&lt;em&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Base
on those analysis es, actually, west culture and east culture have the
same perception that sexual is an important part of human civilization.
It means, they will take care the sexual activity to be avoided from
the risks. However, both of them also have the different behavior and
process to interpret the&lt;span&gt; &lt;/span&gt;plus values of sexual that is followed by the method of risk preventative.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;West
culture focuses on liberalism that sexual is an expression form even a
subjective right that is chosen consciously. So, they prefer&lt;span&gt; &lt;/span&gt;sex
education and safe sex as efforts to press the risks, such as,
socialization of contraception use to avoid the sexual infectious
disease or to prevent unwanted pregnancy. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Whereas,
in east culture, people claim the sexual on the sacred value as an
effort to protect the sexual actors from the risks. They internalize the&lt;span&gt; &lt;/span&gt;presses
of culture to drive someone to do not assume that sexual is a common
habit. Since, if sexual is done with everyone or in every time, it will
appear a jealously, feeling guilty, feeling sinful, unclear status even
disease. So, there are special qualifications to be followed, such as,
the norms of right sexual expression, term of taboo or understanding of
marriage to reach sexual legacy as the top feeling that is pure and
meaningful. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/culture-understanding-of-sexual-activity.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd5010980b3fb61000b?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>   
        </item> 
 
        <item>
            <title>Ujung-Ujung Makna</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/ujung-ujung-makna.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/ujung-ujung-makna.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/ujung-ujung-makna.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Wed, 22 Oct 2008 20:07:08 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;aku menemukanmu di sela-sela nafas yang hampir tesengal. Suaramu yang menyapa terdengar samar bahkan hampir menghilang seiring sunyi yang tidak mau berhenti memacu tubuhku untuk turut serta menggigil. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Jangan menyerah&amp;quot;, telingaku hanya berhasil menangkap kata-kata itu atau mungkin aku hanya membaca gerak mulutmu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku berupaya untuk menyahut. Namun hal itu sia-sia. Sebab hanya angin yang berhasil keluar tanpa gemuruh atau resonansi getaran yang bisa membuatmu mengerti.&amp;#160; Aku ingin mengatakan bahwa terlampau sulit untukku memilih menyerah. Terlalu banyak pertanyaan yang belum kau jawab. Pertemuan demi pertemuan itu selalu memberikan alasan untukku lebih banyak bermunajat denganmu. Aku tidak bisa menyerah. Aku masih ingin mencicipi seluruh duri dan madu di taman belukar emas itu, bersamamu. Namun, semakin aku berusaha untuk berucap, tubuhku semakin merasakan kesakitan yang luar biasa Tanpa sadar dan sungguh tanpa kuinginkan air mataku ikut menitik. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;quot;Sudah..sudah..&amp;quot;, samar-samar aku berhasil mengejamu dari gerak mulutmu. Sepertinya, aku tidak mampu lagi merengkuhmu dengan keutuhan kelima indraku. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku melihat lekuk-lekuk wajahmu yang menegang. Mungkin kau juga merasa kesakitan karena ketidakmampuanku menjawabmu. Sementara sebetulnya, kau juga mendamba aku untuk segera bicara setelah seminggu mengalami koma. Terbaring di tempat terkutuk berbau kreolin bercampur aroma obat suntik dan mungkin berbaur dengan macam-macam larutan ganja, nikotin, dan seterusnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, aku berhasil lagi membuka mata. Aku ingin menyampaikan banyak hal. Aku ingin bersorak dan menarik tanganmu untuk menari bersama. Merayakan keberhasilanku bernegosisasi dengan maut. Karena seperti biasa kamu pasti akan mengucapkan &amp;quot;Great!&amp;quot; untuk setiap pencapaian-pencapaianku. Tapi sepertinya saat itu tidak sekarang. Sebab aku masih harus melawan rasa lemah yang ada. Aku mesti mendobrak berontaku untuk bisa lebih sabar menunggu seluruh indraku berfungsi kembali atau mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aku memilih diam tanpa gumam. Kau pun menangkap itu dan membimbingku untuk memilih cara yang lain saja. Mengeratkan genggaman dan saling memandang dengan senyum. Biarkan hati saja yang berkelana menemui ujung-ujung makna.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;#160;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/ujung-ujung-makna.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fa96a4946e0002?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>   
        </item> 
 
        <item>
            <title>Kenapa Harus Jawa???</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/kenapa-harus-jawa.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/kenapa-harus-jawa.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/kenapa-harus-jawa.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Fri, 03 Oct 2008 08:03:12 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;
Kenapa harus Jawa?&lt;br /&gt;pertanyaan yang tiba-tiba muncul di lebaran kali ini. Karena saat pertemuan keluarga besar kemaren, tiba-tiba saja satu persatu mendatangiku dan mengatakan untuk mencari jodoh orang jawa saja. Ah, baiklah mungkin secara adat, budaya dan karakter aku bisa memahaminya mengapa mereka sampai keukeuh bicara seperti itu. Tapi apakah benar serepot itu? Berikut adalah diskusi atau lebih tepatnya wawancaraku dengan seorang wartawan..(mana ya??? ra dong), cuma kayanya liputannya pernah dimuat di citizen journalism-nya metro tv deh..
    
    
    

    
    
    
&lt;div at:enclosure=&quot;asset&quot; at:xid=&quot;6a00cd973afd264cd500fad6b16a520005&quot; at:format=&quot;medium&quot; at:align=&quot;right&quot;
    class=&quot;enclosure enclosure-right enclosure-medium photo-enclosure&quot; 
     style=&quot;text-align: center; float: right;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;enclosure-inner&quot;
    
        style=&quot;padding: 9px; border: 1px solid; width: px; margin: 0 0 20px 20px;&quot;
    &gt;
    &lt;div class=&quot;enclosure-list&quot;&gt;
        &lt;div class=&quot;enclosure-item photo-asset last&quot;&gt;
    
            &lt;div class=&quot;enclosure-image&quot;&gt;
        
                &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fad6b16a520005.html&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://a2.vox.com/6a00cd973afd264cd500fad6b16a520005-200pi&quot; alt=&quot;Satrio_mataram&quot; title=&quot;Satrio_mataram&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
        
            &lt;/div&gt;
            &lt;div class=&quot;enclosure-meta&quot;&gt;
                &lt;div class=&quot;enclosure-asset-name&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fad6b16a520005.html&quot; title=&quot;Satrio_mataram&quot;&gt;Satrio_mataram&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
            &lt;/div&gt;
    
        &lt;/div&gt;
    &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;!-- end enclosure --&gt;

&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Desintha Dwi Asriani: mas&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: aku mau nanya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: pernah denger ga, kalau orang jawa itu jangan sampai menikah dengan orang luar jawa?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kenapa to alasannya?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gak&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: paling takut gak bisa bahasa jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hihihih&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: sialan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lah ada po orang luar jawa tu?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wong luar jawa isine wong jawa kabeh&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya maksudku tetep ada kan kebiasaan yang berbeda&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: antara orang jawa dengan orang sumatra misalnya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang sumatra sing endi?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang sumatra sing trans yo tetetp ae kebiasane jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bahasane jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya, padang atau lampung misalnya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: yang sterotypenya orang sumatra itu keras&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: eiits...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: sementara orang jawa itu halus katanya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jangan salah lho..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang lampung tuh isine wong jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bahasane jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya orang padang misalnya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya, lampung emang ga jelas daerahnya, semua campur disana&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kalau padang atau minang gimana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jogja juga&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: emang kenapa tanya gtuan ?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: nanya aja&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kemaren pas lebaran&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: keluargaku pada nasehatin aku gitu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kalau cari jodoh jangan sama orang luar jawa &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: yang jawa aja&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: emang pacar kamu orang mana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: yee malah nanya pacar&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lho...kan itu yang mendasri nasehat&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: dari keluarga kamu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena kamu akrab-nya si si poltak aja&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: maka ya keluarga takut&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kamu jadi orang batak&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kan orang batak gak bisa pesen baju lebaran&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: maksudnya?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bisanya LEBAR-an&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ga dong&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: maksudnya gimana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang batak gak bisa pesen baju Lebaran..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bisanya pesen baju Lebar-an (kegedhean-)&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: huuuuuuuu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: dasar&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wong pesennya yang lebar lebar&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: serius ki&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lah yao serius..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: pacarmu cah&amp;#160; mbatak po?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: eh kenapa si mas&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa sebetulnya orang jawa itu punya sistem kasta, &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi ga terpublikasi layaknya batak dan bali?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: he..he...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: iki takone arep ngeyel po mergo ra ngerti?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nek mung arep ngeyel yo wis ngeyee ae&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: aku ga tau bener&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: sumpah&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kenapa si mas?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: oke gini&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kamu sama ortu kamu bicara pakai bahasa jawa ngoko atau krama?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ngoko&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sama nenek?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sama tetangga?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: nenek dan tetangga ya kromo&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: pernah bertanya kenapa?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kok kamu menjalaninya juga?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya kan kulturnya gitu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: yang muda menghormati yang tua&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yup&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: disitu kesimpulannya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wis faham?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: enggak&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: weleh...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: trus kenapa ga jawa mas?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: aku belum nyantol ki?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hubungannya apa sama yang bukan jawa?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gini...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: emang yang bukan jawa itu ga hormat ya?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: iki malah dadi pelajaran sosiologi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bahasa adalah bagian dari sebuah kultur budaya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: lalu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: di jawa, sopan santun adalah bagian dari kultur yang maish dipegag teguh&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: lalu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sebagai manifestasi harga diri seseorang&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang muda menghargai yang tua&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lewat bahasa jromo&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: trus&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kondisi ini tiak mesti ada di beberapa suku diluar jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena kultur mereka tiak menggangp penting&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: lalu?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kultur jawa adalah kultur yang paling kompleks&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jadi...banyak aturan yang harus ditaati&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ttapi kaya filosofi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nh...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: anyak hal yang ada dalam kultur jawa tetapi tidak ada di kultur orang luar jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ummm&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: trus&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nah..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: perkawinan antar kultur...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: dikhawatirkan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: akan adanya perbenturan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: antar masing-masing&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: indiveidu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: sama dengan batak juga?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: mereka juga ada ordo2 tertentu bukan?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: mungkin sama&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: padang juga ada?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetapi kan&amp;#160; beda siffatnya dengan jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya si&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: setahuku orang batak tak mengenal perbedaan bahasa antar orang tua dengan orang muda&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nah..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: perjodohan...atau lebih khusus perkawinan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bukan sekedar persatuan dua indiviedu/pesonil&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetapi juga keluarga&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kerabat&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: famili&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jadi.......&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: butuh rasa toleransi luar biasa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: antar famili dalam memahami perbedaan kultur&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ummm&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang sumatra mialnya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ada salah satu suku&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang mensaratkan agar sebelum jadi pengantin&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sang calon, harus tinggal serumah dulu dengan calon pria&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: istilahnya... membaur &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetapi itu menjadi tidak biasa di jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: padahal kebiasaan begini tak bisa disatukan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: trus gimana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: susah to?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang jawa khae=watir... saat membaur, ternyata cewek dikerjain&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: trus ditinggal&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gak jadi diperistri&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: susah to?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nah....&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: timbang repot..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kakehan pikiran nantinya..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tya wis &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: golek ae&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wong jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: eh mas&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi kenapa ya, mereka alasannya orang jawa itu halus dan yang bukan jawa itu kasar?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa perbedaan kultur itu berpengaruh juga pada karakter?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kebalik&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bukankah masing2 memiliki kompleksitas aturannya sendiri?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karakter itu yang membentuk kultur&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kultur kan kebiaaan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kultur kan kebiasaan&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: umm jadi karkater pesisir dan agraris itu yang membedakan dalam membentuk kebiasaan?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bisa aja kan, orang sumatra bilang orang jawa itu kasar?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bukankah itu relatif?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nggak dong..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gampange le mikir gini&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: d sumatra...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: atau tempay luar jawa..kalimantan misale&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kondisi ekonomis dan geografis mereka tak seberuntung seperti di jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: mereka harus berjuang agar mereka bisa bertahan hidup&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang deket hutan harus berburu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang deket laut harus melawean ombak ganas&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: beda dengan orang jawa yang sangat agraris&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: hampir semuanya mereka dimanjakan alam&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ini relatif membuat mereka bisa lebih sabar&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena tak terbiasa menjadi petarung&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya si&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nah..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karakter seorang petarung, perantau atau petualang&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: adalah karakter yang sangat keras&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena hanya dengan cara itu emreka hidup&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: jadi sebetulnya yang perlu didamaikan itu budayanya atau pemahaman karakternya mas?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lho...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kok damai...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: emangnya musuhan?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: maksudku&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kalau misalnya kedua suku (jawa dan bukan jawa) itu disatukan&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: misalnya itu mungkin&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: he..he...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa yang perlu didamaikan, karakternya atau budanya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa yang dikhawatirkan&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: oleh orang jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: mereka khawatir tidak bisa didamaikan yang mananya?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gini lho..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kultur/kebiasaan kan bukan suatu hal yang salah&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: misalnya: kamu terbiasa makan dengan tangan kanan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sementara temenmu terbiasa makan dengan tangan kiri&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: apakah harus didamaikan ?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kan semua merasa mempunyai kenyamanan masing2&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bukan&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: maksudku&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: sebetulnya apa yang dikhawatirkan orang jawa?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: budanya atau karkater bawaan yang ga bisa disesuaikan?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ya kesulitan memahami karakter yang telah menjadi kultur&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: suli menerima kebiasaan?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kultur/ budaya khan hubungannya tak lagi personal&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: misale : orang batak yang terbiasa bicara keras&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sementara orang jawa terbiuasa biasa pelan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: perlu ada toleransi budaya to?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lantas siapa yang harus mengalah ?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang jawa bicara aja perlu dua bahasa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kromod an ngoko&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang batak gak perlu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: dia harus mampu bicara dua bahasa jika berkomuniasi dengan orang jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jika tidak.. khan jadi kurang ajar&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: masak ya saa embahne dia bilang...gundulmu mbah..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: waaaaaaaaa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bisa perang bubat tuh&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hahahahahaha&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gitu lho...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: eh mas&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi kan kadang itu yang dipikirin para orang tua?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kenapa gitu mereka berpikir sejauh itu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lho....&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bukankah meskipun perkawinan itu mengawinkan kluarga&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi tetep saja kan ukuran2 kenyamanan yang dua orang yang ngejalanin?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kenyamanan yang mana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kamu nyaman juga kalau suamimu..nggundul2ke embah kamu gitu ?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya misalnya kalau sama orang batak&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kan da tau kalau batak ngomong kasar itu ga memulu berarti kasar bagi mereka&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: berarti kan ya fine2 aja to&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: bisa dipahami kan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: fine dalam ukuran kita&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: belu tentu dalam pemahaan orang tua&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wis.. pikirane dibalik&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kalau kita jadi orang tua&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: nah tapi kan yang ngejalani bukan orang tua mas&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: egois ya mikir gitu?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yup&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: wis.. pikirane dibalik&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kalau kita jadi orang tua&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tiba2&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kita punya anak yang seperti yang berbuat gtitu sama orang tua&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kita&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tiba2 kita digundul2ke sama menantu kita&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hihihihihihi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gimana perasaan kamu?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya si&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: terus gimana dunk mas?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: cari yang jawa aja gitu/&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lah ya gak gimana2&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sebaiknya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nek ra pengen repot&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gitu lho..&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: masa si serepot itu?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa bakal separah itu?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yo dicobaja dulu &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kira repot gak?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: dicoba gimana?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ya pacaran sama orang batak&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: atau orang apalah gtu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: umm mas&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kira2 repot gak gtu lho..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: emang orang jawa gak ada yang cakep po? sampai harus milih orang luar jawa&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hahahaha&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: setahuku...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: orang luar jawa yang cakep cuma orang timor leste keturunan portugis&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: selebihnya mending orang jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apanya yang mending?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tapi itu aku lho...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ya segalanya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ya kalau perempuannya si emang mending jawa banget&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kalau lakinya?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: sama juga&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hahaha&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lha ya gak tahu nek kamu seleranya orang irian, atau maluku yang kritig2 gtu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: hahhahaha&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: eh tapi mas&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kau survei aja deh&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apakah setiap orang jawa itu pasti memiliki pemhaman jawa?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: nggak&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: lalu?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tergantung dimana mereka tinggal&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetapi...ada satu hal.. yang akan membuat mereka gampang memahami&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: apa/.&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kulyur jkawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ikatan darah&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: maksudnya?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ikatan darah akan mampu membangkitkan pemahaman kejawaan seseorang&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: ikatan darah itu yang seperti apa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: meski sebelumnya mereka kurang jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: ya...kesadaran bahwa orang itu keturunan adari orang jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jadi saat diberikan pemahanam kejawaan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karakter yang mengalir dalam setiap tetes darah itu yang akan bereaksi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kan garus darah gak biasa diralat&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: oh gitu ya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yup&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: umm&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: tapi apakah kebiasaan itu ga bisa dipelajari mas?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: serepot itulah mempelajari kebiasaan pasangan kita yang beda kultur?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kita secara indiveidu mungkin gak terlalu sulit&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetapi masyarakat ?&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: apakah sama juga dengan kita?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: oh tuhan&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: begitu kah&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: lah kamu nikah mau hidup sendiri atau bermayarakat juga?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bisa kah kita terima ketika tiba2 suami kita bicara kasar sama lurah kita, rw kita&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: rt kita?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: aku lupa, ini indonesia&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: makanya...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena ketidak tahuan suami kita...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tiba2 suami /istri kita bilang....wehhh. pak lurah,,ngopo petahilan&amp;#160; neng kono...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: &lt;br /&gt;sulistyawan jogja: piye rasa kita?&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: aku paham sekarang&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: makasi ya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jadi...&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: biarlah suku berkembang atas dasat suku mereka&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kita erkembang dengan suku kita&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang penting..&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: antar suku saling jaga toleransi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kerukunan&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: untuk tidak saling mengganggu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: dan keterbastasan komunikasi itu&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kemudian dijembatani dengan bahasa indonesia&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gtu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: mulane..&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: kayak sumpah pemuda ye&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kalau kamu suatu saat menikah&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: tetep ajarkan kultur jawa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: dalam keluarga&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: iya lah&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: pasti itu&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena memang itu jaya dengan filosofi&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: kalau orang tua harus kita panggil dengan bahasa jawa kromo&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: rasanya bukan tidak demokratis&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: karena kita memang berutang jasa&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang tak terbalas&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: yang tak mungkin dapat terbalas&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: bahasa jawa kita pakai sebagai bahasa penghormat&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: selaku anak muda&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: toh.. itu juga yang akan diberikan anak kita&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: jika kita tua nantinya&lt;br /&gt;sulistyawan jogja: gitu lho...&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: oke deh&lt;br /&gt;Desintha Dwi Asriani: makasi ya..

. &lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/kenapa-harus-jawa.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fae8e3c3be000b?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>    
        </item> 
 
        <item>
            <title>Tidak Ada Alasan</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/tidak-ada-alasan.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/tidak-ada-alasan.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/tidak-ada-alasan.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Tue, 30 Sep 2008 05:17:26 -0700</pubDate>         
            
            <description>    

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah sejak lama sebetulnya
merasakan kegelisahan atas apa yang dilihat, dirasakan, mungkin juga dilakukan.
Beberapa kali menengok blog teman (mungkin terlalu sering, jadi tidak menulis
di blog sendiri), cukup membuatku terusik. Dua kali tema perselingkuhan ditulis
berikut analisis yang sangat lembut sehigga mampu menusuk hingga ke rusuk. Pertama,
dia menuliskan tentang alasan perempuan bersedia menjadi patner berselingkuh
laki-laki beristri. Disebutkan, bahwa perempuan cenderung menikmati sebuah rasa
atau sensasi. Emosi yang dipermainkan menjadi sebuah candu yang selalu dinanti
sekaligus dibenci. Berdalih dengan rasa cinta, kesabaran, dan mungkin juga
pengorbanan perempuan-perempuan tersebut membangun istananya untuk bersembunyi
agar tetap mampu bertahan untuk setia ‘digombali’. Namun jika ditinggal, dia
akan meraung-raung minta keadilan. Sekilas tampak begitu menggemaskan dan
menyedihkan. Lagi-lagi bias gender yang sudah berabd umurnya tetap dapat
dijadikan kambing hitam. Perempuan cenderung mengalami subordinasi yang
dimanfaatkan, baik dari segi ekonomi, mental, politik, dan seterusnya. &lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua, dalam blog itu berkisah
mengenai motif para suami untuk berselingkuh. Diawali dengan penjelasan
teoritis bahwa laki-laki adalah seonggok bayi yang tidak pernah dewasa. Sehingga
kesehariannya hanyalah bermain-main. Kecenderungan ini juga dilandasi atau
didukung oleh budaya patriarkhi yang selalu memanjakan laki-laki daripada
perempuan. Sehingga kedewasaan yang dibuktikan melalui ketahanan-ketahanan
mengahadapi cobaan hidup selalu mampu dilewati dengan lebih baik oleh perempuan
daripada laki-laki. Maka bisa jadi ketika laki-laki tertekan karena tidak
sanggup memenuhi standar sebagai figur nomer satu dalam keluarga, dirinya juga
tidak tahan terhadap godaan untuk melarikan diri dari beban-beban tersebut dengan
berselingkuh. Seperti halnya anak-anak, merasa bosan dengan mainannya, maka
dirinya akan beralih sejenak pada mainan yang lainnya tanpa berpikir&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;masing-masing harus benar-benar diselesaikan.
Jenuh dengan keseharian istrinya maka beralih sejenak pada perempuan baru. &lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menarik memang. Sebab jika
dikaitkan dengan yang pertama, sekilas tampak terjadi paradoks. Perempuan bersedia
di-selingkuh-i karena dia sungguh menikmati ketidakstabilan adrenalin yang
mungkin mengasikkan. Tapi, di cerita yang kedua, disebutkan bahwa perempuan
sebetulnya lebih mampu menanggung resiko jika dibandingan laki-laki karena daya
tahannya menghadapi dinamika hidup. Hanya saja (seperti yang juga sempat
diceritakan) tak jarang perempuan yang menjadi patner berselingkuh akhirnya
juga ‘termehek-mehek’ ketika dirinya sadar bahwa tak juga cukup beralasan untuk
diperjuangkan. Dengan kata lain, laki-laki memilih kembali ke wilayah amannya,
yakni istrinya daripada kepada selingkuhannya. Alasannya bisa bervariasi, bisa
karena takut kehilangan status PNS-nya, kehormatan keluarga besar, ekonomi yang
pas-pasan, atau yang lebih melankolis adalah alasan anak. Sementara perempuan-perempuan
subjek perselingkuhan tadi, hanya diam sambil tidak berhenti menggurutu atau
menangis. Tidak jelas memang. Namun seharusnya, jika perempuan dikatakan
memiliki kemampuan menghitung resiko dengan lebih cermat daripada laki-laki, tak
seharusnya dirinya seolah-olah merasa juga korban dari pilihan sikap yang
beresiko. Sebab pilihan untuk menjalani hubungan dengan suami orang tentu telah
disadari bahwa dirinya akan membentur berbagai macam bentuk struktur sosial
yang sudah teratur dalam ritmenya sendiri, baik itu dalam bentukan budaya
maupun secara hukum. Seperti di Indonesia perempuan akan cenderung menjadi
pihak yang salah dan kalah. Masyarakat lebih sering akan menyebutnya ‘pengganggu
rumah tangga orang’. Sementara hukum akan tetap mengganggap wajar laki-laki
berselingkuh, sebab asasnya memang laki-laki dilegalkan berpoligami. Jadi tidak
ada ruang bagi perempuan untuk memperjuangkan ketidakadilan dalam
perselingkuhan. &lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berlandaskan pertimbangan-pertimbangan
yang cukup mudah tersebut, perempuan yang ditasbihkan sebagai makhluk dewasa
pasti akan mengkomunikasikan logika-logika yang bernilai resiko tersebut pada
pasangan selingkuhannya. Setidaknya, jika pasangannya mengetahui nilai-nilai
resiko yang sedang dipikirkan, hal ini dapat dijadikan sebagai bagian dari
upaya mengurangi resiko. Misalnya, ketika perempuan mengatakan tentang
keinginannya untuk dinikahi (karena merasa sudah berkorban dan cinta setengah
mati), kemungkinan ketahuan istrinya, teman kantor, atau malah bos sendiri dan
seterusnya. &lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sementara laki-laki, jika
dikaitkan dengan teori mars dan venus, mereka disebutkan sebagai kelompok jenis
kelamin yang lebih banyak mengandalkan rasionalnya daripada perempuan yang
cenderung mengangungkan irama emosinya,. Artinya, jika rasioanal itu benar
dimainkan, maka segala bentuk permainan yang akan membentur struktur dan kultur
yang terlihat, terdengar, terasakan, dan tersentuh tersebut, dapat dipikirkan
sebelumnya maupun sesudahnya. Laki-laki dengan daya rasionalnya, seharunya &lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;juga mampu menangkap dengan baik., logika-logika
resiko yang disampaikan. Setidaknya dirinya akan mulai berpikir tentang apa
yang akan dilakukanya jika, istrinya mengetahui dan meminta perceraian, bagaimana
reaksi keluarga besar jika dirinya terpergok berselingkuh, bagaimana nasib dan
pemenuhan hak anaknya jika orangtuanya tak lagi harmonis, bagaimana dirinya
mendamaikan kultur orang-orang disekitarnya jika dirinya memilih menikahi
selingkuhannya, bagaimana menghadapi cemooh orang, dan seterusnya. Dialog-dialog
semacam itu, tentu akan menjadi bagian yang bisa dilakukan oleh manusia yang
memiliki pengalaman dalam berpikir sebagai langkah terpendek, jika nurani
sedang mengalami ketumpulan. Sehingga, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama
dapat tumbuh menjadi manusia yang dewasa, tidak gegabah, dan hanya mengejar
kenikmantan semata. 
    
    
    
&lt;/p&gt;
    
    
    
&lt;div at:enclosure=&quot;asset&quot; at:xid=&quot;6a00cd973afd264cd500fad6b0984b0005&quot; at:format=&quot;medium&quot; at:align=&quot;right&quot;
    class=&quot;enclosure enclosure-right enclosure-medium photo-enclosure&quot; 
     style=&quot;text-align: center; float: right;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;enclosure-inner&quot;
    
        style=&quot;padding: 9px; border: 1px solid; width: px; margin: 0 0 20px 20px;&quot;
    &gt;
    &lt;div class=&quot;enclosure-list&quot;&gt;
        &lt;div class=&quot;enclosure-item photo-asset last&quot;&gt;
    
            &lt;div class=&quot;enclosure-image&quot;&gt;
        
                &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fad6b0984b0005.html&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://a3.vox.com/6a00cd973afd264cd500fad6b0984b0005-200pi&quot; alt=&quot;due&quot; title=&quot;due&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
        
            &lt;/div&gt;
            &lt;div class=&quot;enclosure-meta&quot;&gt;
                &lt;div class=&quot;enclosure-asset-name&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fad6b0984b0005.html&quot; title=&quot;due&quot;&gt;due&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
            &lt;/div&gt;
    
        &lt;/div&gt;
    &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;!-- end enclosure --&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akhirnya (atau terlalu singkat untuk mengatakan akhir?).
sulit untuk menemukan alasan apapun, baik laki-laki maupun perempuan untuk
melakukan perselingkuhan. Sebab seluruh keseimbangan baik secara individu dan
sosial yang minimal mampu dijelaskan dengan rasional, logis dan sistematis saja
akan terganggu bahkan hancur tak bersisa. Jika sudah demikian, apa lagi yang
mampu dijadikan mesiu untuk meraih kebaikan sebagai hakekat manusia dalam
berelasi?&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;Terima Kasih Sigi, atas catatan-catatannya, yang membuatku berharap semoga kamu menjadi bagianku yang baik hingga terbaik...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

     &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/tidak-ada-alasan.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd50100a7ff6194000e?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>    
        </item> 
 
        <item>
            <title>Get More..</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/get-more.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/get-more.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/get-more.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Thu, 03 Jul 2008 01:45:12 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-98%7CX&quot;&gt;PEREMPUAN MENJAWAB TANTANGAN PERUBAHAN&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/get-more.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fad6962a630005?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>   
        </item> 
 
        <item>
            <title>cannot be ignored..</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/cannot-be-ignored.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/cannot-be-ignored.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/cannot-be-ignored.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Wed, 25 Jun 2008 19:12:14 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 class=&quot;contentheading&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mediabersama.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=1939:opini&amp;amp;catid=932&amp;amp;Itemid=266&quot;&gt;&lt;span class=&quot;contentpagetitle&quot;&gt;
		Di Balik Aksi Kekerasan Geng Nero&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/cannot-be-ignored.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fad693fc460005?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>   
        </item> 
 
        <item>
            <title>Let&#39;s Move on</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/lets-move-on.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/lets-move-on.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/lets-move-on.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Sat, 21 Jun 2008 05:50:36 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://mediabersama.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=1869:perempuan-petani-yang-tak-henti-berproses&amp;amp;catid=935&amp;amp;Itemid=269&quot;&gt;http://mediabersama.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=1869:perempuan-petani-yang-tak-henti-berproses&amp;amp;catid=935&amp;amp;Itemid=269&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/lets-move-on.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fae8c4eae4000b?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>   
        </item> 
 
        <item>
            <title>Tidak Hanya Sekedar + dan -</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/tidak-hanya-sekedar-dan--.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/tidak-hanya-sekedar-dan--.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/tidak-hanya-sekedar-dan--.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Sat, 21 Jun 2008 05:42:17 -0700</pubDate>         
            
            <description>    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #000000&quot;&gt;&lt;strong style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-tab-count: 1&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify&quot;&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; &lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;Banyak cara untuk melihat sesuatu. Banyak hal untuk menafsirkan fenomena. Namun tidak banyak yang mampu bertindak bijaksana dalam menyikapinya. Akhirnya, yang terjadi justru eksploitasi, dominasi dan manipulasi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #000000&quot;&gt;&lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-tab-count: 1&quot;&gt;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160;&amp;#160; &lt;/span&gt;Kehadiran diri, sebagai manusia di tengah masyarkat, wajar jika selalu mengalami kebingungan. Kenyataan yang terangkum dalam peristiwa dan kejadian tidak pernah surut keberadaannya. Tidak hanya hal yang baik secara konstruktif, tapi juga yang dianggap menyimpang secara kultural. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia; mso-ansi-language: SV&quot;&gt;Kesemua ini, tentu akan terus bergulir seiring dengan persepsi yang muncul. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;Persepsi, tentu juga disertakan argumen yang sama gamblangnya Inilah yang akhirnya membuat otak kita kacau, jika tidak boleh disebut mengalami kebuntuan. Prinsip-prinsip “normatif” tergoyangkan begitu hebatnya, bahkan cukup mengombang-ambingkan keyakinan kita. Apakah akan bertahan dengan peranan sebagai individu tunggal, yang dengan bebas mengekspresikan kuasanya, ataukah, melangkah saja di titik aman, dengan mengamini segala struktur normatif. Terkotak-kotak pada kategoris biner-benar dan salah-selesai. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;NL&quot; style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia; mso-ansi-language: NL&quot;&gt;Masalah orientasi seksua&lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;&lt;span style=&quot;mso-tab-count: 1&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

    
    
    
&lt;div at:enclosure=&quot;asset&quot; at:xid=&quot;6a00cd973afd264cd500fa968059cf0002&quot; at:format=&quot;medium&quot; at:align=&quot;right&quot;
    class=&quot;enclosure enclosure-right enclosure-medium photo-enclosure&quot; 
     style=&quot;text-align: center; float: right;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;enclosure-inner&quot;
    
        style=&quot;padding: 9px; border: 1px solid; width: px; margin: 0 0 20px 20px;&quot;
    &gt;
    &lt;div class=&quot;enclosure-list&quot;&gt;
        &lt;div class=&quot;enclosure-item photo-asset last&quot;&gt;
    
            &lt;div class=&quot;enclosure-image&quot;&gt;
        
                &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fa968059cf0002.html&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://a7.vox.com/6a00cd973afd264cd500fa968059cf0002-200pi&quot; alt=&quot;Ws_Dashboard_1920x1200&quot; title=&quot;Ws_Dashboard_1920x1200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
        
            &lt;/div&gt;
            &lt;div class=&quot;enclosure-meta&quot;&gt;
                &lt;div class=&quot;enclosure-asset-name&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fa968059cf0002.html&quot; title=&quot;Ws_Dashboard_1920x1200&quot;&gt;Ws_Dashboard_1920x1200&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
            &lt;/div&gt;
    
        &lt;/div&gt;
    &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;!-- end enclosure --&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-ALIGN: justify&quot;&gt;l misalnya. &lt;/p&gt;
&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;MARGIN: 0in 0in 0pt; TEXT-INDENT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;FONT-SIZE: 11pt; FONT-FAMILY: Georgia&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #000000&quot;&gt;Fenomena yang ada semakin beragam. Heteroseksual, homosesual, lesbian, binan, maupun biseksual. Otak kita bekerja seringkali terjebak pada pilihan-pilihan untuk mengamini atau, sekadar menolaknya mentah-mentah. Ya atau tidak, benar atau salah, baik atau buruk. Itulah kebiasaan cara berfikir yang hitam putih, terus-menerus tereproduksi untuk memahami realitas. Sementara, keberagaman, dalam bentuk apapun tidak pernah terpangkas pertumbuhannya. Justru, nampak semakin subur, berkembang melintasi struktur. Tidak jarang juga memiliki daya pikat. Apakah ini masuk menjadi bagian sebagai cara yang solutif, ataukah malah membingungkan? Keberagaman, tentu akan bermakna jikalau dipahami secara kritis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/tidak-hanya-sekedar-dan--.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fa968059a60002?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>    
        </item> 
 
        <item>
            <title>Mbak Ana mampu Bangkit!</title>
            <link>http://puan.vox.com/library/post/mbak-ana-mampu-bangkit.html?_c=feed-rss-full</link>   
            <author>nobody@vox.com(save the breath from the bottom!)</author>
            <comments>http://puan.vox.com/library/post/mbak-ana-mampu-bangkit.html?_c=feed-rss-full</comments>
            <guid isPermaLink="true">http://puan.vox.com/library/post/mbak-ana-mampu-bangkit.html?_c=feed-rss-full</guid> 
            <pubDate>Sat, 07 Jun 2008 23:05:48 -0700</pubDate>         
            
            <description>    

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perempuan itu kembali datang
kerumah. Ya, seperti biasanya, dia akan mengambil bagian dari pekerjaan yang
telah disepakati. Meskipun tidak setiap hari, tapi kehadirannya dua atau tiga
hari sekali cukup membantu kami untuk bisa menikmati suasana rumah yang bersih
dan rapi. &lt;span lang=&quot;FI&quot; style=&quot;&quot;&gt;Seperti biasa, dia
menaikki tangga untuk berada di meja kerja di lantai dua rumah kami. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Termasuk orang yang pendiam, dia hanya
menyapa dengan senyum saat berpapasan denganku yang sedang menuruni tangga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Hai mbak Ana”, sapaku pada perempuan cantik berdarah Lampung ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Setelah itu, aku kembali ke kamar dan menyanding beberapa novel yang terbeli
tapi belum sempat terbaca. Mbak Ana&amp;#160; pasti sedang asik membuat baju-baju menjadi
licin, terlipat rapi, menyempurnakan kebersihannya. 1 jam, 2 jam, ah ya, tepat
di durasi jam yang ke 3, terdengar langkah Mbak Ana menuruni tangga dan membawa
setumpuk baju yang siap di tata di lemari. Kami menyukai ketulusannya bekerja.
Tampak dari lipatan baju yang selalu dia susun sesuai dengan garis jahitan. Oleh
karena itulah, kami sangat menghargainya. Memberikan jam kerja yang dia suka,
boleh memilih pagi atau saat siang menjelang sore. Dia bisa datang kerumah,
mengambil porsi kerjanya tanpa mengganggu kepentingannya yang lain juga tanpa
mengusik waktu istirahatnya saat lelah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Setiap kali selesai menyelesaikan pekerjaan, biasanya dia langsung
berpamitan untuk pulang. ”iya, terima kasih ya mbak” begitu biasanya aku
mengiyakan pamitnya. Tapi sore ini tidak begitu. Dia diminta ibu untuk membantu
menyiapkan acara arisan yang akan diadakan besok. Aku pun tak ketinggalan
didaulat untuk membersihkan beberapa alat makan. ”Pfff, waktu membaca novel
menjadi tertunda lagi”, keluhku dalam hati. Tapi tak apalah, karena aku selalu
mencintai kebersamaan dengan ibuku, entah apapun itu bentuknya. Maka terjadilah
kerja bakti beberapa perempuan sore itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Suamimu tidak pulang lagi, Na?” ibu mengawali pembicaraan.
Seketika aku memperkirakan bahwa ini akan menjadi perbincangan yang menarik, jadi
kuputuskan untuk mencuri dengar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Iya bu, ga pulang lagi. Biasa, menemui perempuan itu lagi”, begitu tenang
Mbak Ana menjawabnya. Aku masih menyimak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Ya sudahlah, Na ga usah dipedulikan. Diamkan saja daripada ribut-ribut,
ntar suamimu malah jadi senang karena merasa diperebutkan”. Loh..loh ibuku kok
jadi menyuruh diam. Ada kata-kata ”diperebutkan” pula. Jadi ada persaingan. Siapa
yang bersaing? Tungggu, tadi mbak Ana juga menyebutkan tentang ”perempuan lain”
yang menyebabkan suaminya tidak pulang. Kalau misalnya, perempuan itu istri sah
alias ada poligami yang disepakati bersama, maka tidak seharusnya mbak Ana risau
dan ketenangannya menjawab dapat memperlihatkan hal itu. Tapi ibuku justru
mengungkapkan resistensinya. Apakah perempuan lain yang dimaksud, dalam
kacamata ibuku adalah bagian dari perselingkuhan? Ah....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Aku pernah bilang kok bu, kalau memang mas Joko ingin terus-terusan sama
perempuan itu, ya ceraikan saja aku,” Oh, jadi benar, ada perselingkuhan&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;disini.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;
&lt;/span&gt;Mas Joko suami mbak Ana ternyata tidak pulang karena tidur dirumah
perempuan lain itu. Seketika aku mengumpat dalam hati!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Nah, lalu apa kata suamimu?” lanjut ibuku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Ya, dia bilang dengan entengnya kalau ga mau bu. Alasannya karena ga mau
memilih dan suka dua-duanya,” nada mbak Ana tampak meninggi. Huh, keserakahan cenderung
menimbulkan kepedihan bagi perempuan. Aku sedih dan marah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Heh, kurangajar betul suamimu itu ya! Lalu bagaimana, Na?” aku masih diam
mendengarkan dan adrenalin ibuku sudah mulai terkoyak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Ya mbuhlah, bu. Aku juga tidak tahu. Dilajutkan ribut juga ga memberikan
aku keuntungan apa-apa. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot; style=&quot;&quot;&gt;Toh,
dia ga menafkahi pun, aku dan anakku juga ga kekuarangan, ” ih, apa se maunya
laki-laki ini. Berpisah tidak mau, bertanggungjawab sebagai bagian dari
komitmen yang pernah diikrarkan pun enggan. Kupikir ini bisa disebut dengan
kekerasan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Ya dah, tinggal pergi saja suamimu itu. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Tidak usah diajak bicara lagi. Diurus aja
perceraianmu,” ibuku mulai berubah pikiran. Tidak menyuruh mbak Ana diam tapi memprovokasi
mbak Ana untuk menggugat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Masih setia menjadi pendengar, kepalaku mulai bergerak menyusun strategi. Menurutku
mbak Ana adalah korban dan harus didampingi untuk memperjuangkan hak nya
sebagai istri dan perempuan. Maka kalau diminta membantu aku akan memulai
dengan mengarahkan mbak Ana (korban)&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;
&lt;/span&gt;untuk bersama-sama memetakan masalah mulai dari bagaimana hubungannya
dengan suaminya, kemunculan perempuan lain, kondisi psikologis yang terjadi
hingga wacana Undang-undang sebagai basis untuk mengadvokasi kasus ini.
Lalu&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;mengklarifkasi beberapa temuan
masalah seperti penolakan suami untuk bercerai, tidak memberi nafkah, dan
beberapa ketidakadilan yang dialami. Dilanjutkan dengan&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;ekplorasi detail yang bisa dijadikan
solusi lalu membuat beberapa alternatif keputusan. Tentu saja keputsan untuk
bercerai! Pilihan akan merujuk mengenai beberapa langkah yang diinginkan agar
perceraian merupakan pilihan yang rasional dan memudahkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;”Ah ya bu. Saya sekarang senang&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;bisa
membelikan buku-buku dan baju baru buat Vika. Mas Joko biar mengurus dirinya
sendiri. Sekarang saya mau bekerja untuk Vika. Dia kemaren dapat juara kelas
lagi dan saya mau dia seperti itu selalu, ” ungkapan mbak Ana seperti tidak selaras dengan pernyataan ibuku. Hal &lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;ini
sedetik menghentikan urutan-urutan logika yang kususun untuk membebaskannya
tadi. Aku terhentak, karena sepertinya ada yang keliru dari analisaku. Aku
curiga kalau aku salah &lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160;&lt;/span&gt;kalau ternyata
perceraian bukanlah hal utama yang diinginkannya saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Mbak Ana tidak menyepakati gagasan maupun menolak gagasan ibuku untuk
bercerai. Awalnya memang keinginan itu pernah diberitakan. Namun kemudian hal
itu bergerser. Dia lebih menginginkan untuk menjadi mandiri dan bekerja agar
kehidupan dengan anaknya bahagia berkecukupan. Dia ingin menjadi ibu yang
sempurna. Ada ataupun tidak ada suaminya, itu tidak menjadi soal baginya. Sebab
kehadiran suaminya tidak juga memberikan jawaban atas pilihan cita-cita
keperempuanannya sebagai ibu. Mungkin dia telah melakukan penelusuran atas semua
ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Tanpa suami yang menafkahi lahir dan batin, dia mampu menjadi mandiri untuk
memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya. Tanpa ”patuh” menjaga peran tunggalnya
sebagai perempuan domestik, mbak Ana justru menemukan keunggulannya sebagai ibu
yang mengasihi sekaligus mencukupi secara materiil. Tanpa harus mengeluhkan suaminya
yang memeluk perempuan lain, dia justru mencapai makna cinta yang sesungguhnya dengan
mendampingi putrinya yang berprestasi. Maka, tanpa memandang formalitas
pernikahan sebagai perdebatan yang biasanya dipentaskan di pengadilan agama,
dia pun sudah sanggup menyusun strategi untuk memperjuangkan haknya. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot; style=&quot;&quot;&gt;Mbak Ana seperti telah menemukan jalan
untuk meraih identitasnya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Tanpa harus mengukur dengan segala macam tetek-bengek pasal yang dimuat
dalam Undang-undang. Bahwa perempuan itu adalah ibu rumah tangga dan suami adalah
pencari nafkah. Jika tidak membentuk formulasi ini, maka tidak ideal dan perempuan
layak untuk meratapi nasib. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;



&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt;Mbak Ana mampu bangkit! Bersedia berdamai dengan situasi hingga membentuk
pola hidupnya yang berdaya.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&amp;#160; &lt;/span&gt;Mungkin
benar apa yang pernah disampaikan oleh seorang teman, bahwa memilih itu bukan
karena rasa takut tapi karena memiliki suatu tujuan yang besar. Pilihan mbak
Ana untuk kerja keras daripada bercerai secepatnya bahkan tidak akan bercerai
(dalam artian formal) sepertinya memang bukan karena rasa takut atau kekhawatiran atas apapun
yang melingkarinya. Namun lebih karena sadar akan tujuan besar yang didefinisikan
oleh dia sendiri. Kebahagiaan&lt;/span&gt;
    
    
    
&lt;/p&gt;
    
    
    
&lt;div at:enclosure=&quot;asset&quot; at:xid=&quot;6a00cd973afd264cd500fae8c0ee94000b&quot; at:format=&quot;medium&quot; at:align=&quot;right&quot;
    class=&quot;enclosure enclosure-right enclosure-medium photo-enclosure&quot; 
     style=&quot;text-align: center; float: right;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;enclosure-inner&quot;
    
        style=&quot;padding: 9px; border: 1px solid; width: px; margin: 0 0 20px 20px;&quot;
    &gt;
    &lt;div class=&quot;enclosure-list&quot;&gt;
        &lt;div class=&quot;enclosure-item photo-asset last&quot;&gt;
    
            &lt;div class=&quot;enclosure-image&quot;&gt;
        
                &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fae8c0ee94000b.html&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://a4.vox.com/6a00cd973afd264cd500fae8c0ee94000b-200pi&quot; alt=&quot;Korean-bathroom-sign&quot; title=&quot;Korean-bathroom-sign&quot; /&gt;&lt;/a&gt;
        
            &lt;/div&gt;
            &lt;div class=&quot;enclosure-meta&quot;&gt;
                &lt;div class=&quot;enclosure-asset-name&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/photo/6a00cd973afd264cd500fae8c0ee94000b.html&quot; title=&quot;Korean-bathroom-sign&quot;&gt;Korean-bathroom-sign&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
            &lt;/div&gt;
    
        &lt;/div&gt;
    &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;!-- end enclosure --&gt;

&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot; style=&quot;&quot;&gt; sebagai perempuan telah lahir dari imajinasi
dan nuraninya sendiri sebagai subjek. Tanpa perlu ada ukuran-ukuran lain yang
mengintervensi untuk dibandingkan. Termasuk intepretasiku tentang ”korban” yang
sempat bersarang dalam rasionalitasku tadi. Ah, aku tersenyum sekarang....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

     &lt;p style=&quot;clear:both;&quot;&gt; 
    &lt;a href=&quot;http://puan.vox.com/library/post/mbak-ana-mampu-bangkit.html?_c=feed-rss-full#comments&quot;&gt;Read and post comments&lt;/a&gt;   |   
    &lt;a href=&quot;http://www.vox.com/share/6a00cd973afd264cd500fa967cfe660003?_c=feed-rss-full&quot;&gt;Send to a friend&lt;/a&gt; 
&lt;/p&gt;
 
            </description>    
        </item> 
    </channel>
</rss>

